Janggelan-cincau-hitam

Jombok adalah salah satu desa di Kecamatan Pule, salah satu kecamatan di Kabupaten Trenggalek yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Ponorogo di sebelah baratnya. Saya dua kali menginjakkan kaki di Kecamatan Pule, pertama tahun 2OO7 dan yang kedua tahun 2017 ini. Bisa saya sebut bahwa perjalanan kali ini bagian dari mengumpulkan mozaik yang terpecah menjadi satu kenangan.

Dari Kota Trenggalek menuju Kecamatan Pule, kita harus melalui sekurangnya Kecamatan Karangan dan Kecamatan Suruh. Perjalanan ini serupa mengingatkan kenangan lampau. Saya meyakini bahwa saya pernah melewati jalanan ini.

Lepas dari pertigaan Kecamatan Suruh yang membagi jalanan menuju ke Kecamatan Dongko dan Kecamatan Pule, saya langsung disuguhi jalan beraspal naik. Kelokan-kelokan serupa gerak ular menambah rasa nggumun akan hijaunya alam Trenggalek. Pohon pinus dan pohon jati menjadi peneduh sekaligus saksi kehijauannya.

Apik banget” ucap saya kepada Adib, teman yang menyetir motor, di sela sela kebisuaan kami. Adib tidak nggumun karena sudah beberapa kali menyambangi jalanan ini untuk mengumpulkan serpihan sejarah yang mulai di-asingkan penduduk.

Pule bagi saya lumayan dingin, setidaknya itu yang terasa selama saya nginap 7 hari di sana. Jadi kesimpulan ini sudah teruji. Di malam hari, Pule menguapkan hawa dingin sampai ke tulang-tulang sendi. Ketika tidur, selimut dua lapis mungkin baru akan memberikan efek hangat. Meski demikian, oksigen yang dihasilkan lebih melegakan ketimbang asap polusi di perkotaan.

Di antara keunikan Kecamatan Pule, satu di antara yang menarik perhatian adalah tanaman janggelan atau lebih familiar dsebut cincau hitam. Tanaman yang menjadi komoditas pertanian utama bagi beberapa orang di Pule. Poin pentingnya, tanaman janggelan tidak ditemukan di kecamatan lain di Kabupaten Trenggalek. Menurut keterangan beberapa warga, tanaman ini ada di kecamatan Pule dan Kecamatan Dongko.

Saya dan Doni –salah satu penulis nggalek.co—bersepeda menuju salah satu rumah penduduk, namanya Pak Surayi, perkenalan saya dengannya terjadi saat kami sama-sama menghadiiri pameran di alun-alun Trenggalek. Dari perkenalan kami itulah saya jadi tahu bahwa ia adalah pengusaha tanaman jenggelan. Tidak hanya mengumpulkan hasil panen, namun menurut ceritanya, ia dan warga berhasil membuat makanan dan minuman dari tanaman janggelan. Hingga pagi itu, Doni menyambangi saya di kontrakan dan mengajak untuk melihat lihat tanaman janggelan di Pule lebih jauh.

Mesona Palustri BL merupakan tanaman yang subur tumbuh pada dataran tinggi dengan intensitas cahaya matahari tinggi. Tanaman yang dalam bahasa Inggris disebut black grass jelly ini banyak ditemui di Desa Jombok, Kecamatan Pule. Di sepanjang jalan saat menuju rumah Pak Surayi, saya mencurigai tanaman serupa rumput berwarna hijau berdaun kecil dan bergerumbul merupakan janggelan. Di perjalanan, saya meyakinkan Doni bahwa itulah tanaman janggelan. Meski saya sendiri belum tahu wujudnya.

