sastra-trenggalek-

Suatu hari Beni Setia mengirim sebuah tulisan yang tampaknya hendak dikirimkan ke media cetak –sayangnya hingga kini tak saya ketahui dimuat di mana. Saya kira, ia merasa perlu mengirimkan tulisan itu kepada saya karena ia merasakan kegelisahan yang lebih-kurang sama dengan kawan-kawan penggiat sastra Jawa. Menarik, karena Beni lahir dan besar di dalam kultur Sunda kemudian menikah dengan gadis Jawa yang menariknya dari Bumi Parahyangan ke Caruban, sebuah kota kecil di pinggiran Madiun. Sebagai orang ’’jawa baru’’, saya tahu Beni jauh lebih vokal daripada kebanyakan kami yang ’’jawa deles’’ yang harus diakui bahwa sebagian besar masih bersikap nrima. Terlalu nrima.

Cobalah perhatikan salah satu penggalan dari tulisan Beni ini: ’’Kenapa tak ada orang Jawa yang merasa terpanggil untuk nguri-nguri bahasa dan sastra Jawa dengan memberi dana dan kepercayaan yang sama (seperti yang dilakukan Orang Sunda kepada majalah mereka, Bon) pada PS atau JB (maksudnya Panjebar Semangat atau Jaya Baya, dua majalah berbahasa Jawa yang terbit di Surabaya, Bon), misalnya? Apa komunitas Jawa yang mayoritas penduduk Indonesia itu tak menghasilkan manusia berbudaya yang tertarik untuk mendinamisasi sastra Jawa dengan Hadiah Bulanan? Kenapa Bengkel Muda bisa masuk jadi pos anggaran APBD, mengalahkan DKS yang formal top-down building, tapi PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, Bon) tidak –padahal institusi ini strategik memberi hadiah tahunan yang mendinamisasi kreativitas sastrawan muda Jawa–?’’

Memangnya sehebat apa para pengarang/penyair atau sastrawan Jawa itu hingga perlu diberi hadiah? Apakah urusannya kalau sastrawan muda bermunculan, produktif/kreatif, atau mampet? Bukankah tidak ada wawancara rekruitmen karyawan yang men-syarat-kan kemampuan berbahasa Jawa kecuali satu-dua untuk penyiar radio/televisi lokal? Bukankah, pun ketika Pemerintah Daerah menganjurkan atau bahkan mewajibkan pengalokasian waktu untuk pelajaran bahasa Jawa dari SD hingga SMP, banyak yang diam-diam menggantinya dengan pelajaran bahasa asing, terutama bahasa-bahasa milik negara yang potensial kita disetori TKI?

Siapa pula yang peduli seandainya Jaya Baya dan Panjebar Semangat itu kukut? Jika pertanyaan itu diperjelas arahnya: Apakah yangg sudah dilakukan Pemerintah Kota Surabaya maupun Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur untuk dua buah monumen kebudayaan Jawa yang kebetulan ada di tengah-tengah hiruk Kota Surabaya itu? Pernah, Ketika menjadi Ketua Umum DK-Jatim, Prof DR Setya Yuwana Sudikan mengemukakan gagasan untuk menyubsidi para penulis Jawa.

Caranya, memberikan bantuan dana kepada redaksi agar honor sebuah tulisan majalah berbahasa Jawa tidak hanya seperlima atau bahkan sepersepuluh honor tulisan berbahasa Indonesia. Tidak perlu tahu berapa tiras masing-masing, dengan perbandingan itu kita tahu betapa ’kurus’-nya mereka. Jangankan meng-online-kan diri melalui situs berbayar, mengongkosi pemeliharaan di situs gratisan pun tampaknya mereka tidak mampu. Hingga saat ini subsidi bagi penulis Jawa itu masih saja berhenti sebagai gagasan. Para penulis/sastrawan Jawa sering menjadi penting hanya ketika ada penelitian.

Kini saatnya penulis/sastrawan Jawa berkonsolidasi. Bukan untuk mendirikan partai politik baru, tentu. Tetapi, untuk menyadari peran apa yang bisa diambil untuk tidak menjadi penggerutu. Sebelum ini, kalau kita mau memunguti, ada puluhan bahkan ratusan pernyataan yang menyayangkan sikap ’menangisi’ keberadaan sastra Jawa. Ini bukan saatnya berkeluh kesah. Bukan saatnya menggerutu. Apalagi menangis. Kita boleh marah, asalkan tahu persis bahwa kita layak marah. Tetapi, itu nanti.

Kini, mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan (provokatif banget, ya?). Apa saja yang bisa kita lakukan sekarang? Festival Sastra Jawa (dan Desa) yang hendak digelar di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek 17 – 18 Juni 2009 diupayakan untuk menjadi langkah awal bagi para ’pembela’ sastra Jawa yang tak mau lagi hanya menggerutu, berkeluh-kesah, dan menangis. Juga, sekaligus menjadi ajang konsolidasi, dan bukan hanya sekadar agenda kangen-kangenan.

Kelak, kalau para pembela sastra Jawa sudah benar-benar solid, apa yang diharapkan Panitia Festival Sastra Jawa 2009 ini: ’’Dalam rangka membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, Festival Sastra Jawa bisa dijadikan agenda tahunan, sebagai upaya untuk menuju forum silaturahmi budaya yang lebih besar (berskala nasional) yang kelak bisa dinamakan Festival Sastra Etnik Nusantara,’’ pastilah tak akan hanya tinggal sebagai mimpi. (2009)

BERBAGI
Bonari Nabonenar
Lahir di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (1964), menulis dengan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Ikut menyunting tabloid berbahasa Jawa bagi remaja Bro dan Majalah Peduli yang diterbitkan untuk komunitas pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong. Dapat dihubungi melalui: [email protected]