Bagaimana Menulis dan Menerbitkan Buku? - Foto Pixabay

Upaya menggalakkan gemar membaca terus dilaksanakan. Salah satu upaya itu adalah murid dan guru membaca bersama selama lima belas menit, sebelum pelajaran jam pertama dimulai. Itu terjadi di beberapa sekolah. Tujuannya, agar murid semakin gemar membaca.

Jika upaya meningkatkan gemar membaca itu berhasil, tentunya harus dilanjutkan upaya meningkatkan gemar menulis. Jika tidak, masyarakat yang “haus” membaca tentu kekuranagan buku yang akan dibaca.

Masyarakat di negara-negara maju mempunyai kebiasaan sama, yaitu gemar membaca dan menulis. Hal itu menimbulkan pertanyaan, apakah karena masyarakatnya gemar membaca dan menulis, negaranya menjadi maju, atau karena negaranya sudah maju masyarakatnya perlu membaca dan menulis?

Entahlah, mana yang betul. Mungkin keduanya betul. Yang jelas, Inggris, Amerika, Jerman, dan Jepang termasuk negara maju yang masyarakatnya gemar membaca dan menulis.

Banyaknya buku yang terbit setiap tahun di negara-negara itu dapat digunakan sebagai bukti. Berdasarkan data beberapa tahun lalu Inggris menerbitkan 110.000 judul buku per tahun, diikuti Amerika 100.000, Jerman 85.000, dan Jepang, 75.000. Bagaimana masyarakat kita? Indonesia baru menerbitkan sekitar 7.000 judul, kira-kira separo dari Malaysia yang mencapai 15.000 judul per tahun. Jika kita ingin maju seperti mereka, tentunya salah satu upaya yang perlu digalakkan adalah kegiatan membaca dan menulis.

Menjadi Penulis

Orang yang melakukan kegiatan menulis akan menghasilkan tulisan. Tulisan adalah “rekaman” peristiwa, pengalaman, pengetahuan, dan ilmu, serta pemikiran manusia. Dengan adanya tulisan, manusia lain yang tinggal di tempat yang jauh dapat menangkap dan memahami pengetahuan dan pemikiran tersebut.

Hebatnya lagi, tulisan dapat dibaca sekarang, tahun depan, atau puluhan tahun yang akan datang. Tulisan memang dapat menembus ruang dan waktu. Itulah sebabnya, banyak orang berucap bahwa penulis itu guru bangsa yang “abadi”. Dikatakan guru bangsa karena tulisannya menyebar dan dipelajari oleh masyarakat luas di berbagai daerah. Dikatakan “abadi” karena tulisannya dapat dipelajari sekarang dan di masa-masa yang akan datang.

Dalam dunia pendidikan, tulisan tampak lebih penting lagi. Agaknya di dunia ini tidak ada sekolah yang dikembangkan tanpa buku. Mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai perguruan tinggi, semuanya memerlukan buku sebagai sarana belajar.

Bahkan, para kandidat doktor dan profesor pembimbingnya pun masih memegang buku. Buku itu ada, tentu saja, karena ada yang menulis. Nah, seandainya mulai sekarang tidak ada lagi yang menulis, dapat dipastikan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah akan terhambat, bahkan akan terhenti. Akibatnya, semua sekolah akan bubar.

Bagi guru dan dosen, menulis sebenarnya juga kegiatan mengajar. Bahkan, termasuk kegiatan mengajar yang amat dahsyat. Mengapa? Jika mengajar di kelas, yang mendengarkan penjelasan hanya puluhan siswa satu kelas atau beberapa kelas di sekolah tempatnya mengajar. Tetapi, jika bahan ajar itu ditulis, pembacanya bisa ratusan, ribuan, atau puluhan ribu. Bukan hanya siswa di sekolahnya, tetapi juga siswa di kota-kota lain di seluruh Indonesia. Hebatnya, tulisan yang dihasilkannya dapat dipelajari sekarang, tahun depan, atau beberapa tahun kemudian.