Keyakinan saya semakin bulat, ketika menjumpai rumput yang mulai menghitam, di susun rapi dan di-pepe (dijemur di bawah terik matahari] berbaris di depan rumah seorang warga. Rumput-rumput itu dibiarkan mengering diterpa sinar mentari. Sambil kebingungan mencari rumah Pak Surayi, kami turun untuk menanyai warga yang kebetulan berada di depan rumah. “Pak badhe tangklet, daleme Pak Surayi pundi, nggeh?”. Ia menanggapi tanpa berlama-lama, “Pean ikuti jalan iki, terus pas pertigaan belok kanan. Rumah e ngisor dalan.” Kami mengucapkan terima kasih dan melanjutkan perjalanan. Di sela-sela percakapan tadi, saya sempat menanyakan perihal rumput yang di-pepe. Dari laporan warga tersebut kami mengetahui dengan pasti, bahwa rumput tersebut bernama janggelan.

janggelan-kering

Rumah Pak Surayi, terletak menjorok ke bawah. Meski begitu, akses jalan ke sana mudah karena sudah ditambal semen. Ketika sampai di sana, kami mendapati 3 orang perempuan yang sedang memilah-milah daun janggelan, memisahkan daun dari pohonnya, atau memisahkan rumput-rumput liar lain yang ikut terpanen.

Dalem pak Surayi Bu? Tanya kami kepada salah satunya, sambil menunjuk rumah yang di tempati mereka.

Enggeh dek, tapi bapake lagi tindak, mboten wonten ndalem” terang salah satu perempuan paling muda. Kami tidak heran dengan aktivitasnya, di samping mengajak orang-orang untuk berdikari mengelola janggelan supaya menjadi tambahan ekonomi bagi warga sekitar, ia juga aktif menghadiri undangan dari pejabat pemerintah Trenggalek. Meski pada suatu kesempatan, ia mengaku merasa menjadi obyek program dari pemerintah. Namun keyakinan bahwa jangelan dapat mengubah ekonomi masyarakat jadi lebih baik adalah tujuan utama dia. Rasa ini lah yang tetap ia pegang untuk bisa berpartisipasi menghadiri undangan. Dan saat kami ke rumahnya, ia sedang mendatangi undangan dari pemerintah untuk sosialisasi pengiriman.

potensi-lapangan-pekerjaan-janggelan-atau-cincai-hitam

Ketiga perempuan yang duduk di halaman Pak Surayi merupakan penerima manfaat dari jangelan. Mereka telaten memunguti daun daun janggelan untuk dikumpulkan terpisah dari batangnya. Kata mereka, daun janggelan lebih ekonomis ketimbang batangnya. Ketika kami masuk ke ruangan di dalam rumah, terdapat banyak timbunan daun janggelan siap jual.

Bu, ini dijual ke mana? Tanya kami. “Niki dikirim ke Wonogiri pak, setiap hari bisa sampai 5 truk janggelan kering dibawa dari Pule”. Benar, Pak Surayi pernah mengatakan hal demikian pada saya beberapa waktu yang lalu. Penduduk setempat meski sudah bisa membauat janggelan menjadi ekstrak serbuk janggelan, stik janggelan dan minuman dari janggelan, namun belum bisa mengelohnya dalam sekala besar.

Rata-rata, hasil janggelan kering ini dikirim ke Wonogiri, Jawa Tengah. Artinya Kabupaten Trenggalek sendiri belum mampu mengolah janggelan menjadi komoditi pertanian utama yang dapat memberi keuntungan dan nama bagi kabupaten. Nyata-nyata perhatian pemerintah Trenggalek masih kalah jauh dengan rumah cokelat Trenggalek dan kebun kopi Van Dilem di Kecamatan Bendungan. Padahal secara kuantitas, janggelan jauh di atas segalanya ketimbang kopi dan coklat di Trenggalek.

Saya menghubungi Pak Surayi melalui handphone. Dari seberang saya mendengar jika ia sedang berada di sebuah forum sosialisasi pengiriman barang di kantor dinas. Ketika kami beritahukan posisi kami di rumahnya, ia menawarkan diri untuk segera kembali. Namun kami menolak ia untuk menyegerakan pulang karena kami juga tidak berlama-lama di sini. Selanjutnya kami melanjutkan ngobrol dengan para perempuan yang sedang bekerja dan perempuan pemilik rumah di sebelah rumah Pak Surayi.

