Ilustrasi seorang ibu sedang momong anaknya | foto pixbay | edited mastrigus
Ilustrasi seorang ibu sedang momong anaknya | foto pixbay | edited mastrigus

Jangan pikir mudah untuk memahami anak. Anak bukanlah manusia dewasa dalam bentuk mini. Jadi jangan paksakan anak untuk memiliki pemikiran yang sama dengan orang dewasa. Jangan paksa mereka mampu mengerti dan memahami semua yang orang dewasa pikir dan inginkan. Anak memiliki pemahaman dan pola pikir yang berbeda dengan orang dewasa. Mereka memiliki dunianya sendiri. Dunia yang berbeda dengan kita.

Beberapa tahun lalu, saya sempat menduga bahwa saya salah jurusan ketika kuliah di Pendidikan Guru PAUD. Dua tahun setelahnya, saya merasakan ada sesuatu yang menarik ketika saya kuliah pada jurusan ini. Saya menjadi gemar mengamati anak-anak yang berada di sekitar saya dan perlakuan masing-masing orangtua terhadap mereka. Juga pandangan orangtua terhadap pendidikan anak usia dini.

Dari pengamatan saya tersebut, saya mulai memilah-milah tipe pola asuh yang diterapkan orangtua mereka dan dampaknya. Di dalam mata kuliah pengasuhan anak oleh Ibu Errifa Susilo, M.Pd dijelaskan bahwa pola pengasuhan anak terbagi menjadi 3 macam yaitu: 1. Pola asuh orangtua otoriter, 2. Pola asuh orangtua permisif, dan 3. Pola asuh orangtua demokratis.

Pola asuh orangtua otoriter adalah pola pengasuhan yang sangat mengedepankan otoritas orangtua di dalam mengasuh anak. Jadi, anak tidak pernah diizinkan untuk memiliki pendapatnya sendiri. Mereka harus tunduk terhadap apa yang dikehendaki oleh orangtua otoriter. Level tertinggi dari pola pengasuhan orangtua otoriter adalah hukuman secara fisik. Anak yang tidak menurut dan membangkang akan dihukum secara fisik oleh orangtua otoriter. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter biasanya akan cenderung menjadi anak yang penakut, pengecut, dan tidak kreatif.

Selanjutnya adalah tipe pola asuh orangtua permisif. Di dalam tipe ini, orangtua cenderung memberikan kebebasan penuh terhadap anak tanpa diimbangi dengan pengawasan yang cukup darinya. Anak dengan pola asuh permisif biasanya menjadi anak yang bersikap semaunya sendiri tanpa batasan apapun.

Dan yang terakhir adalah tipe pola asuh demokratis. Tipe pola asuh yang terakhir ini adalah yang terbaik dari tipe-tipe pola asuh sebelumnya. Pola asuh orangtua demokratis sangat mengutamakan kepentingan anak, akan tetapi orangtua tidak ragu untuk mengendalikan mereka. Meminjam istilah dosen saya, Bapak Suhel Madyono, M.Pd, di-culne sirahe tapi tetap di-gondheli buntute“, maksudnya adalah anak dibiarkan untuk melakukan hal-hal sesuai yang mereka inginkan, tetapi tetap diingatkan ketika keliru. Umumnya orangtua demokratis memiliki pemikiran-pemikiran yang rasional sehingga mereka tidak segan-segan untuk mendengarkan pendapat dan mempercayai anak-anaknya, dalam pengawasan. Anak yang tumbuh dengan pola pengasuhan demokratis, biasanya mereka akan menjadi anak yang mandiri dan memiliki hubungan sosial yang baik.

Setelah melakukan pengamatan, sesungguhnya saya merasa prihatin mempercayai kenyataan bahwa ternyata pola asuh yang banyak digunakan oleh orangtua untuk anak-anak di lingkungan saya adalah pola asuh otoriter. Kebanyakan orangtua zaman sekarang hanya memikirkan nilai anaknya saja. Mereka rela mendaftarkan anak-anaknya untuk bimbingan tambahan di banyak tempat tidak peduli anaknya mampu atau tidak. Yang penting di sekolah anaknya harus mendapatkan nilai lebih tinggi dari anak tetangganya. Apabila suatu ketika si orangtua otoriter mengetahui bahwa anaknya baru saja mendapatkan nilai yang lebih buruk satu angka saja atau lebih rendah satu tanda bintang saja (bagi anak TK) misalnya, dari anak-anak tetangganya tersebut, maka orangtua otoriter akan marah besar. Kemarahannya tersebut dapat berujung pada hukuman fisik dan kata-kata kasar. Misal “Dasar anak bodoh! Rugi besar bapak-ibu mengeluarkan uang banyak untuk biaya bimbingan belajar tambahanmu. Makanya kalau disuruh belajar itu nurut. Dasar bodoh..!”

Ingat..!!! Kata-kata “dasar bodoh” adalah salah satu bentuk labelling pada anak yang tanpa disadari akan menimbulkan dampak yang luar biasa bagi anak, selain juga akan sangat menyakiti hati anak. Labelling akan memaksa alam bawah sadar anak untuk mendoktrin dirinya sendiri sesuai dengan apa yang telah dilabelkan orang kepada dirinya. Pada akhirnya, dia akan percaya bahwa dirinya memang bodoh, padahal belum tentu seperti itu. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada diri saya sendiri.

