Beberapa waktu yang lalu, ibu saya mengomel sepulang dari berbelanja. Bukan soal kenaikan harga bahan pokok atau jumlah kembalian yang kurang seperti biasanya, ibu saya itu mengomel, apalagi tersebab kecopetan. Ih, amit-amit.

Sepele saja sebenarnya. Ibu saya sedang mengeluhkan kebijakan baru yang mengharuskan konsumen membayar penggunaan kantung plastik di supermarket. Lha, salah kabeh to dugaanmu?

Menurut ibu saya, kebijakan baru itu tidak bisa diterima akal sehat. Beliau kemudian membuat sebuah daftar panjang mengenai alasan-alasannya. Mulai dari kalkulasi njlimet ala emak-emak tentang harga kantung plastik yang ‘tidak seberapa’ dibanding keuntungan yang diperoleh toko; Jokowi yang nggak becus ngurus negara dan akhirnya ngurusin kantung plastik (kenek maneh po ra kowe, Pakdhe?); hingga ketidaknyamanan konsumen yang tidak mau kehilangan recehannya dan terpaksa membawa sendiri wadah untuk berbelanja. Catat poin terakhir ini. Konsumen tidak nyaman karena harus membawa sendiri wadah untuk berbelanja!

Ketika saya masih kanak-kanak, ibu sering bercerita tentang masa kecilnya di Blitar. Setiap pagi beliau pergi ke kebun yang terletak hampir di bibir Sungai Brantas untuk memetik kangkung, daun ubi jalar, atau batang lompong. Sayur-sayuran yang kemudian akan dimasak untuk seluruh anggota keluarga besarnya. Dengan apa ibu saya membawa sayur-sayuran tadi? Perhatikan! Rinjing. Bagi yang belum tahu, rinjing ini adalah sebentuk keranjang yang terbuat dari bambu. Tanya Google saja deh, daripada saya harus mendeskripsikan benda ini dan memenuhi halaman.

Sepertinya ibu saya lupa, bahwa dulu sekali beliau memulai hari dengan membawa wadah sendiri untuk berbelanja. Ya, betul. Ibu saya berbelanja. Terjadi proses jual beli. Sayur-sayuran itu menjual bagian tubuhnya, dan ibu saya membelinya dengan keringat siapapun yang mengucur ketika menanam dan memelihara sayur-sayuran itu.

Mungkin ibu juga lupa, dulu waktu kami masih memasak dengan luweng dan kompor minyak tanah, beliau kerap kali menugasi saya atau adik saya membeli minyak tanah. Minyak itu tidak pernah kami bawa dengan kantung plastik, tetapi jerigen besar berwarna hijau yang sampai sekarang masih nangkring dengan manis di pojok dapur.

Kalau dulu ibu saya nyaman-nyaman saja menggendong rinjingnya, dan kami juga tidak berkeberatan dengan jerigen hijau besar itu, lantas kenapa sekarang harus mengeluh untuk membawa wadah sendiri dari rumah? Setelah saya pikir-pikir, mungkin ibu saya telah terbiasa dengan pola berbelanjanya selama ini. Berangkat bawa dompet, pulang bawa belanjaan dalam kantung plastik.

Memang tidak mudah menyesuaikan diri dengan perubahan sesuatu. Apalagi kalau kita sudah terbiasa dengan satu hal itu. Mas Dodik yang akrab dengan gadget, kalau harus jauh dari handphone sehari saja, pasti tidak jenak. Pak Pemred yang terbiasa ngudud kalau berhenti me-ngebul, mungkin akan linglung. Ya, to?

Ini sudah sunatullah. Bahkan Sir Newton yang masyhur itu sudah memfatwakan dalam hukum pertama Newton. Benda yang diam cenderung mempertahankan posisi diamnya. Benda yang bergerak juga cenderung mempertahankan kecepatan dan arah geraknya. Jadi, kalau ada yang menyalahkan orang yang tidak nyaman dengan perubahan, itu berarti dolanmu kurang adoh, kopimu kurang pait, dan sambelmu kurang pedes.

Lha terus, perubahan yang membuat tidak nyaman itu enaknya diapain? Ditiadakan saja? Waduh! Kalau ada yang bertanya seperti ini, saya harus bilang, sampeyan pasti kurang gizi! Perubahan itu juga sunatullah. Dan Newton juga merangkumnya dalam hukum pertamanya. Benda diam maupun bergerak cenderung mempertahankan kedudukannya, dengan catatan, resultan gayanya nol. Jadi, kalau ada gaya yang bekerja, ada stimulus, ada aksi, pasti ada reaksi. Ini namanya hukum aksi reaksi. Hukum Newton yang ketiga. Tapi hari ini kita tidak akan belajar Fisika. Kita sedang bicara tentang ibu saya, kantung plastik, dan perubahan.

Cepat atau lambat, perubahan itu akan terjadi. Entah jadi lebih baik, atau lebih buruk. Dulu ibu saya terbiasa membawa rinjing. Setelah marak penggunaan kantung plastik, yang pastinya lebih ringan daripada rinjing, ibu saya juga kemudian terbiasa menggunakannya. Kalau dulu kami memasak menggunakan kayu dan minyak tanah, sekarang kami tinggal ceklak.. ceklek… menyalakan kompor gas. Kalau dulu saya ke mana-mana naik sepeda, sekarang saya wira-wiri naik motor matic. Gaya, kan? Keren, kan? Kekinian, kan? Begitulah.

