Turanggayaksa

Pada salah satu sesi debat kandidat, seingat saya, Mas Emil (sekarang: Bupati Trenggalek) menjanjikan untuk membawa Turanggayaksa (biasanya dituliskan: Turonggoyakso) ke Jepang. Ada satu agenda seni-budaya tahunan yang berpeluang mengakomodasi seni jaranan yang lahir dari Dongko itu di Jepang. Itu pasti akan menjadi kesempatan yang penting untuk mengiklankan Trenggalek, Jawa Timur, Indonesia, ke ”pasar” global. Sebagaimana berpromosi/beriklan pada umumnya, apalagi ini menyangkut perjalanan ke luar negeri bukan seorang dua orang, melainkan rombongan: penari, pemusik, penata-rias, gambuh, pejabat pendamping, tentu ongkosnya akan mahal. Kecuali, turanggayaksa sebagai pihak yang di-tanggap. Baiklah, apa pun formatnya, itu sebuah peluang. Saya hanya ingin menawarkan peluang lain, yang (ongkosnya) dijamin lebih murah.

Salah satu berkah dari program pelatihan tari turanggayaksa di sekolah-sekolah di seluruh Trenggalek, adalah kita punya kader-kader kesenian dari sekolah-sekolah itu yang sebagian di antaranya kemudian harus pergi ke luar negeri mencari pekerjaan, selain yang lebih beruntung (ke luar negeri) dengan alasan utama melanjutkan studinya. Dengan penguasaan tari turanggayaksa itu setidaknya kita memiliki—sebutlah dengan—” duta budaya” dari kalangan para pekerja migran di beberapa negara seperti saya singgung di sini.

Dua negara tempat pekerja kita mengais rezeki yang memungkinkan mereka mengembangkan minat dan bakatnya di bidang kesenian adalah Hong Kong dan Taiwan. Saya hanya mengetahui bagaimana para pekerja asal Indonesia di Taiwan beraktivitas di luar pekerjaan mereka (pada waktu libur), termasuk di bidang kesenian, melalui cerita dan pekabaran. Tetapi, bagaimana kiprah para perempuan pekerja migran asal Indonesia–tentu sebagian di antaranya dari Trenggalek—di Hong Kong, sudah saya saksikan sendiri. Mereka menyelenggarakan acara-acara kesenian, mengundang narasumber dari Indonesia dan menggelar sarasehan, mendirikan grup jaranan, kasidah, band, membuka/mengikuti kursus tata-rias, termasuk rias pengantin Jawa, menggelar lomba modeling, dan sebagainya.

Menunggangi Turanggayaksa
Menunggangi Turanggayaksa

Suatu ketika Koran Berita Indonesia yang terbit di Hong Kong menggelar lomba penulisan cerita pendek, dan salah satu pemenangnya adalah kawan dari Trenggalek yang jika saya tak salah ingat, punya akun facebook: Libra Artreng.

Pemerintah Hong Kong sangat terbuka, sehingga para pekerja migran dapat mendirikan organisasi, melakukan berbagai kegiatan, termasuk di bidang seni-budaya berpartisipasi dalam festival-festival yang digelar oleh pemerintah setempat maupun oleh swasta.

Oleh karena itu, saya kira bukan impian kosong jika Trenggalek punya niat untuk menggetarkan Hong Kong dengan Turanggayaksa-nya, misalnya dengan mengirimkan seperangkat alat/perlengkapan dan mendampingi sebuah kelompok pekerja migran asal Trenggalek untuk berlatih dan mementaskan turanggayaksa di Negeri Beton itu. Jika harus ngirit ongkos, kegiatan pelatihan bisa dilakukan secara online kok, bisa dengan bantuan youtube atau aplikasi lain. Nah, sekali waktu, doronglah agar kelompok itu menyelenggarakan acara serta bantulah dana secukupnya. Saya pernah kok, mengikuti rombongan dari eksekutif dan legislatif Pemprov Jatim (2007) untuk sebuah acara semacam silaturahmi dan sarasehan, itu ya mereka—para pekerja migran asal Jawa Timur—yang jadi event organizer-nya!

Cekak-cukupe kudune bisa, yen… kita mau!

BERBAGI
Artikel sebelumyaMewaspadai Dampak Buruk Pembangunan Daerah Pesisir
Artikel berikutnyaSemarak Kontes Durian di Desa Sawahan
Bonari Nabonenar
Lahir di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (1964), menulis dengan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Ikut menyunting tabloid berbahasa Jawa bagi remaja Bro dan Majalah Peduli yang diterbitkan untuk komunitas pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong. Dapat dihubungi melalui: [email protected]
  • penulisan untuk nomen klatur –yg telanjur terakreditasi susah diubah. tetapi, untuk hal-hal seperti “alon-alon” — di bojonegoro, misalnya, kini sudah diubah jadi benar: “alun-alun.”

  • Tanggal 17 April 2016, silahkan merapat ke Perumahan Trenggalek Indah untuk menyaksikan pertunjukan jaranan Sentherewe & Turanggayaksa. Untuk pakem asli apa kreasi lansung cek TKP aja nanti.

    @mas Bonari: sesekali pemkab perlu disenggol tentang penulisan nama aset wisata daerah yang baik dan benar

    • Jian***

      Itu yang ngadakan siapa mas?

  • Trigus D. Susilo

    Saya malah menginginkan, ada pertujukkan jaranan Turanggayaksa yang memakai pakem asli dari asalnya. Lengkap dengan hal mistis (kalau asal ada). Di lakonkan dengan sakral (sambil membayangkan suasana Trenggalek tahun 80-an)

  • saya melihat fenomena jual beli pulung itu. kelompok kesenian jaranan itu pada dasarnya kan (seperti) kelompok teater juga, satu tradisional dan lainnya modern. dalam kelompok-kelompok teater modern saja, nuansa pstronase-nya sangat kuat. Lihat: Rendra, Teguh Karya, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, Moch. Diponegoro, Hasyim Amir, Butet, dan seterusnya. Cekak-cukupe, pihak pertama yang paling mathuk diajak diskusi soal fenomena jual-beli pulung itu adalah para ketua grup/sesepuh.

    Fenomena tersebut juga menunjukkan bahwa seni-buidaya yang dalam konsep tradisi diakui sebagai kagunan dan erat kaitannya dengan “laku-lelaku” itu kini telah menjadi hanya sebangsa komoditas yang dapat direbus dan digoreng secara instan.

  • Gondes

    Efek negatif dari semakin ‘cetar’-nya jaranan, salah satunya adalah jual beli ‘pulung’. Memang lucu bagi yang belum pernah dengar atau lihat sendiri. Biasanya dijual 20ribuan langsung bisa coba di tempat. Efeknya bisa dikatakan seperti narkoba. Tiap denger gamelan langsung fly (baca: ndadi)

    😀