melawan-deforestasi-dengan-budaya-menanam

Beberapa hari kemarin saya pulang ke Munjungan setelah sekian bulan tidak pulang. Sewaktu melintas di sepanjang jalan naik dari mushola Jedeg (Kampak) hingga pemancar, yang berkelok ke atas: sekilo lagi menuju lokasi paling tinggi di sepanjang jalan Kampak-Munjungan, laju motor saya pelankan. Saya berjalan setengah marayap sembari mengamati bekas-bekas longsoran di area tebing-tebing sekitar. Rasa-rasanya, penampakan tersebut meski bagi orang sekitar biasa saja, bagi yang sudah jarang melintas jalanan ini, bisa membuat was-was. Apalagi ketika memandangi tebing-tebing di samping jalan yang sebagian retak dan merekah, lagi jarang ditumbuhi pepohonan. Ada perasaan takut, kalau-kalau, pas sedang berkendara—lagi sudah berada di jalanan melandai pula, kalau dari atas—longsor pun tiba. Di situ, tampak rangkaian pohon pinus yang tak seberapa rapat. Sementara bukit-bukit di sekitar, tampak tak becus menahan tanah supaya tak melorot ke bawah. Agak ke depan, bekas-bekas retakan tanah dari longsoran kemarin, telah menggripiskan separo jalanan, mesti waspada saat lewat situ, supaya tak terperosok masuk ke lubang.

Lokasi di sepanjang jalur mushola Jedeg hingga pemancar yang konturnya naik kalau kita melintas dari arah utara atau turun kalau dari selatan, mengkhawatirkan. Kalau cuma dibiarkan ditanami pinus, setelah longsor demi longsor, dari tahun ke tahun sejak zaman bahuela, selalu berpeluang longsor kembali. Apalagi, ketika musim penghujan tiba dan lebih-lebih turun dengan lebat. Saya pikir, daerah ini wajib direboisasi, minimal dengan mengganti vegetasinya—bukan melulu pinus—melainkan juga tumbuhan, pepohon dan tanaman khusus yang berguna sebagai penyangga tanah-tanah berdaging tanpa tulang itu, supaya tak melorot ke bawah: yang di antara akibatnya meruntuhi jalan atau juga merontokkan jalan, kalau posisi jalannya kebetulan berada di atas tebing. Area sekitar bisa dihijaukan dengan aneka pohonan, misal pohon trembesi, bendo, ketapang, pucung dan berbagai jenis pohon lain, yang mampu mencengkram tanah lebih kuat. Kalau hal-hal begini tak diindahkan, tinggal menunggu waktu melorot lagi, lagi dan lagi…

Beberapa minggu kemarin, di jalan tembusan Sumber-Watulimo, sebuah area jalan yang kecuramannya lumayan, pada turunan yang menikung mengalami longsor. Longsoran itu sepenuhnya menutupi permukaan jalan di beberapa titik turunan. Sebagaimana longsor yang terjadi di jalur penghubung Kecamatan Kampak dan Munjungan beberapa hari sebelumnya. Area longsor di bawah Bukit Apak Broto tersebut mirip dengan longsor di jalan Kampak-Munjungan: terjadi karena bukit-bukit (tebing) dan lereng yang berada persis di atas jalan adalah kawasan yang vegetasinya miskin dan tak seberapa rimbun. Bahkan tak banyak ditumbuhi pohonan yang bisa mencengkram tanah kuat-kuat. Hujan yang dahsyat dan lebat yang telah diresapkan air ke dalam tanah, tak mampu ditahan lapisan-lapisan tanah. Akibatnya, tanah ambrol ke bawah dan menyebabkan longsor. Tak ayal, gampeng atau lereng di atas jalan pun melorot membawa beban-bebannya termasuk batu, tebing, pohon-pohon yang tumbuh di sekitar, bergelimpangan memenuhi jalan. Akses ekonomi masyarakat pun menjadi ikut terputus. Lagi pula di bawah sana (di Prigi) sedang dihantam banjir.

Hari sebelumnya, di jalan utama Pasar Sebo menuju ke pusat kota Kecamatan Watulimo, tepatnya di area Jurug Bang, juga terjadi longsor tersebab hujan deras yang mengguyur sekitar Watulimo. Jalan menjadi sempit dan transportasi, terutama untuk kendaraan besar, sempat terputus. Beberapa bulan dan hari kemarin di berbagai kecamatan seperti di Gandusari dan Bendungan, di antaranya, juga terjadi longsor dan banjir yang tak kalah hebat dengan peristiwa longsor dan banjir di Kecamatan Watulimo dan Munjungan.

