Salah satu angkot yang ngetem di Pasar Sebo
Salah satu angkot yang ngetem di Pasar Sebo

Udara di Kecamatan Watulimo terasa dingin siang itu, meski sinarnya tumpah ruah menyentuh kulit penghuni Pasar Sebo yang berada di luar. Teriakan para penyedia jasa dan para pemanggul barang berat, riuh bersahutan dengan teriakan sopir-sopir angkutan umum yang kini sudah kehilangan kenek-nya. Suasana Pasar Sebo di Desa Slawe, apalagi pas tiap hari pasaran  riuh. Ketidakteraturan para pemarkir motor dan lalu-lalang penggunjung pasar selalu mejadi ciri khas tempat ini.

Saya turun dari motor yang dibawa keponakan, sengaja saya mintai tolong padanya untuk mengantarkan ke pasar sebo untuk nyegat agkutan umum. Sudah agak lama saya tidak menikmati suasana naik angkutan dari Kecamatan Watulimo ke Kecamatan Durenan. Saat itu saya memang sedang tidak membawa motor sendiri dari rumah.

Sesampai di Pasar Sebo, saya menjumpai satu angkutan yang sepertinya sudah agak lama menunggu para penumpang. Ketika saya sapa, mas sopir sedang sibuk meladeni ibu-ibu bakul (penjual di pasar) membawakan barang belanja dan oleh-oleh dari pasar. Beberapa tahun terakhir ini, angkutan umum memang terlihat lazim diisi oleh ibu-ibu atau lelaki-lelaki tua dari pasar. Ya zaman telah berubah.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, sopir menghidupkan mesin diesel mitsubishi tua pada mobil jenis colt. Saya yakin, angkutan ini sempat moncer di jamannya meski sekarang lebih banyak dibalur oleh bau amis dari tangan para bakul ikan serta tangan-tangan kotor yang suka mengelapkan bekas cairan jamu ke spon kursi.

Angkutan yang saya tumpangi, disopiri oleh lelaki tua paruh baya, namanya pak Giranto. Panggilan akrabnya Lehe. Dia menyarankan untuk memanggilnya “Lehe” saja, karena akan terasa akrab dan terkesan muda (mengingatkan masa mudanya). Saya tahu namanya sesudah beberapa saat sempat bicara ngalorngidul. Di usia 75 tahun (menurut pengakuannya), Pak Lehe masih tangkas menyopiri angkotnya. Dan tidak disangka-sangka, dari obrolan itu saya banyak mendapat cerita mengenai angkutan-angkutan umum pada masa silam. Dan siapa sangka, Pak Lehe sudah menjabat sebagai sopir angkutan semenjak  tahun 1965.

Bala-bala sopir sing seangkatan karo aku wes padha ra ana, wes padha ninggal kabeh” dia mulai mengawali cerita ketika saya menanyakan semenjak kapan ia menjadi sopir. Tahun 1965, saat itu ia masih muda, lebih memilih untuk menjadi sopir karena panggilan jiwa dan bertahan hingga kini. Dulu ia tidak membawa mobil colt, melainkan jeep tua. Mobil Jeep menggunakan diesel sebagai tenaga utama, dengan ditambahkan gerobak besi beroda (bodi mobil gandengan, jangan bayangkan bentuknya seperti truk gandeng) dan diseret di belakang mobil jeep, untuk mengangkut penumpang. Membawa mereka dari Watulimo ke Tulungagung melalui Campur Darat dan sebaliknya.

Ia bercerita, jika antusiasme penumpang yang ingin bepergian ke Tulungagung misalnya sangat tinggi, sepadan dengan alasan bahwa satu-satunya kemudahan bepergian pada waktu itu hanya dengan mengendarai angkutan jeep. Jadi tidak heran ketika demi bisa menumpangi angkutan jeep, calon penumpang menyambangi Pak Lehe satu atau dua hari sebelum keberangkatan dengan maksud untuk memesan kursi supaya ada ruang untuknya. Ia bercerita sambil sesekali menurunkan penumpang.

