Cethek geni manggunakan blarak di pawon | Foto Mas Trigus

Karena belum ada lampu penerangan jalan, maka untuk menggantikan fungsi lampu penerangan, saya memakai blarak sebagai penerang. Keberadaannya sangat membantu saya dan teman-teman, ketika malam-malam harus menyusuri jalanan setapak menuju rumah seorang teman yang sudah menunggu kedatangan kami untuk belajar kelompok.

Selanjutnya, untuk mencatat ingatan masa lampau ketika kecil, saya akan sedikit mengenang tentang blarak. Menuliskannya dari sudut pandang manusia kampung, yang sebenarnya sudah merdeka sejak dalam buaian.

Pengertian dan Fungsi Blarak

Tak ada rotan, akar pun jadi. Orang-orang desa sudah semenjak lama mampu memahami kalimat tersebut dalam sisi kehidupan mereka. Maka, jika pun negara saat ini tak menyediakan listrik, saya berani bertaruh bahwa mereka tetap bisa hidup tanpa lampu.

Seperti halnya mereka yang sudah terbiasa memanfaatkan daun kelapa kering untuk obor, memanfaatkan dandang untuk menanak nasi sebelum rice cooker ada atau memakai tahi kambing untuk pupuk tanaman hingga dianggap kolot oleh korporasi pupuk kimia, dll. Oh ya, kembali ke tema tulisan ini, di desa saya lahir orang-orang menyebut daun kelapa kering dengan istilah blarak.

Blarak adalah daun kelapa kering, yang biasa terjadi bahwa kondisi kering bukan lantaran dijemur, namun karena proses alam. Papah kelapa yang mengering di atas pohon, pada waktu tertentu akan jatuh, dan warga memungutnya untuk kemudian dipisahkan menjadi beberapa bagian. Tujuannya adalah untuk mengambil sisi manfaat darinya.

Papah kelapa terdiri dari beberapa bagian, yang cenderung memiliki nama ketika bagian-bagian tersebut sudah dipisahkan. Blarak merupakan bagian daunnya, sedang bagian papah yang sudah terpisah dari daun disebut bongkok. Tak hanya itu, pada daun blarak masih ada bagian yang bisa diambil manfaatnya, yaitu lidi atau dinamakan sada atau bisa disebut juga dengan biting. Pembaca pasti sudah tahu untuk apa lidi digunakan, kalau tidak untuk sapu korek (sapu lidi untuk membersihkan halaman), juga bisa dipakai untuk biting, semacam pengunci pembungkus makanan dari daun.

Dahulu, sebelum minyak tanah dan kompor gas menyita sebagian kreativitas masyarakat desa, blarak adalah salah satu benda kasat mata yang menjadi primadona orang-orang desa. Mereka biasa memakainya sebagai bahan untuk cethek geni (menghidupkan api di pawonan). Karena sifat lentur dan mudah terbakar, maka blarak sangat mudah dipakai memantik bara api. Dari nyala api pada blarak merembet ke kayu bakar secara perlahan-lahan hingga kemudian api dalam pawonan membesar. Saat itulah mereka mulai memasak apa pun.

Selain kegunaannya sebagai konduktor panas, blarak juga menjadi penyelamat saya dan anak-anak desa lainnya, ketika menunaikan kewajiban belajar kelompok di malam hari. Memang dahulu, sebelum lembaga les bertaburan di mana-mana, belajar kelompok adalah salah satu sarana untuk menaikkan pemahaman siswa pada pelajaran sekolah. Kami belajar bersama tanpa pembimbing atau guru.

Seperti penggalan cerita di atas, saat itu lampu penerangan jalan belum seramai ini. Pun dengan lampu senter, jika kami tidak mendapat pinjaman senter dari orangtua, maka blarak adalah penyelamat kami, untuk dibakar dan dipakai sebagai penerang. Para orang tua pun kadang juga memakainya untuk penerangan saat sonjo.

Alternatif penerang jalan selain blarak adalah oncor. Oncor terdiri atas bambu, sumbu dan minyak tanah. Dan minyak tanah, dulu bukanlah barang yang mudah didapat karena harus membelinya. Jika lampu ublik tidak menyisakan sedikit pun minyak tanah, maka kami putuskan untuk memilih blarak.

Blarak di ambil beberapa genggam, kemudian diikat tengahnya. Kalau blaraknya panjang, maka kami mengingatnya dua bagian. Ada pesan menakutkan dari para simbah mengenai blarak. Mereka berpesan untuk tidak mengikatnya menjadi tiga bagian, karena akan mengingatkan pada keadaan mayit. Bukan kah mayit di ikat tiga bagian?

Lantas kami berkumpul dua atau tiga orang untuk bersiap-siap menuju rumah teman kami yang jauhnya sekitar setengah kilo, bahkan lebih. Kami menyalakan blarak pada bagian kepalanya, dan kemudian berangkat bersama-sama. Meski malam hari, kami tidak takut pada hantu, karena kami tidak sendirian. Sambil bernyanyi riang atau bercerita tentang keasyikan bermain di sekolah tadi siang, kami menelusuri jalanan setapak ditemani hangat nyala api dari blarak. Kadang kami berlari ketika melewati tempat-tempat yang dianggap wingit.

Meskipun kini zaman sudah berubah, dengan bukti adanya listrik hingga pelosok desa, blarak masih dipakai warga. Bukan untuk penerang, melainkan untuk cethik geni. Pawon masih banyak dijumpai di tempat saya lahir, di antaranya sebagai trik untuk mengirit penggunaan kompor gas, yang kian hari harganya kian naik.

Demikian kenangan masa lalu yang sebenarnya ingin sekali saya ulangi. Tapi, ke mana tujuan saya kini berjalan sambil membawa blarak?

TINGGALKAN KOMENTAR