Kabut-di atas gunung jaas

Trenggalek yang hampir seluruh kawasannya adalah pegunungan merupakan sumber mata air bagi sungai-sungai yang mengalir di kawasan Kabupaten Trenggalek. Sungai-sungai tersebut menjadi sumber kehidupan warga Trenggalek. Kini daerah aliran sungai tidak sedikit yang sudah berubah dengan dipadati bangunan, khususnya di sekitar pusat kabupaten. Sungai-sungai itu kian sempit dan penuh lumpur sehingga airnya mudah meluber dan menghasilkan banjir.

Gencarnya pembangunan juga telah mengubah sebagian profil tanah yang ada di Trenggalek. Semen dan aspal, misalnya, telah digunakan untuk menutupi sebagian besar tanah tanpa memperhitungkan dampak negatif tata air bawah tanah. Berbagai lekukan tanah sebagai “busa” air di musim hujan kini telah menjadi perumahan. Belum lagi dengan sungai yang sekarang lebih berfungsi sebagai “tempat sampah”. Tak heran ketika hujan lokal turun deras, mudah bagi sungai-sungai itu mendatangkan banjir.

Ketika  hujan deras di hulu sungai dan hujan lokal di hilir sungai, air hujan yang seharusnya tersimpan di “busa”, mengalir begitu saja melalui sungai yang menyempit, berlumpur dan penuh sampah. Jika hal itu terus dibiarkan, maka Trenggalek bisa saja akan selalu terkena banjir dan terus terjadi hingga tahun-tahun mendatang.

Dalam pandangan manusia sekarang, alam memang kerap dianggap “barang ekonomi” yang bisa memberi keuntungan bagi manusia. Sementara “jasa lingkungan” tidak bisa ditangkap nilainya, seperti nilai guna air tawar, udara bersih, cuaca yang menyenangkan, sinar matahari pagi, dan seterusnya. Kesimpulannya, orang sering rela merusak lingkungan demi keuntungan ekonomis yang diukur dari pandangan manusia kekinian. Logika seperti inilah yang mendorong manusia membangun tanpa mengindahkan dampak dari apa yang mereka lakukan. Mereka membangun perumahan di atas tanah resapan air dan kawasan yang seharusnya menjadi “busa” bagi air hujan, menutup aliran air tanah, alih fungsi lahan dan mengotori sungai. Biaya kerusakan alam baru disadari setelah terjadi bencana.

kabut-di-atas-gunung-jaas

Jika terus dilanjutkan, bisa kita tebak bagaimana keadaan Trenggalek ketika memasuki musim hujan di tahun-tahun mendatang. Dengan keadaan alam saat ini, seperti misalnya global warming yang tiap tahun terus meningkat, salah satu efeknya adalah musim hujan memendek dengan intensitas tinggi dan musim kemarau yang panjang. Kedua hal itu adalah penyebab terjadinya berbagai bencana di Trenggalek. Tak hanya ketika musim hujan saja, tetapi juga pada musim kemarau bisa menjadi penyebab bencana semisal kekeringan, sulitnya mendapat air tawar, gagal panen dan lain sebagainya.

Di sini ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah bencana terjadi berulang-ulang, Pertama, kerjasama lintas sektoral dalam perencanaan dan pelaksanaan tata ruang di Trenggalek. Tak hanya dinas-dinas terkait, namun juga dari pemerintah kabupaten, kecamatan hingga desa, terlebih jika didukung oleh para ahli dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, swasta, aktivis, pemerhati lingkungan, dan lainnya. Kedua, yakni tidak diberikannya izin bangunan bagi siapapun yang akan membangun di lokasi tanah yang menjadi daerah resapan air maupun yang direncanakan untuk menjadi “busa” bagi air tanah. Bangunan yang berdiri tanpa izin sehingga memperparah banjir perlu ditertibkan. Prinsipnya, lokasi yang penting bagi kepentingan publik tidak dikomersialkan untuk peningkatan pendapatan asli daerah. Begitu dengan tarif pajak bumi dan bangunan untuk kawasan yang memperparah banjir juga harus dilipatkan.

Dengan jumlah penduduk Trenggalek yang kian bertambah serta kebutuhan untuk membangun lebih banyak, tekanan pada sumber daya alam tentu kian meningkat. Oleh karena itu kita perlu meningkatkan lagi gerakan “sadar lingkungan” guna menyelamatkan alam untuk keberlanjutan kehidupan di Trenggalek. Atas dasar ini pemahaman pembangunan diubah dari orientasi serba ekonomi menjadi pandangan berwawasan lingkungan guna mengembangkan kehidupan yang harmoni bersama alam.

Dari yang saya sampaikan di atas, saya sepenuhnya sadar bahwa saya bukanlah seorang ahli dalam bidang-bidang tersebut, dan sungguh tiada maksud untuk menjadi warga Trenggalek yang keminter, apalagi menyinggung dan menyakiti pihak-pihak tertentu. Bagaimanapun, layaknya sebuah karya seni, apa yang ingin disampaikan seniman melalui karyanya belum tentu sama dengan apa yang diterima oleh penikmat karya seni tersebut. Hanya berharap semoga apa yang saya sampaikan di atas mengandung sesuatu yang bermanfaat bagi Trenggalek.

Salam Lestari!