nelayan munjungan

Kakak sepupu saya beraktivitas sehari-hari di lautan. Mencari ikan beserta segala hal yang ada di bawah permukaannya. Karena, kadang-kadang ia juga mencari nener, mengais kerang dan seterusnya. Bakat nelayannya telah nampak semenjak masih sekolah menengah atas. Tentu saya yang mencium bakat tersebut. Ketika usia sekolah dasar, saya sering diajak menangkap ikan di sungai sebelah timur rumah, dengan menggunakan jaring jenis keder (bunyi e seperti pada kata tempe) yang dipegang kedua ujungnya oleh dua orang menyesuaikan lebar sungai, lalu ditarik ke arah hulu secara perlahan-lahan. Keder adalah jaring cukup panjang dengan ukuran lebar sekitar semeter.

Saya sering diajak ngeder di sungai, baik sungai yang berhulu di utara dan berhilir di selatan maupun sungai yang berhulu di timur dan mengalir ke hilir bertemu-bersambung dengan sungai yang tadi berhulu di utara. Ini adalah dua sungai besar di Kecamatan Munjungan yang dulu ber-arus cukup deras dan sama-sama bermuara ke laut selatan (pancer) di Pantai Blado. Dua sungai yang kini mulai mendangkal oleh—sudah pasti—perubahan DAS (Daerah Aliran Sungai)-nya juga oleh limpahan berbagai jenis sampah dan limbah rumah tangga penduduk sekitar. DAS sungai di timur rumah itu, sesudah banjir besar melanda, dulu juga kerap gonti-ganti lokasi.

Kakak sepupu piawai menangkap ikan, tampak dari semangatnya juga teknik-teknik tertentu yang ia perlihatkan. Tentu saja teknik ketika menghalau dan menghela ikan-ikan di sungai dari hulu ke hilir atau sebaliknya, saat kami memasang jaring. Selain dengan keder, ia biasanya juga menggunakan jala. Ada cerita menarik tentang kemampuannya menangkap gatheng (sejenis belut sungai berukuran besar, bisa seukuran kaki atau lengan tangan) menggunakan jala di kedalaman sungai. Sesuatu yang tak banyak orang bisa melakukannya. Sebab, orang men-jala ikan rata-rata dari pinggir sungai atau lautan (pantai).

Saya masih ingat, dulu ketika diajak menangkap ikan sering kena bentak, oleh karena kurang sigap atau tidak patuh arahan. Meski sebetulnya, situasinya karena saya tidak benar-benar mengerti harus bagaimana; posisi saya harus seperti apa saat membawa keder. Pada suatu ketika—di saat sedang ngeder—kami pernah menghasilkan ikan blanak se-kepis (nama wadah ikan dari bambu) penuh, sampai-sampai kaos yang ia kenakan, digunakan pula sebagai wadah.

Selain kakak sepupu, kakek saya juga dikenal sebagai pencari ikan. Ia seorang pencari ikan yang gesit. Bersama banyak orang seusinya, di desa kami, kakek dikenal sebagai tukang nusuk (mencari ikan di sungai menggunakan alat mirip kurungan ayam). Susuk adalah alat menangkap ikan disusun dari bilah-bilah bambu berbentuk kurungan agak panjang dililiti tali (karalon) sementara di atasnya dipasangi kayu. Alat ini berbentuk (lebar) kerucut dengan bawah berpola bulat memanjang ke atas. Panjangnya seukuran tangan orang dewasa. Ujung atas makin kecil.

Kata orang, alat ini salah satu jenis bubu. Meski sebetulnya lebih mirip pagar kecil untuk tanaman. Atau mirip kurungan, dengan bagian atas terbuka sebagai tempat untuk mengambil ikan, sebagaimana yang saya sebut di atas. Di daerah Sumatra alat ini dinamai serkap. Kesamaannya dengan bubu, tentu sama-sama terbuat dari bambu. Kalau bubu dipasang di sungai dan ditinggal, susuk digunakan untuk menyergap ikan secara langsung. Cara menangkap ikan menggunakan susuk/serkap ini dulu secara berjamaah. Berjajar menyesuaikan lebar sungai dan berjalan bersama secara pelan-pelan, dengan masing-masing orang membawa satu susuk.

 

Selain dua orang tadi, pak lek saya juga punya hobi memancing. Kegemaran usia muda yang menjadi kebiasaan nyaris setiap hari. Saya sering diajak memancing, sehingga bisa mengenal lebih dekat ikan cerek, blendeng, blethik, yang ukurannya lebih kecil dari jenis-jenis ikan laut. Saya tidak lupa, pak lek akan misuh-misuh bila ternyata yang memakan umpan kailnya adalah kepiting, tersebab pancing terlalu dekat dengan sarang kepiting yang berada di bawah bekas pokok pohon kelapa (tunggak) di tengah sungai.

