Di lorong jalan dekat toilet umum Pasar Pon Trenggalek, terdapat pohon kantil besar. Pohon tersebut menghasilkan bunga kantil atau bunga cempaka putih. Warnanya putih dan baunya harum. Lokasi toilet ini dekat pintu masuk sebelah selatan, juga bersebelahan dengan musala.
Saya pernah memanjat pohon tersebut untuk mencari bunga kantil yang belum mekar alias masih kuncup. Namun tidak untuk mengaitkan itu dengan hal-hal mistis, misal pelet, tetapi hanya untuk menghirup bau harumnya. Entah kenapa saya suka aroma bunga kantil.
Bunga kantil itu sulit ditemui di alam terbuka, yang mudah, dengan membelinya. Seingat saya ada penjual bunga khusus (bunga sekaran) di Pasar Pon yang juga menjual kantil. Namun untuk sekadar bisa mencium harumnya, kita harus beli dulu, sebab si penjual tidak akan mengizinkan sembarang orang bebas menghirup aroma kantil dagangan tersebut.
“Ojo diambungi, Mas, mengko karismanya hilang,” ucap penjual bunga kantil tersebut setelah mendapati aku mencium bunga jualannya. Kejadian itu akhirnya membuatku membeli bunga kantil. Bonusnya, saya bisa bertanya-tanya tentang maksud karisma.
Area toilet umum, musala, dan pohon kantil kebetulan dijaga oleh Pakde istriku. Sambil menunggu, Pakde juga ditemani istrinya yang punya kios aneka tas dan pakaian serta menyediakan kebutuhan seragam anak-anak sekolah. Pakde menikmati profesinya, selama belasan tahun.
Kalau kita masuk Pasar Pon dari arah utara, tepat di lorong masuk sebelah kiri, terdapat penjual soto. Aku dan istri punya kenangan indah di sana meski termasuk dosa. Di bulan puasa, saya pernah mokel dengan istri di warung tersebut karena tidak kuat menahan aroma soto, bersama penjual pasar, tukang becak, dan penghuni lainnya. Memang iman kami tergolong cetek.
Dulu waktu nganggur cuti, aku suka menemani istri belanja di pasar, kadang di Pasar Pon kadang di Pasar Rejowinangun (Pasar Ngampon). Aku memang suka mengamati perihal orang-orang beraktivitas mencari rejeki di pasar. Dari sana pula aku memahami bagaimana ekosistem itu bekerja secara otomatis dan berkesinambungan.
Pasar tradisional kebanyakan, mula-mula adalah aktivitas segelintir orang berdagang, mungkin awalnya hanya satu dua orang saja yang mencoba peruntungan. Namun karena lama-kelamaan ramai pembeli, memantik orang lain untuk turut berdagang. Konsistensi ini kemudian membentuk ekosistem pasar. Lantas kemudian dibangun bangunan pasar, itu imbas dari ekosistem yang sudah terbentuk, wujud fasilitas dari pemerintah kepada masyarakat.
Sehingga pasar merupakan tempat yang telah disepakati secara alami untuk menjual dan membeli barang atau jasa. Interaksi inilah yang kemudian membentuk hukum tawar-menawar untuk mencapai kesepakatan harga. Kesepakatan ini membuahkan patokan harga. Namun, tidak semua barang yang dicari di pasar tersedia, oleh karenanya muncul istilah meling, yakni memesan barang yang tiada. Lama kelamaan barang di pasar menjadi semakin komplek. Dari sana muncul hukum permintaan dan penawaran (supply and demand).
Maka jika kita bicara tentang ekosistem, salah satu yang mudah untuk mengimajinasikan adalah melalui pasar tradisional itu tadi. Suatu sistem yang alami, komplek, dan humanisme. Maka sesuatu yang alami itu tidak semerta-merta berhasil jika diubah begitu saja dengan konsep kekinian, meski hanya mengubah bangunan menjadi ala-ala Eropa.
Ludesnya Klangenan Masyarakat di Pasar Pon
Pasca kebakaran hebat melanda Pasar Pon tanggal 25 Agustus 2018 silam, dibangunlah pasar megah dengan mengusung gaya arsitektur klasik Victorian Eropa. Dibangun sepanjang tahun 2020 antara bulan Januari–Desember. Percayalah, tidak ada bangunan serupa di Trenggalek yang seperti itu.
Klangenan akan kenangan di Pasar Pon ludes seketika. Semua orang yang pernah terhubung dengannya hanya bisa mengenang ingatan masa lampau yang lama kelamaan pudar dimakan usia. Pohon kantil, warung soto, lorong gelap nan pengap, aroma pasar yang bercampur aduk, keringat tukang becak dan tukang jasa angkut yang mangkal di depan gerbang, sirna oleh sebab pembangunan. Itulah yang disebut dengan disrupsi atau perubahan besar-besaran.
Toh, konsep yang diyakini penguasa kala itu bakal membawa kemakmuran bagi pedagang dan kemudahan bagi pembeli ternyata tidak kunjung terbukti. Aku menduga masih ada konektivitas yang terputus sehingga mengganggu kealamian pasar tradisional. Kita sudah membahasnya di atas bahwa pasar adalah ekosistem, harus ada permintaan dan penawaran (meling), harus ada barang yang mudah dicari dalam satu tempat, ada kerumunan orang banyak meski tidak menjual atau membeli, dan harus ada ingatan yang diperjuangkan.
Mengusung pasar bersih nan megah memang positif, tetapi orang Trenggalek mafhum soal kebersihan pasar, sudah paham. Terlebih ada harapan tinggi kalau mencari apa saja harusnya di satu tempat. Butuh ikan, bumbon, sayur, seragam sekolah, tas anak, sepatu riker, baju kondangan, sempak, kotang, bahkan apem serta cenil lebih mudah dalam satu tempat.
Oleh karena itu, belum terlambat apabila mengkaji kembali Pasar Pon dari sisi antropologis, sesuai ucapan Plt. Bupati Trenggalek 2018 lalu yang ingin membangun Pasar Pon dengan konsep modern tanpa meninggalkan karakter Trenggalek. Katanya begini:
“Khusus lantai dua, dialokasikan untuk pedagang daging dan ikan. Komoditas beraroma menyengat tersebut sengaja ditempatkan di bagian atas agar tak mengundang lalat. Lalat itu kan tidak bisa di ketinggian tertentu. Makanya yang basah-basah itu ditaruh atas,” kata Arifin kepada Kompas (13/4/2018).


