Ilustrasi kebun kopi di dukuh kebon |foto pixbay

Rinai hujan sore itu membasahi jalan(an) dan pelataran rumah. Hujan disambut sorak sorai dan gegap gempita suara anak-anak beserta orang dewasa. Sorak menyerukan padamnya lampu selepas berbuka puasa dan shalat Maghrib. Pemadaman lampu tak mengurangi orang-orang pedesaan untuk berkunjung ke rumah sanak famili dan tetangga, untuk sanja karena jarak antarrumah tak begitu jauh.

Alih-alih tenggelam dalam kegelapan malam, keluarga kami (berlima) saat itu pun, turut bercanda ria di teras rumah. Diterangi nyala lampu minyak dari barang perkakas (dimar, ublik). Kami ngobrol dan bercerita ngalor-ngidul tak berujung-pangkal. Sesekali cengengesan dan saling mengeluarkan unek-unek bergantian. Intinya, obrolan malam itu, agar tak tertikam oleh sepi dan sunyi akibat pemadaman. Kerlip kunang-kunang beterbangan di atas tanaman dan kepala. Kata orang, kunang-kunang jelmaan kuku orang mati. Hingga sampailah lanturan kami di “ujung” cerita klimak dan (yang bagi saya) penting, tentang “napak tilas” penamaan Dukuh Kebon, salah satu pedukuhan di desa kami.

Sebenarnya, sore itu, kami sedang larut dalam aktivitas pitil cengkeh. Tetapi karena suasana temaram efek mati lampu disertai rintik-rintik hujan, kerja tangan kami untuk memisahkan cengkih dari gagangnya terganggu. Aktivitas ngobrol pun menemani kami ngelantur, hingga sampai cerita Dukuh Kebon dan tanaman kopinya, yang dahulu pernah berjaya di dukuhan tempat tinggal kami, yakni Dukuh Kebon, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo.

Bersama adik-adik, paklek dan bulek, saya kisahkan tentang penamaan Kebon, yang dulu “pernah” moncer dari pintu ke pintu, dan dari  mulut ke mulut penduduk desa. Nama kampung itu barangkali sudah dilupakan oleh generasi sekarang. Cerita itu, sampai hari ini hampir tak lagi terdengar, semenjak generasi tua semakin berkurang alias banyak yang meninggal. Bila generasi kita ke depan tak mendapatkan cerita tentang riwayat kampung halamannya sendiri, maka kepada siapa kita akan menemukan kisah yang dahulu pernah mengisi cerita orang tua, kepada anak cucuknya itu. Sementara, kisah di tanah kelahiran tak boleh usang oleh timbunan sejarah. Apalagi sampai tak dianggap penting oleh generasi selanjutnya. Oleh karena, saya menulis ini sebagai kerja mendokumentasikan supaya tidak hilang.

Kisah yang diceritakan dari mulut ke mulut akan hilang menguap, jika tidak ditangkap atau diikat dengan tulisan, begitu kata orang bijak. Hal demikian menjadi sebuah tantangan menuliskan cerita, yang dahulu pernah menghiasi pitutur wong tua kepada anak-cucu. Karena itu, cerita paklik—yang kebetulan dari kisah wong tua-nya dahulu—berusaha saya salin. Menuliskannya meski minim informasi. Cerita ini memang mengusik untuk saya tulis meski informasi itu saya dapat dari orang kedua: paklik.

***

Di Dukuh Kebon, tempat saya dibesarkan ini saya mendermakan diri sebagai sosok muda lajang, yang haus akan cerita-cerita zaman doeloe, yang kadang diceritakan bersama dongeng pengantar tidur. Kisah-kisah orang dahulu selalu menarik dan seru didengar, apalagi bisa ditulis ulang untuk diawetkan.