Keuntungan lain bagi guru yang juga penulis, dia memperoleh penghasilan tambahan dari royalty tulisannya. Dia juga terkenal di berbagai kalangan, terutama kalangan pendidikan. Rasa percaya diri pun meningkat, karena tulisannya mengajari masyarakat dan mencerdaskan bangsa. Ada kepuasan batin melihat tulisannya bermanfaat bagi banyak orang. Lebih dari itu, tulisannya bernilai angka kredit pengembangan profesi guru untuk memenuhi syarat kenaikan pangkat.

Kenaikan pangkat merupakan peristiwa penting bagi seorang guru. Kenaikan pangkat berarti bukti nyata adanya pengakuan terhadap prestasi kerja dan peningkatan mutu. Sebab, pangkat merupakan simbul kualitas profesional seorang guru. Guru yang berpangkat tinggi mempunyai simbol bahwa dirinya juga bermutu tinggi dan kualitas profesionalitas-nya meningkat. Sebagai dampak lanjutan, kesejahteraannya pun juga meningkat.

Menulis Model ATM

Menulis memang gampang-gampang susah. Gampang kalau sudah sering melakukannya dan susah kalau belum terbiasa. Sebab, menulis termasuk jenis keterampilan. Sebagai keterampilan, sama dengan  keterampilan yang lain, pemerolehannya harus melalui belajar dan berlatih.

Tak ubahnya seperti kegiatan anak-anak ketika belajar mengendarai sepeda. Mula-mula sering terjatuh. Tetapi, makin sering berlatih, makin jarang jatuh, dan akhirnya terampil bersepeda. Demikian pula keterampilan menulis, semakin sering menulis tentu saja akan semakin terampil.

Agar terampil menulis, kita perlu mengukuhkan niat, yaitu benar-benar mau menulis, bukan setengah-setengah. Dengan niat yang kuat itu, kita tak mudah “patah arang” kalau menjumpai berbagai kesulitan. Dengan niat yang kuat, kita akan mampu menyingkirkan perintang yang menghadang.

Setelah mengukuhkan niat, kita mulai belajar menulis. Belajar tentang jenis tulisan dan bagaimana menulisnya. Ilmu menulis itu dapat diperoleh dari buku atau penulis yang sudah “jadi”.  Selanjutnya, ilmu menulis yang sudah diperoleh (meskipun baru sedikit) langsung dipraktikkan dalam kegiatan nyata. Hal itu tentu lebih baik daripada banyak teori tetapi kurang dipraktikkan.

Salah satu cara belajar menulis sebagai berikut. Mula-mula kita memilih dan membaca tulisan yang sudah ada. Makin banyak membaca, makin baik. Selanjutnya, kita terapkan 3 N, yaitu niteni, nirokake, dan nambahi. Ungkapan Jawa itu berarti ‘memperhatikan dan mengingat-ingat, menirukan, dan menambahkan’. Meniru tidak harus malu, karena meniru di sini bukan berarti njiplak kata demi kata atau kalimat demi kalimat. Yang ditiru adalah pola berpikirnya, cara mengembangkan gagasan, cara memilih kata dan menyusun menjadi kalimat, dan cara merakit paragraf. Juga cara “membeberkan” masalah: cara memulai tulisan, menguraikan isi, dan mengakhiri tulisan.

Kegiatan menulis selain niteni dan nirokake, juga nambahi. Untuk bisa nambahi, kita memang harus punya “simpanan bahan” untuk ditambahkan. Memang, dalam menulis kita mengeluarkan gagasan, mengeluarkan “simpanan” dari dalam otak kita. Kita punya simpanan kalau kita menabung, yakni dengan cara mengamati, melakukan, membaca, dan berpikir. Makin sering menabung, makin banyak simpanan. Makin banyak simpanan, makin mudah kita nambahi, dan makin mudah menuangkan gagasan secara tertulis.

