BERBAGI
petugas kebersihan mengumpulkan sampah yang telah dikumpulkan warga sekitar telaga sarangan

Berkunjung ke tempat wisata yang indah tentu menjadi kesenangan bagi banyak orang. Selain keindahan, kebersihan lokasi wisata juga menjadi penentu tingkat kenyamanan saat dikunjungi. Tidak perlu berpikir bahwa pengunjung tempat wisata selalu turis, pengunjung itu bisa termasuk kamu (pembaca tulisan ini).

Menjaga kebersihan lingkungan, baik yang ada di sekitar lokasi wisata, di sekolah, maupun di sekitar rumah sendiri adalah tanggung jawab kita, bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan. Kenapa bisa begitu? Karena ya yang bisa menikmati kebersihan bukan hanya petugas kebersihan, melainkan juga kita-kita ini yang malah lebih sering buang sampah sembarangan.

Coba bayangkan, jika masalah kebersihan lokasi wisata yang ada di Trenggalek hanya diserahkan kepada petugas kebersihan, yang kerjanya pada jam-jam tertentu, jadinya barangkali seperti sekarang. Dari ujung timur, mulai Pantai Karanggoso, Pantai Simbaronce, Pantai Pasir Putih, Pantai Prigi, Pantai Cengkrong (di Watulimo) hingga ujung barat yakni Pantai Pelang (di Panggul), sudahkah lokasi-lokasi wisata itu menjadi tempat yang bersih dari sampah plastik dan juga dari sampah yang lain?

Bagi yang pernah ke beberapa tempat yang saya sebut, tentu akan mengatakan, “Iya, sangat bersih, secara bupatinya ‘kan masih muda-muda dan beristri cantik-cantik.” Ini kemungkinan besar biasanya adalah jawaban dari para pendukung bupati garis keras yang tak sedikitpun mau junjungannya disentil, meski sentilan sebesar upil. Sehingga, tidak bisa membedakan mana cinta suci dan mana cinta buta. Seolah mendukung adalah mutlak, tak peduli apakah suci atau buta.

Tapi bagi saya, orang yang memang sudah bisa membedakan mana cinta dan mana dusta ini (hahaha..), akan mengatakan dengan jujur, bahwa meski Trenggalek sudah memiliki 5 penghargaan Adipura, sebetulnya Trenggalek belum bersih-bersih amat. Khususnya jika penilaian ini di-alamatkan pada beberapa lokasi wisata. Mutlak ini berdasarkan dari pengamatan yang saya lakukan selama beberapa bulan. Jikalau ada lokasi wisata yang kebetulan bersih, lokasi itu ada di Pantai Tiluh yang terletak di sebelah barat daya Pantai Damas. Pantai di situ masih bersih karena tentu saja jarang atau bahkan tidak ada pengunjungnya.

Jadi, bisa saya ambil kesimpulan, di mana ada manusia, di situ pasti ada sampah dan kotoran. Sederhana saja kesimpulan ini saya ambil. Kenapa sampah di Pantai Prigi lebih banyak bila dibanding sampah di Pantai Damas? Jawabannya, karena Pantai Prigi memiliki populasi penduduk lebih besar dari Pantai Damas. Mikir itu yang simpel-simpel tapi mudah dipahami saja, ora usah ngomong yang muluk-muluk tapi susah dicerna.

Jika di atas saya katakan, bahwa menjaga kebersihan lingkungan itu adalah kewajiban setiap insan, maka apa yang terjadi jika setiap insan yang ada di suatu lokasi tidak mau menjaga kebersihan lingkungan? Hai kamu (iya kamu, tak usah plenggang-plenggong). Jawab saja sendiri. Yang pasti, kamu akan mendapati sampah dan limbah yang saling bahu-membahu menciptakan lingkungan kumuh, rusuh dan bau. Tidak bisa dipungkiri, jika saja setiap orang menyadari bahwa menjaga kebersihan itu penting, maka lingkungan yang bersih dan sehat mudah untuk diciptakan. Bisa, ya?

Pasti bisa… Beberapa saat setelah melakukan pengamatan kebersihan di lokasi wisata yang ada di Trenggalek, tanpa sengaja, saya sampai di Telaga Sarangan, Magetan. Saya mengamati tingkat kebersihan di seputar telaga yang nota bene telah dikuasai oleh para pedagang lokal. Ternyata, jalanan yang ada di sekitar warung dan tanah di setiap warung sangat bersih. Saya hampir tidak menemukan plastik yang berserakan. Beberapa menit saya tertegun namun tetap melanjutkan pengamatan. Ada satu tanya dalam pikiran, siapa yang telah membersihkan tempat ini tiap saat, sehingga tampak bersih? Pertanyaan itu terjawab setelah mata saya menatap sapu lidi dan sapu sepet tersandar di samping warung sate kelinci. Belum puas melakukan pengamatan, saya lanjutkan lagi dengan berjalan, dan hebatnya, saya selalu melihat sapu lidi atau sapu sepet di setiap warung atau toko. Jadi, langsung saya menyimpulkan, bahwa warga yang berjualan di sekitar telaga sarangan sangat bertanggung jawab dengan kebersihan.