Di Tasikmadu ada banyak dukuhan yang menghiasi desa itu, di antaranya Tawang, Tawang Kulon, Peden, Kampung Baru (Alas Kidul), Tambakan, Tenggong, Kebon, Nduren, Nglegok, Gares, Jumblengan, Karanggoso, dll.[1] Sementara, secara etimologi, Tasikmadu merujuk pada sebuah kata Tasik dan Madu. “Tasik artinya segara/laut, sedangkan Madu adalah manis.” Kata Nur Widyanto, “Sebagai tempat mencari rezeki dan diyakini bisa membawa kemakmuran bagi warganya.” Di sisi lain, Dukuh Kebon terletak di tengah kota Desa Tasikmadu. Sebelah selatan Dukuh Nduren; sebelah Timur Nggelok; sebelah Barat Dukuh Nggares; dan sebelah utara dukuh Tambakan dan Peden.

Mengenai cerita, sejarah dan riwayat penamaan kampung atau dukuh(an) di desa, terutama di Desa Tasikmadu tidak banyak tahu. Dahulu, di Desa Tasikmadu, tepatnya di Dukuh Kebon, banyak ditanami berbagai macam tanaman kopi. Kopi menjadi tanaman yang paling banyak ditanam di kebun, pelataran rumah dan hutan oleh masyarakat sekitar. “Kopi dijadikan salah satu tanaman unggulan karena mudah ditanam, lagi pemeliharaan serta panennya juga mudah. Dan, kopi—sebelum digusur oleh kedigdayaan tanaman cengkih—pernah menjadi tumbuhan subur dan cocok di cuaca lembab, dengan usia panjang dan tidak mudah mati,” papar Kabul di tengah keremangan sinar lentera.

Menurut cerita, banyak sekali penduduk yang memiliki lahan luas, berhektar-hektar. Mereka, yang memiliki banyak lahan atau tanah, akrab kita panggil “toean tanah”. Biasanya “toean tanah” mempekerjakan orang-orang untuk mengolah tanah dengan  tanaman kopi. Kopi menjadi primadona pada masanya, antara lain di Dukuh Kebon. Barangkali ini adalah dampak dari kebijakan Bupati Soetran tahun 1968-1970, mengembalikan lahan gundul untuk dihijaukan. Ditanami segala macam tumbuhan, termasuk tanaman kopi.

Meski dari sejarah vegetatifnya, kopi lahir di Afrika. Dan tidak butuh riset jlimet dan khusus untuk memastikan atau memperoleh data, bahwa di Dukuh Kebon dahulu banyak tumbuhan kopinya. Yang jelas, saya mengetahui bahwa dahulu banyak tumbuhan kopi contohnya di depan rumah nenek, yang dahulu pernah saya panjat. Dengan pohon-pohon kopi itu rumah semakin sejuk dan rindang. Tetapi, sekarang tanaman kopi di depan rumah sudah lenyap oleh bangunan rumah, yang lebih kokoh akarnya daripada akar kopi.

Sisi lain, di Desa Tasikmadu, saya tidak mengetahui jenis kopi apa saja yang dahulu banyak berkembang di kebun, khusunya di Dukuh Kebon. Yang jelas, kopi yang banyak tumbuh di Dukuh Kebon ini adalah kopi aceh (entah kopi aceh tersebut masuk kategori kopi apa?). Kopi aceh tersebut berukuran sedang; tidak besar dan tidak kecil,” ungkap Lek Is, sambil pitil cengkih.

Sementara, seperti yang saya ketahui dari data yang berkembang, nama kopi yang berada di Indonesia adalah kopi arabika, robusta, liberika. Menurut saya, kopi aceh tersebut termasuk kopi arabika, karena kopi aceh memiliki cita rasa manis, seperti kopi arabika, yang memiliki rasa kayu manis. Jika menurut informasi dari Pak Lik Kabul tadi, kopi di Dukuh Kebon memiliki tipe tahan lama dan tidak mudah terserang penyakit. Jika dirunut dari informasi itu, Dukuh Kebon banyak ditumbuhi kopi macam liberika, arabika dan robusta. Liberika termasuk kopi yang lebih tahan penyakit, begitu pun arabika, ia juga lebih tahan hama dan tidak mudah cepat mati. Tetapi, yang memiliki daya tahan akan penyakit, ya robusta juaranya. Jadi, di Dukuh Kebon dahulu banyak berbagai macam variasi kopi tumbuh di sekitar Dukuh Kebon, Desa Tasikmadu dan sekitarnya.