Nah, lihat itu. Ada pola yang bisa kita lihat. Kita hampir selalu memilih sesuatu yang membuat hidup kita menjadi lebih mudah. Kemudahan ini merayu, meninabobokan, melenakan kita. Sampai kemudian kemudahan-kemudahan ini menjadi bagian dari kehidupan kita. Bahkan ketika kemudian banyak nilai-nilai yang tergeser, kita bersikap permisif.

Menggunakan kantung plastik secara terstruktur, sistematis, dan masif, itu sebenarnya menggeser akar kita sebagai keturunan bangsa agraris. Tidakkah seharusnya kita lebih peduli pada tanah tempat kita berpijak atau air yang kita nikmati kesegaran dan alirannya? Kantung-kantung plastik itu mengganggu keseimbangan alam. Dan semakin sering pun semakin banyak kita menggunakannya, semakin kita menimbun polutan berbahaya yang akan kita tuai juga akibatnya suatu saat kelak.

Itu baru satu hal. Hayo, siapa yang biasa naik sepeda motor kenceng-kenceng di gang kecil padat penduduk? Wang weng wang weng, ngalor ngidul, opo rumangsamu kuwi dalane mbahmu? Dulu, mana bisa kita naik sepeda atau jalan kaki atau naik dokar dan ber-wang-weng semaunya? Ngimpi. Bisa-bisa kita dijejali susur oleh mbah-mbah yang demen nginang sambil cangkruk di pelataran, “Hih! Wahakno howe, hokkah wa kekko!” (baca: Hih! Rasakno kowe, bocah ra cetho!).

Jalan raya itu milik umum, dan yang tidak punya kemauan maupun kemampuan ngebut di jalanan juga berhak menikmati kenyamanan serta keamanan. Tidak ada yang melarang siapapun naik sepeda motor atau mobil. Toh alat transportasi ini memang kita butuhkan. Tapi mungkin kita perlu belajar berkendara dengan lebih baik. Jadi, plis, deh. Kalau mau ngebut, ke Sentul saja sana. Siapa tahu kalian bisa jadi saingannya Rio Haryanto.

Dan lihat ini. Apa yang kita lakukan sekarang? Saya menulis ini. Sementara kamu kamu.. dan kamu… (tunjuk satu-satu), membacanya. Ini adalah berkah teknologi informasi. Tidak hanya memperoleh informasi lebih cepat, kita juga bisa terhubung dengan lebih banyak orang, juga lebih jauh. Dan begitu nyaman dengan fasilitas ini, beberapa dari kita jadi lupa bertandang ke rumah tetangga, kerabat, ataupun teman. Kalaupun bertemu, berkumpul, masing-masing asyik sendiri dengan gadget-nya.

Mungkinkah suatu saat nanti, ibu-ibu seperti saya akan memanggil anak-anaknya untuk makan lewat SMS, inbox Facebook, Line, Whatsapp, BBM, atau Skype? Sebagian dari kita juga merasa cukup dengan pengetahuan yang bisa kita peroleh tiap saat dari hasil googling, kemudian mengecilkan fungsi pendidikan formal, buku, guru, dan sumber belajar yang lain. Jangan dianggap kalau ini serangan terhadap pengguna media sosial dan internet. Saya juga menggunakan media sosial dan internet secara aktif. Jadi ngapain saya menyerang diri saya sendiri?

Yah, jadi sebenarnya, ocehan panjang saya ini bukan tentang kantung plastik semata. Tapi tentang nilai-nilai moral (baca: kearifan lokal) yang seharusnya kita warisi dari budaya adiluhung nenek moyang. Warisan ini dengan sukarela kita geser demi kemudahan yang ditawarkan atas nama modernisasi. Dunia memang akan terus berkembang, manusia juga. Tapi tidak berarti kita harus hanyut begitu saja dalam arusnya. Kalau kita berada di laut lepas dengan gelombang yang tidak bisa diprediksi, manakah yang akan kita lakukan: membiarkan badan kita hanyut terombang ambing gelombang, atau mencari sebentuk papan atau pelampung untuk berpegangan?

Modernisasi itu perlu, globalisasi tidak akan terbendung, peradaban akan terus berjalan, itu adalah berkah kreativitas manusia. Tapi jangan lupa, ada alam yang harus kita jaga, ada sesama manusia yang harus kita srawungi, ada anak cucu yang harus kita warisi. Yakinkan bahwa warisan itu sesuatu yang bermanfaat. Ayo berubah menjadi lebih baik, tapi jangan lupa dengan tanggung jawab kita terhadap sesama manusia dan alam.

Ngomong-ngomong, dari tadi saya juga menyalahi adat. Nyatut-nyatut ibu saya, Mas Dodik, dan Pak Pemred. Widiihhh!!!! Saya kabur dulu, deh. Kalau mereka muncul, tolong bilangin kalau saya sudah pindah ke Hongkong.