LEGEND: Foto Pak Lehe yang sedang mengoperasikan angkutan Colt

Angkutan Jeep sempat menjadi primadona pada awal-awal kemerdekaan bukan hanya bagi para tentara, melainkan juga bagi masyarakat yang butuh angkutan untuk bepergian. Di sisi lain, jeep juga bisa dijadikan sebagai sarana mencari ekonomi melalui kebutuhan skill driver. Di usia sebelum ia nikah, tepatnya usia 17 tahun, Pak Lehe sudah berani menancapkan karir sebagai driver, nyaris tak tercela, dari hasil pekerjaannya tersebut. Sehingga ia berani menikah saat usia 21 lantaran kantong sudah terisi uang dari pekerjaan nyopir, ceritanya.

Jika memperhatikan perkembangan angkutan di rute Prigi–Bandung–Durenan, tahun 2017 ini seperti tahun lanjutan ketidakberdayaan para sopir dalam mendapatkan penumpang. Bahkan, saking jarangnya penumpang, personil angkutan tidak lagi lengkap. Jika ditahun 2000 setiap angkutan lazim dijumpai sopir dan kernetnya, maka kini sopir bekerja sendirian (meskipun ada kernet, tapi sangat jarang). Bisa jadi karena penghasilan dari menyopiri angkutan di jalur Prigi–Bandung– Durenan tidak sebesar tahun 1965–2009, jadi tidak ada yang bisa dibagi.

Pak Lehe menuturkan kepada saya, ia hanya berani mengajak colt-nya untuk menyusuri rute Prigi–Bandung–Durenan sekali jalan alias PP (Pulang-Pergi). Selebihnya ia sudah pesimis kembali sekadar mengambalikan ongkos untuk bahan bakar. Itu terjadi karena penumpang sudah tidak banyak. Perasaan ini mungkin seperti saat blue bird kehilangan penumpang karena digondol gojek dan juga uber. Atau sama halnya dengan saat kaum idealis kehilangan otak idealnya. Serba ada yang dikorbankan dalam setiap perkembangan.

Saya masih ingat dengan jelas, saat para pelajar Watulimo masih menggunakan angkutan colt sebagai sarana transportasi. Colt selalu penuh dengan penumpang, baik dari Durenan ke Watulimo (pelajar yang sekolahnya di Durenan), dan juga pelajar di Watulimo sendiri yang memilih turun di Pasar Sebo. Masa itu, naik colt begitu prestisius, dapat menunjukkan keberadaan orangtua si pelajar. Bagi saya sendiri, naik colt hanya bisa sebulan sekali, itupun setelah mengumpulkan sangu beberapa hari. Meski sebenarnya, naik colt dari Kauman (depan pos polisi Gemaharjo) ke Pasar Sebo hanya untuk berjalan kaki kembali. Namun para pelajar lebih menyukainya ketimbang berjalan dari sekolah menuju rumah melalui jalan pintas. Ingat seperti yang saya katakan di atas, naik colt adalah prestis bagi pelajar di desa-desa.

Pak Lehe adalah salah satu driver angkutan yang menjadi saksi bagaimana perkembangan dan perubahan dunia otomotif yang membawa dampak bagi budaya masyarakat. Dan pelanggan yang masih setia menggunakan jasa angkutan di antaranya adalah para bakul pasar dan sesepuh yang mungkin tidak dapat mengendarai motor. Sedangkan bagi kaum muda (termasuk saya), lebih menyukai menggunakan sepeda motor ketimbang harus mempersulit diri menunggui angkutan yang sudah jarang berjalan lantaran menunggui (ngetem) satu dua penumpang lain. Di sisi lain, saat Pak Lehe dan saya, sebagai pemanfaat angkot lebih suka menyebut angkutan colt sebagai kendaraan nostalgia. Jauh di Jepang sana, pabrik motor sedang kencang-kencangnya membuat varian motor terbaru untuk menggoda masyarakat desa partikelir menjual sebidang tanah untuk nyawit (beli) motor. Begitulah.

BERBAGI
Trigus D. Susilo
Lelaki kelahiran Watulimo, Trenggalek. Sejak kecil bercita-cita menjadi "agent of change". Meski hingga saat ini ternyata tidak ada yang bisa dia ubah, bahkan untuk mengubah namanya sendiri.