Kopi menjadi neklues pada zamannya.  Hingga kini kedahsyatan kopi bisa dirasakan begitu luar biasa di warung-warung kopi, dan sebagai alat “penjemput” inspirasi para tokoh. Gola A Gong di buku puisi Air Mata Kopi (2014) menulis, jika hari ini para pecinta kopi; air yang kauseduh dengan kopi itu adalah air mata para petani kopi. Nenek saya, Siyam, meski bukan petani di lereng-lereng, ia memiliki aktivitas yang bisa disebut sebagai petani buruh kopi. Aktivitas yang ia kerjakan adalah mengupas biji di rumah si empunya lahan dengan tanah yang luas, yang ditanami kopi. “Mbokmu biyen kui dadi buruh ngonce’i kopi neng omah e Mbah Anggrek karo Mbah Asel. Lek ngonce’i kui dicokoti, terus diidhok’ne neng adah tumbu, loh!” (Mbokmu dulu jadi buruh membersihkan atau mengupas (memisahkan kulit dan “daging” kopi) di rumahnya Mbah Anggrek dan Mbah Asel. Membersihkannya itu dengan cara digigit dan melepahkan atau diludah-kan (memisahkan antara kulit dan kopi) di wadah tumbu, loh!” tegas Pak Lik.

Saya membayangkan, seandainya dulu, tahun 1975 atau 80 dan 90-an, ada alat yang super canggih seperti drone seperti sekarang ini, yang mampu melihat situasi dari atas, atau, kalau tidak begitu, dilihat dari sisi barat bukit/alas Tumpak Walang—nama bukit di Dukuh Kebon, letaknya di sisi Timur rumah—tentu akan terlihat lebat dan rimbun sekali oleh tumbuhan kopi.

Jika hari ini kita mengenal daerah dukuh(an) Kebon di Desa Tasikmadu, nama tersebut diambil dari tanaman kopi yang banyak tumbuh di daerah ini. Atau, dahulu wilayah ini, sebelum dibabat, adalah kebun yang banyak ditanami kopi. Yang jelas, menurut pitutur si embah-embah, kawasan Kebon ini dahulu mayoritas penduduknya menanam kopi dan petani kopi sebagai mata pencaharian. Kopi menjadi komoditas utama di desa, khususnya di Kebon. Sebelum cengkeh “berekspansi” menggantikan tanaman kopi, karena harganya tinggi. Dukuh Kebon dan tanaman kopi, yang “fosilnya” telah habis, hanya bisa dinikmati di warung dan kedai kopi. Sesekali, berkat cairan hitam pekat dan rasa yang khas bernama kopi itu, banyak orang hebat melahirkan imajinasi dan karya yang hebat seperti tulisan ini :-D. Demikian.


[1] Jika ada kekeliruan atau kekurangan dalam penyebutan nama dukuh(an) di Tasikmadu, silakan menambahi sebagai masukan

  • artikel2 di blog ini kebanyakan dalam kurung. ayo bebaskan dirimu guys. :v

  • Ndahneo. Lek enek 1000 biji kopi, berarti 1000 gigitan dan ludahan. Lebih pantas disebut sebagai air liur petani kopi dari pada air mata….

    • Muhammad Choirur Rokhim

      Hahaha. Lek nyritani ngunu. Tapi sak ngertiku sakdurunge dicokot, kopi kui ditutui disek.

    • Muhammad Choirur Rokhim

      Hahaha. Lek nyeriteni ngunu loh. Tapi sak ngertiku sak durunge ono seng ditutui.