Mboten sumerep, Mas. La wong janggelan niki ujug-ujug wonten” ini adalah jawaban wanita paling tua, ketika kami tanyai siapa yang telah membawa janggelan masuk ke Desa Jombok. Ketika kami datang, wanita ini membukakan pintu rumahnya untuk menyilakan kami masuk, tapi kami bersikukuh untuk duduk duduk di emperan pawon sambil mencermati janggelan yang di-pepe, dan juga janggelan yang tumbuh subur di dalam polybag. Pun dengan tiga wanita yang semula memilah-milah janggelan, masih tetap melanjutkan aktivitasnya.

serbuk-janggelan-dan-stik-janggelan
Hasil olahan janggelan atau cincau hitam

Ketika saya bertemu dengan Pak Surayi pada malam pameran di alun-alun kota, ia mengenalkan serbuk janggelan yang sudah dikemas. Namun kemasan yang di bawah masih sangat sederhana, hanya berbentuk kemasan plastik bening ditempeli stiker seadanya. Di dalam kemasan plastik besar tersebut, terdapat 1O kemasan tablet obat (plastik klip yang lazim digunakan membungkus obat). Kedatangan kami ke sini salah satunya untuk melihat kemasan baru yang dikabarkan oleh Pak Surayi sebelumnya. Kemasan yang baik, bagus digunakan dalam pemasaran. Tujuan yang lain adalah ingin mencicipi hasil olahan janggelan dalam bentuk stik renyah.

Wanita tua pemilik rumah membawakan kemasan yang kami maksud ketika kami mengutarakan keinginan untuk melihat dan membelinya sebagai sampel. Benar, Pak Surayi dan kawan kawan telah membuat kemasan yang lebih baik dari sebelumnya. Kami memegang satu persatu produk yang sudah dikemas, mengamati kesungguhan kelompok ini dalam memopulerkan janggelan.

Daun yang bagus kami olah menjadi makanan dan minuman siap saji mas, dan yang lain kami jual ke penadah, namun harganya searang mulai turun, tidak seperti di awalawal yang bisa sampai 15 ribu ke atas perkilonya. Sekarang daun paling bagus seharga 5 ribu per kilonya,” terang salah satu perempuan sambil membawakan dua gelas minuman janggelan. Kami hanya mengangguk seraya menanggapi seperlunya sambil menikmati janggelan yang disajikan.

Minuman dari janggelan, memiliki rasa yang khas, rasa yang kami temui di minuman dan stik hampir sama. Saya sendiri mengenal rasa janggelan saat masih kecil, itu ketika emak saya membawakan dawet yang dibelinya dari pasar. Jeli dari janggelan sudah lama digunakan pembuat dawet untuk menambah cita rasa. Cairan hitam pekat hasil ekstrak jenggelan ini dikabarkan memiliki jumlah kalori dan serat tinggi, sangat baik untuk pencernaan dan juga untuk menambah energi.

Hampir setengah jam kami duduk dan jagongan bersama beberapa perempuan, Doni membeli beberapa bungkus serbuk janggelan, dan si ibu tua memberikan stik beberapa bungkus untuk kami. Kami bertolak dari rumah Pak Surayi sambil mengamati tumbuhan janggelan yang bergoyang ditiup angin. Sebenarnya, banyak sekali potensi yang ada di Trenggalek. Lantas kenapa pemerintah seolah kebingungan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dan melakukan branding yang kadang salah kaprah. Menurut saya, pemerintah harus lebuh cerdas lagi menangkap peluang ini, ketimbang membranding kopi van dilem yang tidak jelas barangnya, kenapa tidak mengembangkan janggelan saja menjadi ikon Kecamatan Pule, seperti baranding Pule Kampung Janggelan misalnya. Saya rasa ini belum ada di manapun.