lokasi wisata telaga sarangan tampak bersih
lokasi wisata telaga sarangan tampak bersih

Beberapa minggu dari kunjungan saya ke Telaga Sarangan, akhirnya saya bertemu dengan salah seorang yang berprofesi sebagai pemberdaya masyarakat yang kebetulan tinggal di Magetan. Saya tanya, “Siapa yang telah menggerakkan warga di seputar Telaga Sarangan sehingga mau menjaga kebersihan lingkungan?” Orang yang baru saja saya kenal tersebut menjawab, “tidak ada, mereka telah menyadari sendiri bahwa menjaga kebersihan di lokasi wisata sangat penting dan bisa menguntungkan.

So, dari kunjungan saya yang tidak dibiayai oleh pemerintah tersebut, saya langsung mempunyai gagasan supaya wisata yang ada di Trenggalek bisa terjaga kebersihannya dan juga dapat menguntungkan. Jadi, semakin benar dugaan saya, jika kebersihan lingkungan menjadi kesadaran bersama, tentu menciptakan lingkungan bersih bukan suatu hal yang mustahil.

Ambil contoh di Pantai Pasir Putih, kalau saja kebersihan lingkungan dijaga dengan benar, tentu mas-mas dan mbak-mbak yang tergabung dalam organisasi pecinta alam NIPONK tidak perlu turun gunung untuk membantu Dinas Pariwisata—yang (maaf) klemak-klemek—membersihkan sampah menjelang tahun baru. Pun mereka tidak harus kecewa karena melihat ketapang yang susah-susah mereka tanam di Pantai Simbaronce digusur warga demi mendirikan warung kaki lima, yang saya pastikan akan menambah reproduksi lalat hingga menjadi banyak. Hati nuraninya itu lo, di mana?

Saya gambarkan lokasi di sana, kendati pasir putih di tahun 2004 masih memiliki banyak pohon kelapa dan tanam-tanaman yang menjadikan tampak hijau, sekarang kondisinya sudah semakin vulgar. Kebersihan tidak terlalu digubris, sedang para penjual di sana agak sedikit acuh untuk sekadar memegang sapu. Tapi kalau untuk urusan suguh, aruh lan lungguh tidak perlu ditanya, mereka kumpulan orang berbakat dalam menyenangkan hati tamu. Sayangnya, hanya satu, kolaborasi petugas kebersihan dan para pemilik warung tidak secantik yang diharapkan.

Jika di setiap warung mempunyai sapu korek (sapu lidi) atau sapu sepet serta tersedia tempat sampah oleh pemerintah, dan digunakan tiap saat, tentu kebersihan bisa cepat terwujud. Bisa jadi, kalau ada Calon Legislatif yang magang, atau Cabup Cawabup saat kampanye memberikan bantuan seribu sapu lidi untuk kebersihan wisata. Tentu itu lebih tepat guna daripada specta run, yang nota bene malah menciptakan sampah-sampah baru?

Atau, kalau tidak begitu, pemerintah bahu membahu membuat bank sampah. Yang bisa memberikan semangat kepada masyarakat untuk menabung sampah, bayar SPP anak dengan sampah, kredit usaha nyicil dengan sampah dan lain-lain. Kalau niatnya untuk menghilangkan sampah, ya harus diupayakan dengan layak dan baik. Kalau ada bank sampah, tentu mbokdhe-mbokdhe yang punya warung di sekitar pantai pasir putih tidak rela kalau ada sampah yang berserakan di depan warung tetangga.

Kamu jangan bilang begini kepada saya ya “Ngomong itu enak mas, menjalankan yang susah”. Sudah ada bukti bahwa Magetan bisa melakukan hal ini. Jangan hanya senang kalau PAD dari wisata Prigi besar lalu sama sekali tidak mikir bagaimana supaya Prigi sejahtera dan bersih. Ingat ya? Ada 3 kecamatan di Trenggalek yang bersentuhan langsung dengan pantai, nota bene 3 kecamatan ini menjadi penyumbang terbesar untuk Kabupaten Trenggalek. Kalau ketiga kecamatan ini hanya dimanfaatkan untuk mengeruk PAD tanpa mengindahkan kesejahteraan, kebersihan, layanan kesehatan untuk masyarakat dengan baik, saya takut suatu saat muncul kota baru di Trenggalek, namanya kota pesisir.

BERBAGI
Artikel sebelumyaJawaban Gunung Kumbo Karno
Artikel berikutnyaBelanja, Rukun (Terselubung) Ibadah Puasa
Trigus D. Susilo
Lelaki kelahiran Watulimo, Trenggalek. Sejak kecil bercita-cita menjadi "agent of change". Meski hingga saat ini ternyata tidak ada yang bisa dia ubah, bahkan untuk mengubah namanya sendiri.