Banjir bandang dan bencana longsor bagaimanapun adalah efek dari perubahan lahan: entah karena alih fungsi atau perubahan penanaman: dari tanaman lindung ke tanaman produktif. Semua yang terjadi pada lahan tersebut lalu dipicu oleh hujan lebat dan deras berhari-hari, maka tinggal menunggu waktu untuk membanjiri atau melongsori pemukiman, jalan (sebagai akses transportasi), juga berbagai infrastruktur yang lain, karena sudah berpotensi. Segala yang sudah berpotensi, biasanya tinggal menunggu pemicu. Dan hujan deras adalah salah satu pemicu untuk meluapkan air (banjir) atau melorotkan tanah (longsor). Andai saja lahan-lahan itu difungsikan sebagaimana mestinya (dengan vegetasi yang merata), barangkali hujan berhari-hari tak akan menyebabkan banjir separah kemarin, apalagi hingga membandang, seperti di Munjungan, Watulimo, Gandusari. Kita tahu, hutan (yang di antara wilayahnya adalah lahan-lahan itu) juga adalah penyangga berbagai kebutuhan manusia akan air, udara yang bersih, dan tentu juga berbagai kebutuhan lain yang tak tampak, tapi sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia.

Bila lahan-lahan dan hutan-hutan penyangga itu kritis, rapuh, ya kita terima saja dengan hati lapang (atau bisa juga dengan nggrundel) bahwa banjir dan longsor yang menimpa kita akibat ulah kita sendiri: akibat aktivitas manusia sendiri yang tidak arif terhadap alam. Misalnya banjir dan longsor terjadi alurnya mula-mula bisa saja diawali oleh pembalakan liar, baik pembalakan liar yang tak direstui, biasanya dilakukan oleh masyarakat, ataupun pembalakan liar yang agaknya ”direstui” oleh pemerintah, yang biasanya dilakukan oleh perusahan-perusahaan tertentu. Terutama para konglomerasi lokal atau luar yang mengolah tanah-tanah secara ”ngawur”, tapi dengan hak ”hitam di atas putih” dan anggukan dari pemerintah. Di sini, pemerintah, perhutani dan para konglomerasi, tambahan masyarakat, semua yang tindakannya kerap men-deforestasi hutan, mereka semua mestinya patut disalahkan atas ketidaktanggapannya menjaga hutan untuk kelangsungan hidup hewan-hewan, aneka pohon dan tumbuhan, dan tentu saja juga manusia, hanya demi mengedepankan sesuatu, mungkin keuntungan, yang tak kita tahu, rasa nikmatnya seenak apa?

Hutan, tempat tumbuh aneka habitat tumbuhan dan hewan juga adalah gudang dan tandon air alami. Sepintar apa kita merawatnya, akan tampak dari situasi yang terjadi. Menurut data RTRW Kabupaten Trenggalek tahun 2010 hingga 2030, bahwa hutan paling luas di Trenggalek adalah hutan di Munjungan dan Kampak dengan luas persis: 9901,31 ha, sementara untuk Bendungan hanya 4844,01 ha; Watulimo seluas 7788,27 ha; Dongko 6963,63; Panggul 5021,48. Sementara kecamatan-kecamatan lain berada di bawah 5 kecamatan di atas. Hutan-hutan ini tentu saja termasuk dalam kawasan lindung. Tapi perasaan saya, kecamatan yang paling hijau adalah Bendungan, Pule lalu Dongko. Ini hanya perasaan.

Selain pepohonan, dengan keanekaragaman serta fungsi masing-masing, yang tak boleh dilupakan dalam konteks merawat hutan adalah bagaimana kondisi ”lantai hutan” itu sendiri. Cara kita merawat lantai hutan tak seperti kita merawat lantai rumah yang harus disapu tiap hari. Pembiaran segala yang jatuh di permukaan hutan justru adalah tindakan untuk merawatnya. Kita tahu, selain pepohonan dan berbagai tumbuhan, guguran daun, ranting, tangkai, bunga, kulit kayu dan berbagai materi yang dijatuhkan dari tubuh pohon dan tumbuhan justru berguna untuk merawat hutan itu sendiri. Ini semacam cara hutan merestorasi dirinya. Sesuatu yang jatuh di atas lantai hutan tersebut—yang kerap dinamai serasah—penting, terutama berfungsi sebagai pengendali tanah dan air yang tersimpan dalam hutan supaya tak ter-erosi. Juga berfungsi mencegah longsor sekaligus pelindung air (penahan banjir).