Sewaktu kecil saya pernah mendapat label anak bodoh dari orang-orang di sekitar saya. Sebab perbedaan saya yang mencolok dengan kakak saya membuat kami sering dibanding-bandingkan. Kakak saya pintar dan saya akui saya memang agak lamban. Saat itu saya adalah korban labelling dengan label “anak bodoh”. Dan ajaib sekali memang, hal itu berdampak besar terhadap diri saya sampai dewasa. Saya sering mempercayai bahwa saya memang sangat bodoh terlepas dari apakah saya memang bodoh atau tidak. Dan yang lebih parah lagi saya sering menjadi pengecut yang bersembunyi di balik kebodohan saya sendiri. Misalnya ketika teman mengingatkan saya akan kekeliruan yang saya lakukan, maka dengan tanpa rasa malu saya pasti akan menjawab, “Biarin laaahhh, saya kan bodoh. Jadi saya wajar melakukan itu. Karena saya bodoh.”

Atau ketika seorang teman mengkritik tulisan saya, saya pasti langsung baper dan menanggapi dengan baper pula “Iya.. iya.. saya memang bodoh. Maka tulisan saya jelek. Orang bodoh kan tidak bisa menulis. Ya sudah, saya tidak usah menulis lagi saja.”

Lebih dari itu korban labelling “anak bodoh” akan menjadi introvert di beberapa kesempatan. Terkadang saya menjadi introvert karena takut bahwa apa yang saya katakan keliru menurut orang lain, dan akan membuat orang itu berpikir bahwa saya bodoh. Lain halnya dengan labelling “anak bodoh” yang membuat dirinya menjadi minder, korban labelling “anak nakal” akan membuat anak yang diberi label tersebut menjadi semakin nakal. Karena alam bawah sadarnya mempercayai bahwa dia memang nakal. Jadi dia berpikir harus terus berbuat nakal.

Selain mengamati pola asuh pada anak, saya juga mengamati pandangan para orangtua terhadap Pendidikan Anak Usia Dini. Pada sebuah obrolan ibu-ibu yang tidak sengaja saya dengar, biasanya mereka akan saling mengunggulkan sekolah anaknya masing-masing. Misalnya, “anak saya sekolah di TK A, diajarin bahasa Inggris lho. Hebat kan?” Kemudian ibu yang lain menanggapi “Ah bahasa Inggris mah sudah biasa, anak saya sekolah di TK B malah diajarin bahasa Jerman. Hebat mana coba?” Bukannya saya menanggapi negatif terhadap hal itu. Pelajaran bilingual memang sangat penting. Tapi untuk usia TK, saya rasa belum begitu perlu. Sebab prinsip pengajaran bilingual terhadap anak usia dini harus dilakukan secara kontinyu. (Artinya, orangtua juga harus turut berperan aktif untuk mendukung kemampuan bilingual anak yang telah diajarkan di sekolah. Misalnya, apabila di sekolah diajari bahasa Inggris atau Jerman atau Perancis, maka ketika di rumah orangtua juga harus mampu mengajak anak bercakap-cakap dalam bahasa Inggris atau Jerman atau Perancis).

Apabila tidak dilakukan secara kontinyu maka akan sia-sia. Sebab, ingatan anak bersifat jangka pendek. Lagi pula ketimbang bahasa asing untuk usia TK mengapa bukan bahasa daerah saja yang lebih utama untuk diajarkan? Itu akan lebih penting. Saya secara pribadi sangat membanggakan bahasa daerah kami, bahasa Jawa. Salah satu keberuntungan terbaik saya tinggal di tempat saya sekarang ini adalah bahwa saya bisa bahasa Jawa. Dan salah satu keberuntungan terbaik saya terlahir dari orangtua saya adalah bahwa saya bisa bahasa Jawa krama inggil dan Kawi. Karena apa? Karena bahasa daerah pun harus dipelajari secara kontinyu.

Itu tadi adalah pandangan orangtua tentang pelajaran bi-lingual di TK. Lain lagi dengan pandangan orangtua terhadap muatan akademik yang lain. Muatan akademik di bawah aspek perkembangan kognitif misalnya. Kita ambil contoh dalam lingkup berhitung. Para orangtua tentu akan saling membanggakan kemampuan anak-anaknya dalam berhitung. “Anak saya sekolah di TK A berusia 5 tahun sudah bisa membilang sampai 50.” Yang lain menanggapi “Ah anak saya sekolah di TK B malah sudah bisa berhitung susun.”

Begitulah, dalam istilah Jawanya, “jor-joran”. Orangtua saling jor-joran tentang kepandaian anaknya dan kehebatan sekolah anak-anaknya. Hal inilah yang membuat para guru tidak memiliki pendirian. Banyak guru yang hanya menuruti keinginan-keinginan orangtua sehingga melupakan prinsip-prinsip dasar mengajar anak usia dini. Mereka hanyut akan keinginan-keinginan para orangtua murid dan lupa bahwa mengajar anak harus disesuaikan dengan tugas perkembangan anak.

Sebenarnya saya heran. Kenapa kebanyakan orangtua hanya membanggakan nilai akademik serta menuntut anak-anaknya untuk hebat dalam hal akademik? Padahal ada yang jauh lebih penting, yakni Pendidikan Karakter. Sebab, bukankah ilmu tanpa budi pekerti adalah kerapuhan jiwa?