Barangkali, ikan sungai dari berbagai jenisnya itu saat ini jarang terlihat dari permukaan oleh perubahan kondisi lingkungan sungai: DAS, air yang tercemar oleh limbah dan sampah. Belum soal tangkap ikan menggunakan bahan kimia juga setrum ikan yang terus merajalela di berbagai tempat (yang sudah pasti akan membunuh ikan-ikan kecil dan telurnya, juga berbagai biota sungai yang lain).

Kakak sepupu saya biasanya berlayar di laut sampai daratan tidak tampak, bahkan pulau-pulau di sekitar lautan. Ia sendiri memperkirakan ada sekitar 50 mil dari daratan ketika ia berlayar ke tengah laut. Bahkan ketika menggunakan kapal-kapal besar (seperti kapal slerek), ia bisa belayar bersama awak kapal lainnya, hingga 100 mil dari bibir pantai. Padahal, kita tahu laut selatan seperti samudera tak berujung. Laut yang juga dikenal ombaknya besar. Selain laut yang masih misterius.

Kakak saya berangkat melaut ketika malam hari dan pulang di pagi harinya. Hanya sesekali saja ia berangkat pada dini hari dan pulang di sore hari ketika hari telah petang. Sebagian pelaut sepertinya adalah manusia-manusia nokturnal (yang hidup di malam hari) sebagaimana kelelawar. Beberapa bulan lalu ketika di rumah, saya menanya-nanyainya perihal bagaimana situasi saat ia berada di tengah laut. Bagaimana perasaannya saat bermalam di laut, dalam ancaman gelombang yang mengombang-ambingkan perahu. Bagaimana ia bisa tidur di atas perahu kecil yang ia tumpangi dengan nyaman, padahal hanya dengan lebar kurang lebih 2 meter dan panjang sekitar 7 meter.

Menjadi nelayan tidaklah mudah seperti yang mungkin kita bayangkan. Selain tiap saat harus berhadapan dengan maut di tengah laut, pendapatan mereka tidak pernah stabil. Di tengah perubahan iklim yang tidak pasti, laut menjadi are(n)a tidak terprediksi. Kini, sering sekali nelayan harus menghadapi ketidakpastian musim juga gelombang pasang yang demikian tinggi serta kemungkinan-kemungkinan buruk yang lain. Nah, selain sebagai manusia yang mencari makan di laut, nelayan sebetulnya juga adalah penjaga laut utama di seluruh kepulauan Nusantara, termasuk nelayan Trenggalek. Dan tentu saja mereka juga adalah penjaga utama kedaulatan bangsa. Lebih-lebih, nelayan yang bermukim di kepulauan terluar Indonesia.

Membayangkan suasana di lautan dengan hanya menumpangi perahu-perahu kecil begitu, membawa saya pada kisah nelayan tua, bernama Santiago. Pelaut tua yang bergelut dengan ikan marlin sendirian dari atas perahunya di teluk Kuba. Umpannya dimakan ikan yang cukup besar dan ia tidak hendak menyerah begitu saja menghadapi ikan yang tak kalah besar dari ukuran perahunya. Sampai-sampai, ia butuh beberapa malam di tengah laut, menuruti keinginan ikan marlin. Dengan gigih, akhirnya ia bisa menaklukkan ikan marlin raksasa tersebut. Sayangnya, gara-gara gerombolan ikan hiu buas yang mencium darah marlin, daging ikan marlin miliknya tinggal tulang-belulang saat ia telah sampai daratan (pelabuhan). Daging ikan besar itu dikoyak sedikit demi sedikit oleh gerombolan hiu yang datang silih berganti mendekat ke perahunya, di mana ikan marlin tangkapannya ditambatkan.

Perjuangan Santiago mengingatkan saya pada perjuangan sosok yang lain. Kisah tentang manusia yang pantang menyerah menghadapi berbagai rintangan di tengah keganasan samudera. Lelaki itu mengalami kecelakaan di laut. Ia bertahan selama seminggu lebih di lautan dengan menumpangi kayu pecahan kapal yang hancur dan dengan hanya mengonsumsi air laut. Ia terombang-ambing ombak disertai rasa sesal, putus asa, diserang hiu dan halusinasi. Tapi perjuangan untuk hidup yang besar membuatnya selamat: terdampar di sebuah daratan (pantai). Dua kisah ini adalah cerita di dua novel tipis, berturut-turut Lelaki Tua dan Laut (karya Hemingway) dan Caldas (karya Marquez). Dua kisah novel tentang manusia yang terombang-ambing di laut, diilhami kejadian-kejadian nyata, yang tetap saja inspiratif sampai sekarang.

BERBAGI
Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).