Dempul, Kuliner Tradisional yang Tetap Laris di Prambon

Pada satu pagi di hari ketiga Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, yang dilaksanakan di Desa Prambon, Tugu, sembari menunggu sarapan matang, kami beranjak pergi ke pasar. Pasar tersebut berada dekat posko kami yang terletak di Dukuh Gebang, Dusun Pakel. Setiap selesai subuh, banyak pedagang menata dagangannya di pasar. Pasar dusun tersebut buka setiap pagi. Ini berbeda dengan pasar di Dusun Krajan dan Dusun Sooko, yang hanya buka di hari-hari tertentu.

Ketika memilih makanan yang akan dijadikan sebagai pengganjal perut, sambil menunggu sarapan matang, kami menemukan sebuah kudapan yang mungkin memiliki nama yang terdengar asing. Terutama bagi teman-teman yang berasal dari luar Desa Prambon. Makanan tersebut bernama dempul. Ketika hendak menjelaskan makanan tersebut, kami sempat beradu argumen perihal pengertian dempul.

“Dempul kui lek neng mahku artine wedak”, ujar salah seorang anggota KKN berasal dari Tulungagung.

Menurut teman tersebut, kata dempul berarti bedak. Sedang di Prambon dempul diartikan sebagai makanan yang terbuat dari tempe dan digoreng dengan tepung gaplek. Tak sedikit yang mengira dempul adalah tempe goreng. Namun, tempe goreng yang sering kita jumpai di warung-warung, dijajarkan dengan dempul yang dijual di Prambon, tampak berbeda. Dempul adalah makanan tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu. Perbedaan dempul dengan tempe goreng terletak pada bahan dan bumbu yang digunakan. Meski sama-sama digoreng, dempul menggunakan tepung gaplek, sedang tempe goreng yang sering kita jumpai di warung-warung, menggunakan tepung serbaguna.

Gaplek merupakan singkong yang dikeringkan. Jadi tepung gaplek adalah singkong yang dikeringkan kemudian dihaluskan. Perbedaan selanjutnya terletak pada tekstur keduanya. Tempe goreng biasa sangat mudah digigit atau dikunyah, sedang dempul memiliki tekstur lebih keras dan kenyal, sehingga agak sulit dikunyah. Meski memiliki tingkat kesulitan untuk digigit dan dikunyah, dempul dengan teksturnya yang seperti itu, amat digemari masyarakat. Tidak hanya orangtua, dempul juga digemari segala usia.

Dempul ini biasanya juga memiliki dua varian, yaitu dempul teri dan dempul tempe. Keduanya tetap menggunakan tepung gaplek. Makanan ini biasanya dijual dan mudah ditemukan di pasar pagi hari. Makanan ini cocok disantap dengan nasi yang masih hangat, digunakan sebagai lauk, maupun hanya dimakan sebagai cemilan. Dempul memiliki cita rasa gurih, sangat cocok dipadukan dengan makanan hangat.

Salah satu penjual dempul menerangkan bahwa dirinya mulai menggoreng dempul sejak jam 12 malam. Kami sedikit terkejut mendengar itu. Pasalnya, jam 12 malam adalah waktunya kami tidur. Penjual dempul itu malah memulai harinya untuk melakukan kerja menggoreng tengah malam. Oleh karena itu, dempul selalu tersedia di pasar ketika pagi hari. Penjual tersebut tidak hanya menjual dempul tetapi juga jenis gorengan lain, seperti bakwan dan weci.

Di tengah maraknya makanan instan ataupun olahan makanan lain seperti cireng, dempul tetap eksis di tengah masyarakat Desa Prambon. Meski meniliki nama yang terdengar asing dan unik, makanan yang sudah ada sejak dulu ini tetap digemari oleh masyarakat Desa Prambon.

Ditulis Oleh Rosa Nurlaela Rahmawati

Artikel Baru

Artikel Terkait