Lalu, bagaimana mengembalikan keanekaragam (diversifikasi) hutan di Trenggalek? Di satu sisi, dengan melawan penyeragaman hutan dan di sisi lain untuk melawan penebangan hutan yang sewenang-wenang, terutama di wilayah-wilayah hulu. Salah satu cara yang bisa ditempuh ya tetap itu-itu saja: pembiasaan menanam bagi masyarakat, terutama bagi yang punya kebiasaan menebang pohon. Mari mencoba membuat kapling untuk menanam pohon, kalau bisa menanam pohon-pohon tertentu yang wajib tanam untuk menjaga tanah. Memilih pohon-pohon yang berguna untuk penguat tanah, mencegah erosi, dan menyimpan air lebih banyak, menanam berbagai tanaman yang punya fungsi mendesak untuk ditanam. Mas Bonari pernah membicarakan ihwal berbagai tanaman dan pohonan yang agaknya kian lenyap dari radar dan peredaran (ekologinya) bersama komunitas Pecinta Alam NIPONK di Watulimo. Kami pura-pura survei kecil-kecilan dengan beberapa anggota NIPONK pada suatu malam, bahwa ternyata berbagai jenis pohon menghilang dari hutan-hutan di beberapa kecamatan, tapi masih ada di hutan di wilayah kecamatan lain. Pohon-pohon itu kami cari tahu dan bicarakan fungsi-fungsinya sekaligus habitatnya kini.

Kita bisa menanam dan mengembangkan berbagai tanaman dari jenis semak misal kaliandra, kelor, atau dari jenis pepohonan tinggi misal turi, lamtoro, pohon beringin, pohon bambu. Daftar pepohonan lain yang bisa ditanam adalah pohon pucung (kluwek), miri, trembesi, akasia, bendo, mangir, ketapang, cangkring, gembuk, kersen, secang, beberapa di antara pohon ini sudah menipis di kecamatan satu tapi masih ada di kecamatan lain, dan silakan dilanjutkan sendiri. Pohon-pohon di atas sebagian besar punya fungsi yang baik untuk merawat tanah dan air. Penghijauan dan penanaman kembali itu sangat mendesak terutama di wilayah-wilayah yang saat ini rawan longsor, terutama di dekat-dekat pemukiman di Kecamatan Bendungan, Watulimo, Munjungan, dan beberapa kecamatan lain.

Trenggalek yang dulu terdiri dari dusun-dusun, pelan-pelan barangkali (akan) berubah menjadi kian gemerlap dengan lampu dan pembangunan. Dusun di pinggir-pinggir gunung, yang jalannya seperti baru kemarin dibuka dengan mengepras bukit, lambat laun akan berubah dengan ditebari lampu-lampu jalan di pinggir-pinggirnya. Menggantikan kerlap-kerlip kunang-kunang di malam hari di persawahan kampung. Saya membayangkan kelak, daerah ini benar-benar akan berubah tak lagi menjadi dusun terpencil yang baru dibuka atau dengan jalan pegunungan yang baru diaspal. Karena daerah yang maju, adalah yang dipenuhi dengan, di antaranya, gemerlap lampu dan hiruk-pikuk. Kemajuan-kemajuan memang sering diukur dari yang tampak menyenangkan, bukan perasaan dan kenyamanan menempati misalnya, atau perasaan tentram lahir-bathin penghuninya.

Saya jadi ingat sebuah puisi karya Mas Bonari berjudul ”Aku Rindu” yang ditulis di Sawojajar, Malang, tahun 2012. Bunyinya adalah sebagai berikut (selamat menikmati!): aku rindu/ tumbuh pohon jambu/ di depan rumahku/ dan angin mengelus kembang/ sambil bersiul/ aku rindu/ pohon-pohon kembali tumbuh/ di bukit di hutan mengepung kampungku/ aku rindu santhiyet dan markisah menjalar/ liar!// aku rindu/ pohon dan perdu tumbuh berpacu/ sebab di situlah aku membaca kemerdekaan/ bukan di rimbun pinus yang dipaksakan/ atas nama keberlangsungan/ industri pengolahana getah itu// aku rindu/ hutan tempat aku bermain/ sambil belajar merasakan tusukan/ dan barutan duri semak/ di antara hidup yang keras dan yang lunak/ yang indah dan yang menantang// kapan hutan dikembalikan/ dari lipatan/ untuk menambal peta/ kawasan bencana dan terdampak// bergegaslah/ sebelum kota-kota yang kaubangun/ tenggelam ketika kau nyenyak/ hingga rinduku pun kehilangan alamat/ ketika kelak semua lumat//.

BERBAGI
Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).