Jam tangan menunjukkan pukul 10 siang, ketika saya menyambangi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil). Tanpa basa-basi, langkah saya langsung menuju petugas pemberi nomor antrian. Ketika berkas pengajuan akta kelahiran itu saya sodorkan, dengan sangat ramah nan tegas, petugas pemberi nomor antrian menyilakan duduk. Selanjutnya, dengan gaya cekatan lazimnya para “pegawai tidak tetap” yang menginginkan jadi PNS, dia menyibak satu-persatu berkas yang sebelumnya telah saya bawa ke desa, KUA dan kecamatan.

Tangan kanannya meraih mesin pencetak nomor antrian dan memberikannya kepada saya, lengkap dengan berkas saya, yang sudah dikasih form pengajuan.  Katanya, “Ini pak nomor antriannya: untuk pengurusan akte kelahiran antriannya nomor 82; untuk urusan KK nomor antrian bapak 199.” Saya cek kertas nomor antrian yang telah diberikan, saya dapati masih ada 97 orang yang antri di depan saya untuk mengurus KK; dan 25 orang antrian untuk mengurus akta kelahiran.

Mas, kira-kira sampai jam berapa ya hingga sampai di nomor antrian saya ini?” tanya saya kepada petugas pemberi nomor antrian. “Silakan ditunggu sampai Magrib, Pak,” jawabnya tegas, sambil sesekali memeriksa berkas lain. “Kalau saya tinggal pulang dulu lalu datang lagi boleh, Mas?” tanya saya lagi di sela-sela kesibukannya. “Ditunggu di sini ya, Pak.” Jawabnya kembali, seolah tidak memikirkan bagaimana rasanya menunggu dari jam 10 sampai jam 5 sore tanpa kegiatan lain.

Saya mengambil tempat duduk ruang tunggu, tepatnya di bawah terop halaman kantor Capil, bersama orang-orang yang sudah sedari tadi menunggu. Saya dekati salah satu pengantri untuk meminjam alat tulis guna mengisi form yang telah diberikan oleh petugas nomor antrian. Meski sebetulnya agak risih mengisi form (lantaran ada tulisan dicetak dengan huruf tebal “BIODATA PEMOHON (DIISI OLEH PETUGAS PENDAFTARAN)”. Karena tidak ingin mengulur waktu, saya isi form sesuai anjuran petugas pemberi nomor antrian. Mungkin, para petugas, sangat kewalahan untuk sekadar mengisi form yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga meminta tolong kepada pemohon (termasuk saya).

Orang yang meminjami alat tulis pada saya membuka obrolan, “Ngurus napa, Mas?” tanyanya. “Ini mas ngurus akte kelahiran kalian tambah KK,” jawab saya sambil mengembalikan alat tulis yang saya pinjam. “Panjenengan ngurus napa, gek sampun dangu napa dereng?” tanya saya balik. “Iki mas arep njupuk KK, wes awet jam 8 maeng ndek kene” jawabnya. Berarti dia sudah di sini selama 2 jam, lebih awal dari kedatangn saya.

Saat itu, ada sekitar 250 an orang. Saya memandang sekeliling untuk mengeksplorasi, tidak ada satupun wajah yang saya kenal. Dan sebenarnya, ini bukan kali pertama saya berurusan dengan Dispendukcapil. Sudah ada sekitar 15 kali, saya menyambangi kantor yang mengurus hajat hidup orang banyak ini. Namun, belum ada perubahan yang signifikan mengenai pelayanan. Setiap orang yang datang ke sini, harus menyiapkan kesabaran untuk menghadapi rasa jenuh. Rata-rata setiap orang selalu punya waktu menunggu antara 1 sampai 2 jam. Tergantung ramainya para pelapor. Namun, saya dapati dalam rentang setahun ini Dispendukcapil tidak pernah sepi. Saya tahu, karena setiap saat saya melewati kantor ini.

Pembaca tidak perlu tahu bagaimana saya menghabiskan waktu antara jam 10 sampai jam 12 siang. Karena seperti yang telah saya katakan di atas, memasuki Dispendukcapil, harus ekstra sabar supaya tidak jenuh. Kalau Anda peka, mungkin gadis belia yang kebetulan lewat dan berlalu-lalalng mengurus KTP, bisa menjadi obat penghilang jenuh. Atau mungkin, menghabiskan rokok satu bungkus tanpa kerjaan, juga merupakan jalan lain supaya rasa jenuh tidak menggila.

Sesekali saya bertanya kepada para pemohon untuk mencari tahu apa yang ia rasakan ketika sudah menunggu beberapa jam. Dan tidak pernah saya temui jawaban “senang” dari mereka. Satu-satunya ucapan yang layak diucapkan hanyalah, “kok sui timen!”. Dan itu wajar, karena menunggu itu sangat membosankan.

Di sela-sela kepulan asap rokok, saya berpikir, alangkah indah andai kantor Dispendukcapil dipindahkan saja ke lokasi yang dekat dengan tempat rekreasi, seperti pantai misalnya, atau dekat air terjun, supaya kejenuhan menunggu ini tidak terlalu dimanjakan… (guyon, Saudara..) Dan pantas saja, kalau tidak salah, sebentar lagi kantor Dispendugcapil Trenggalek akan pindah ke sebelah Green Park Trenggalek. Tempat nongkrong papa dan mama muda dengan anak-anak dan juga area wifi corner yang telah menjadi kebanggaan bupati dan wakilnya. Menurut saya, itu adalah salah satu cara supaya, ketika orang mendatangi Dispendukcapil bisa sekalian tamasya menghilangkan rasa jenuh.

Pernahkah Anda melihat orang yang sedang menunggu keluarganya di rumah sakit? Jika pernah, berarti Anda bisa menyaksikan orang-orang di sini. Wajah-wajah para pemohon di Dispendukcapil ini mirip dengan para penunggu orang sakit di rumah sakit. Gurat wajah mengkerut, pandangan mata kosong dan sering menghela nafas panjang. Dan ini sangat wajar, karena sudah saya katakan, menunggu itu menjemukan kecuali bagi orang yang berprofesi menguruskan berkas orang lain.

Jam 12.00 WIB sampai 13.00 para petugas masuk jam istirahat. Artinya, analog antrian juga berhenti. Tidak ada aktivitas pemeriksaan berkas. Para penunggu ada yang memanfaatkan untuk istirahat (bagi yang rumahnya dekat), ada yang mencari makan dan ada juga yang memilih tetap untuk menunggu. Saya pun memilih untuk melanjutkan aktivitas lain, yang lebih produktif.

Datang jam 13.00 WIB, saya dapati petugas kembali melanjutkan pekerjaan. Dan saya harus tetap menunggu sampai tiba pada nomor antrian, kira-kira dua sampai tiga jam lagi.  Tidak ada yang bisa saya lakukan, saya pergi berarti harus mengulang antri keesokan hari, maka duduk diam sambil merokok adalah pilihan sambil sesekali membuka handphone mengecek apakah ada pesan masuk. Sehari ini waktu benar-benar berhenti, tidak ada aktivitas yang bisa saya lakukan. Dan seharusnya Dispendukcapil punya ide atau apalah, supaya orang-orang ini tidak dihajar kejenuhan. Karena kejenuhan sangat berpotensi memunculkan nyinyir.