kamera lubang jarum

Lebih satu pekan yang lalu, Komunitas Kamera Lubang Jarum Indonesia (KLJI), Trenggalek memulai kerja cerdas. Komunitas KLJI menghadirkan kreativitas yang tak biasa di dunia foto(grafi). Biasa bergelut dengan kamera DSLR, kali ini komunitas tersebut “berekspansi” menggunakan kamera kaleng bekas. Hasilnya, kamera barang bekas—yang dipandang tak memiliki sisi produktif—ini mampu menawarkan sisi artistik.

Sebenarnya kamera lubang jarum telah lama dikenal (bagi pencipta fotografi), namun untuk daerah Trenggalek, kamera lubang jarum kalah moncer dengan kamera foto ponsel maupun DSLR. Mendapati bahwa di Trenggalek sudah ada komunitas KLJI merupakan kabar yang menggembirakan. Bakal ada foto dari berbagai sudut kota Trenggalek yang dihasilkan dari lubang kaleng tersebut.

Barang bekas macam kaleng ini sering dipandang sebagai barang perusak tanah, tak bisa hancur di tumpukan pawuhan (baca: tempat pembuangan sawah orang desa). Juga tak memiliki fungsi signifikan lagi. Paling banter, kaleng bekas, misal kaleng susu, rokok atau sebangsanya—biasanya hanya dapat dibuat dimar ublek, celengan (penyimpan uang recehan).

Lewat tangan dingin para pemuda yang tergabung dalam Pinholic—sebutan komunitas KLJI Trenggalek—kaleng bekas berubah menjadi kamera ber-picture hitam putih. Kamera yang terbuat dari kaleng ini menyadarkan kita bahwa barang bekas menyimpan atau dapat menghasilkan nilai estetika luar biasa tinggi. Di bawah digdaya-nya kamera teknologi smartphone yang mampu menyasar ke berbagai lapisan masyarakat, kamera kaleng bekas seolah turun dari menara gading, untuk merebut dominasi kamera smartphone, yang selama ini begitu kuat mencengkeram jari-jemari manusia.

Kualitas kamera kaleng jelas kalah dengan kamera modern. Tetapi nilai estetikanya tak kalah menawan, lagi cara pembuatan kamera lubang jarum tak begitu rumit. Pembuatannya juga tidak terlalu mengeluarkan badget banyak. “Cukup menyediakan kaleng bekas, kardus, paralon dan kertas foto hitam putih di dalamnya. Yang terpenting dalam pembuatan kamera lubang jarum itu adalah adanya kedap cahaya. Semua proses pembakaran atau lebih dikenal pencucian di kamar gelap (changing bag) di kaleng tersebut.” Ungkap Tirex—sapaan akrab Tri Yulik S.—saat saya hubungi via Whatsapp.

Di sisi lain, penyebutan kaleng terkadang dipergunakan atau menyitir hal negatif. Dipakai untuk menyebut orang lekong—sebut saja banci kaleng. Namun berkat orang-orang kreatif, kaleng tak lagi menerima judge negatif atau diklaim sebagai tumpukan sampah di pojokan toko ataupun warung kopi. Kaleng telah bermetamorfosis menjadi penghasil gambar. Pun, kaleng mampu melintasi batas kreativitas. Teknologi kaleng ini menyentil pengetahuan tentang kegunaan bahan bekas atau daur ulang: dari kaleng yang biasanya ditendangi di jalan raya menjadi kaleng bernilai estetika.

Dalam hal ini, saya tidak akan menyebut produk mana saja yang dapat dipakai untuk kamera kaleng tersebut. Saya kira kaleng apa saja bisa dipakai untuk penutup kamera kaleng. Sisi lain, saya juga tak akan menyebut merek apa saja yang pas. Wong tidak ada income di saku saya, kok, atas kerepotan saya (meng)iklan(an) merek kaleng dari perusahaan tertentu (memang demikian hukum pasar hehehe…). Pendek kata, selagi kaleng itu tidak bolong atau pecah dan masih mampu diisi perkakas alat pemotret, kaleng bekas bisa dipakai.

Melalui mata lubang jarum kaleng, hasilnya jelas berbeda dengan hasil bidikan foto ponsel atau kamera moncong (DSLR). Titik bidiknya pun menghasilkan dan atau memperlihatkan wajah masa lalu dengan rupawan hitam putih. Imajinasi yang dibangun pun juga berwarna hitam putih. Kita serasa diajak menelusuri bentangan imajinasi dan romantisme era “zaman doeloe”, kisaran tahun 1980-an. Kamera lubang kaleng ini tak sekadar membidik estetika tetapi bakal menyorot isu ekonomi, politik, sejarah, nasionalisme dan kapitalisme tentunya.

Dari kesederhanaan subjek yang digunakan selalu ada pikat dan keelokkan dari objek yang dihasilkan. Seakan menarasikan kerinduan dengan foto atau gambar masa lalu, dengan warna bercak hitam putih tadi. Dengan kamera lubang jarum tersebut, kita menemukan perpaduan apik nan antik dalam kaleng bekas.

Kerja Kardus

Begitupun dengan kardus. Kita memandang kardus adalah setumpuk benda yang ujungnya tinggal di rongsokan. Setelah kardus dikumpulkan, dilipat dan dikilokan, kardus beralih menjadi pundi-pundi uang sebagai pengganti. Kardus bukan benda mewah. Kardus sebatas benda penyampul barang mewah. Kesannya kalah dengan isinya. Ia biasanya sekadar klambi atau kulit bagi barang lux.

Bagi Setyaningsih dalam buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016), kardus lebih dari seonggok atau setumpul benda mati yang tak berguna. Setyaningsih dengan bahasa puitiknya menarasikan kardus menjelma menjadi bagian dari kehidupan. “Di tempat lain, kardus menjelma menjadi rumah-rumah kardus. Kemelaratan mendera, menjadikan kardus pelindung dari panas, hujan, dingin, angin dan air. Di waktu yang lain, kardus menjadi wadah besar berisi pakaian, oleh-oleh dan aneka makanan. Mengantarkan orang-orang melakoni perjalanan pulang kampung.”

Kita tak bisa menyangkal bahwa masyarakat Indonesia memiliki kultur yang tidak bisa ditilapkan setiap tahunnya. Kebiasaan mudik atau pulang kampung pada Bulan Ramadhan, yang ditambah ramai saat menuju Hari Raya Idul Fitri, kardus tak bisa ditinggalkan dari kultur tahunan ini. Kardus menjadi teknologi tepat guna. Kardus sangat cocok untuk membungkus atau menghantarkan “rezeki dari kota untuk orang di desa”. Kardus sangat efektif melintasi batas wilayah, atau berekspansi di negeri orang.

Sisi lain, di toko-toko, swalayan, pasar hingga di terminal, kardus merupakan barang yang sangat representatif untuk menyatukan satuan barang bawaan. Di pasar juga di terminal, kardus dijinjing lebih tinggi dari kepala, saat (diperangkol) dijinjing dipundak menuju bagasi-bagasi mobil maupun angkutan. Seperti kaleng, kardus telah bertransformasi sedemikian rupa untuk mempermudah kinerja manusia. Kardus dan kaleng mengajarkan kita untuk menentukan kebermaknaan hidup dengan lingkungan sekitar (yang dianggap tak berguna). Sekarang, kekhasan kardus mulai hilang oleh keberadaan kantong-kantong plastik, ya meskipun tak semua. Demikian.