Dari seorang kawan, sekira sepekan lalu, saya mendapat kabar bahwa di Trenggalek sudah ada komunitas pecinta bambu. Sungguh, ini kabar yang menggembirakan. Pelan tetapi pasti, bambu dengan segala aspek turunannya mulai terpinggirkan dari Trenggalek, mungkin juga dari sebagian besar wilayah Nusantara.

Bambu sering dipandang sebagai tumbuhan yang hanya ngebak-baki lahan, kurang produktif, sehingga kini kita dapat melihat bambu terusir dari wilayah yang dahulu bahkan, biasa jadi semacam perdikan-nya: pinggiran kali (sungai) termasuk kalen. Dahulu, beberapa jenis bambu seperti ampel dan rampal tidak hanya tumbuh di pinggir kali, tetapi juga di sudut-sudut kebonan.

Masyarakat memanfaatkan bambu untuk dijadikan aneka macam barang kebutuhan rumah tangga: encek, tompo, krembu, tenong, tampah, ilir, dan lain-lain. Bagian-bagian tertentu dari struktur bangunan rumah seperti reng dan usuk juga sering dibuat dari bambu.

Belakangan, banyak produk kerajinan dan barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti entong, sendok, juga dibuat dari bamboo. Ironisnya, diversifikasi produk dari bambu itu tampaknya tak mampu mengimbangi rongrongan bahan pesaingnya: plastik. Sedangkan kita pasti tahu, pertarungan antara perkakas tradisional melawan perkakas berbahan plastik itu kini seperti timun mungsuh duren.

Jika tidak salah, bambu juga berada di urutan pertama sebagai tanaman paling ampuh untuk menghadapi pemanasan global. Di samping itu, rebungnya juga bisa jadi sumber bahan pangan dengan kandungan nutrisi yang aduhai. Ironisnya lagi, lihatlah gerai supermarket di kota-kota, dan temukanlah rebung siap masak dalam kemasan yang masuk ke Indonesia dari Malaysia atau China. Sepertinya juga hanya persoalan waktu saja, pasar modern di Trenggalek akan tumbuh bersama: rebung, buah ciplukan, dan bahkan daun singkong impor! Dan kita akan pasrah bongkokan pada situasi paling semelekethe itu?

Jika kita tak rela menjadi bulan-bulanan pasar bebas, sesungguhnya Trenggalek memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu wilayah konservasi bambu. Lagi-lagi, kawasan hutan yang memiliki banyak alur sungai besar maupun kecil (kali dan kalen) adalah lahan paling cocok untuk menanam berbagai varietas bambu, dari jenis yang dapat diambil rebungnya maupun yang potensial menghasilkan batang sebagai bahan produksi barang-barang kerajinan maupun untuk bahan pokok maupun bahan penunjang bangunan.

Di bidang penyelamatan dan pengembangan industri kerajinan berbahan bambu, sekarang ini bisa jadi adalah kesempatan terakhir yang dapat diambil atau dilewatkan. Saya punya tetangga yang sudah cukup tua (di atas 60 tahun), yang masih memiliki keterampilan menganyam bambu, dan masih dapat dimintai bantuan untuk membuatkan gedheg (anyaman bambu untuk dinding sederhana).

Ada juga orang-orang seperti itu—yang sudah berada di ambang senja—pernah menekuni keterampilan anyam bambu untuk berbagai produk kebutuhan rumah tangga seperti yang saya sebut di bagian awal tulisan ini. Sekarang kita masih punya narasumber untuk belajar langsung. Tentu, kesempatan yang makin hari makin menipis sebelum pada akhirnya hilang samasekali.

Jika Pemerintah (Kabupaten Trenggalek) bisa melihat peluang ini, sepertinya tidak ada hal yang memberatkan. Komunitas masyarakat pecinta bambu-nya sudah ada. Narasumber lokal masih ada. Ini dapat ditambah dengan program pengiriman pemuda potensial untuk belajar lebih banyak mengenai perbambuan ke Jogja dan/atau Bandung. Selalu terbuka kesempatan untuk siapa pun yang ingin mengikuti pelatihan di bidang perbambuan, dari soal teknik pemuliaan hingga arsitektur bambu. Lahan untuk program konservasi bamboo juga ada, tinggal menegosiasikan dengan Perhutani.

Lalu, pada satu saat nanti kita dapat melihat hutan (konservasi) bambu di Dongko, Pule, Bendungan, atau di bagian Trenggalek mana pun, yang makin hari akan mengundang makin banyak orang untuk datang melihat, meneliti, berkemah. Kita pun dapat menawarkan paket wisata perbambuan dari paket kesejukan hutan bambu hingga pasar seni kerajinan bambu.

Setelah mendukung industri berskala rumahan, industri pengolahan bambu pun dapat dikembangkan di Trenggalek, meliputi pengawetan, dan pembuatan panel-panel untuk lantai dan lain-lain, termasuk untuk merebut pasar ekspor dengan melakukan pengadaan mesin-mesin yang memadai.

Pendek kata, suatu hari nanti mestinya orang tak akan melewatkan untuk menyebut Trenggalek ketika berbicara mengenai bambu, seperti kini orang tak bisa melewatkan menyebut Bandung dan Yogyakarta.

Itulah salah satu proyek yang dapat dilakukan oleh Trenggalek. Dan jangan kabarkan kepada saya bahwa yang lebih penting dan patut segera dilakukan adalah mendapatkan sertifikat dari MURI untuk nasi gegog paling gegog sedunia!

BERBAGI
Bonari Nabonenar

Lahir di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (1964), menulis dengan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Ikut menyunting tabloid berbahasa Jawa bagi remaja Bro dan Majalah Peduli yang diterbitkan untuk komunitas pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong. Dapat dihubungi melalui: nabonenar@gmail.com