durian-emas hijau dari trenggalek

Beberapa waktu yang lalu, Bapak Menteri Pertanian Republik Indonesia, datang ke Trenggalek, tepatnya ke Watulimo. Bapak Menteri ke Watulimo bukan sekadar mengunjungi berbagai lokasi wisata semisal pantai, gua atau air terjun yang ada di Watulimo, melainkan dengan tujuan meresmikan Kampung Salak di Desa Gemaharjo dan Desa Sawahan sebagai Desa Wisata, sekaligus mencanangkannya sebagai International Durio Forestry. Gelar tersebut kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia kurang lebih menjadi Hutan/Kawasan Durian Internasional.

Dari data yang saya dapat, Watulimo memiliki kawasan hutan durian dengan luas 650 hektar dengan varietas unggulannya yaitu Durian Ripto. Dengan luas tersebut, menjadikan Trenggalek sebagai pemilik hutan durian terbesar di dunia. Trenggalek memang memiliki kemampuan memproduksi aneka buah tropis sepanjang tahun seperti durian, manggis, pisang dan nangka. Secara ilmiah, itu semua disebabkan karena Trenggalek memiliki keragaman plasma nutfah (substansi pembawa sifat keturunan yang dapat berupa organ utuh atau bagian dari tumbuhan atau hewan serta mikroorganisme—wikipedia), yang kaya dan didukung kondisi iklim tropis yang bagus.

Euforia masyarakat Watulimo, yang juga menjadi euforia masyarakat Trenggalek, tak hanya terjadi ketika peresmian terjadi dan beberapa hari setelahnya. Bahkan sampai sekarang pun masih banyak masyarakat yang membicarakan gelar yang disematkan ke Watulimo sebagai suatu kebanggaan yang luar biasa. Belum lagi dengan adanya Desa Wisata Dompyong yang baru saja diresmikan. Semakin hebat saja Trenggalek ini.

Sama seperti yang pernah ditulis oleh Mas Editor nggalek.co, pada artikelnya mengenai pembangunan Trenggalek, mengenai informasi apa alasan petani ketela menanam ketela. Jawabannya bukan sekadar alasan ekonomis, tapi historis dan budaya. Begitu pula dengan petani durian, ketika kini semakin banyak yang menanam durian karena nilai ekonomisnya, di Watulimo juga masih ada petani yang menanam dan merawat durian karena nilai warisan sejarah dan wejangan dari leluhurnya. Dan saya rasa kebanggaan yang sebenarnya justru ada pada mereka.

Di saat yang lain, bangga karena adanya penghargaan dan pengakuan dari luar, tapi mereka (yang menanam karena pelestarian dan nilai-nilai yang diwariskan) sudah bangga jauh sebelum kita yang menanam karena belaka orientasi nilai ekonomis. Lagipula, selain kebanggaan karena telah melaksanakan apa yang jadi wejangan dari para leluhur, pada akhirnya keuntungan dari sisi ekonomi pun juga didapatkan.

Satu lagi, durian adalah buah yang memiliki eksklusivitas luar biasa. Dan kita sangat beruntung bahwa durian adalah salah satu buah yang menjadi ciri khas Kabupaten Trenggalek. Kenapa begitu? Karena ketika wisatawan berkunjung ke suatu daerah dan pulang membawa buah-buahan khas dari daerah tersebut, pasti akan kalah wah ketika wisatawan membawa pulang durian dari Trenggalek meskipun itu satu atau dua buah saja. Juga akan terlihat lebih keren ketika durian itu diikatkan di-footstep motor. Eksklusif, kan?

Trenggalek yang sejak dulu memang eksklusif, bukankah menjadi agak sedikit miris ketika sebagian dari kita baru saja bangga akan kota Trenggalek, setelah memiliki pemimpin yang masih muda dan keduanya beristri cantik; setelah alun-alun terhiasi beragam lampu warna-warni; setelah media-media menulis tentang Trenggalek; setelah banyaknya acara-acara meriah di Trenggalek? Trenggalek memang sudah luar biasa sejak dulu, kawan! Sejak jamannya Minak Sopal yang legendaris, berlanjut ke jamannya Kanjeng Jimat yang pemberani, jamannya ketika Jendral Soedirman bergerilya hingga ke Trenggalek; pula ketika Bupati Soetran yang visioner dengan program-programnya untuk membangun Trenggalek.

Dengan fakta bahwa sebenarnya Trenggalek ini dari dulu sudah luar biasa, bukankah sudah sepatutnya anugerah yang luar biasa ini dimanfaatkan dengan baik. Bolehlah kita mengeksplorasi (eksplorasi lho, ya!) anugerah lain yang dimiliki Trenggalek, tetapi marilah berharap pemerintah Trenggalek tetap menjaga dan melestarikan apa yang sudah dimiliki Trenggalek. Lebih khusus, dengan keluarbiasaan tersebut semoga membuka mata pemerintah Trenggalek bahwa tak perlulah misalnya membuka tambang di Trenggalek untuk mengeruk emas yang berwarna kekuningan; tak perlu pula menambang batu bara yang banyak orang menyebutnya sebagai emas hitam. Karena sebenarnya, kita sudah memiliki emas yang berlimpah: emas hijau. Saya menyebutnya begitu untuk durian Trengalek.

Salam lestari!

  • Mas Roin, ada sedikit informasi mengenai tradisi tanam orang-orang jaman dulu (mbah-mbah ku dan mu). Dahulu, kebanyakan orang tua ketika menanam sesuatu selalu berujar begini “nandurne anak putu”, bahkan embah ku sendiri selalu bilang begitu. Termasuk durian yang kau bilang emas hijau di Desa Sawahan itu termasuk kedalam produk tanaman orang-orang dahulu.

    Saya jadi agak miker, ketika tanaman-tanaman embah itu sudah mulai berbuah dan muncul niat kita untuk memetik, lakok kok diseneni. Diureng-ureng. Padahal dulu mereka menanam diniatkan untuk anak cucu. Piye jal lek ngeneki?

    • Jozuna Digital Printing

      lha iyo tow… piye jal ngunuki?

    • Roin Jozuna Vahrudin

      ya kan, niat mbah-mbah dulu dengan kekarepan generasi sekarang kan beda to mas. Jadinya ya terjadi benturan kepentingan. Begitu kira-kira mas…