Jika kurang senang dengan istilah 3 N, kita dapat menggunakan istilah lain yang maknanya sama, yaitu ATM. Yang dimaksud ATM bukan Anjungan Tunai Mandiri (automatic teller machine), melainkan, amati, tiru, dan modifikasi. Jelasnya, untuk menghasilkan sebuah tulisan, kita amati tulisan orang lain, lalu kita tiru, kemudian kita ubah seperlunya. Mudah bukan?

Menulis memang mudah. Semua orang yang pernah bersekolah, dapat mengungkapkan gagasannya secara tertulis. Sebab, menulis itu “hanya” mengungkapkan apa yang dilihat, apa yang diketahui (dari membaca),  apa yang dilakukan, dan apa yang dipikirkan. Bukankah setiap hari kita melihat sesuatu, melakukan sesuatu, dan tentu berpikir tentang sesuatu?

Jadi, untuk menghasilkan tulisan, penulis dapat menerapkan 3 N, yaitu niteni, nirokake, dan nambahi. Jika kurang mantap, dapat memanfaatkan ATM, yaitu amati, tiru, dan modifikasi. Jika dianggap masih sulit, penulis dapat menggunakan metode “merangkai bunga”.

Semua orang tahu bahwa kegiatan merangkai bunga itu amat mudah. Semua orang dapat melakukannya. Perkara hasilnya tidak sama (ada yang bagus ada yang kurang bagus), itu masalah lain. Yang jelas, semua orang dapat melakukannya. Bunga yang dirangkai dapat dipilih dan diambil dari kebun bunga, dapat pula dari pasar bunga, atau kios bunga.

Bunga-bunga yang sudah dipilih itu dirapikan (dipotong sebagian daun dan tangkainya) kemudian dikombinasikan, diatur sesuai selera. Nah, sudah jadi bukan? Kegiatan menulis dapat juga seperti itu. Sebagian tulisan orang diambil, disesuaikan dengan kebutuhan (ditambah, dikurangi, atau diubah), dan diatur menjadi tulisan baru. Wah, mudah sekali.

Buku yang selesai ditulis harus dibaca ulang, diteliti kebenaran ilmunya, gambar ilustrasinya, penyajiannya, dan bahasa serta ejaannya. Mungkin juga terdapat salah cetak yang cukup mengganggu. Jika perlu, dibahas bersama teman. Kesalahan atau kekurangan yang ditemui diberi tanda dan diperbaiki. Jika buku itu akan diterbitkan oleh penerbit tertentu, tugas memperbaiki itu biasanya dilakukan oleh editor yang disiapkan oleh penerbit. Bahkan, penerbit juga menyediakan tenaga penata letak dan ilustrator yang ahli agar tampilan buku semakin menarik. Semuanya itu  dilakukan agar buku terhindar dari kesalahan dan tampil sebagai buku yang baik.

Keterampilan Menulis

Menulis tak ada hubungannya dengan bakat. Kalau toh ada hubungannya, pengaruhnya kecil sekali, hanya sekitar 5%. Karena itu, sebaiknya kita tidak perlu mempersoalkan, di dalam diri kita ada bakat menulis atau tidak. Sebab, menulis termasuk keterampilan. Seperti  keterampilan yang lain, pemerolehannya harus melalui belajar dan berlatih. Makin sering melakukan kegiatan menulis, tentu semakin terampil.

Pikiran manusia sebenarnya ada dua alam, yaitu alam sadar dan alam bawah sadar. Alam sadar itu seperti puncak gunung es yang kelihatan, alam bawah sadar itu bagian gunung es yang tak kelihatan. Jadi, alam bawah sadar itu jauh lebih besar daripada alam sadar. Kemampuan bawah sadar itu misalnya tiba-tiba dapat lari kencang karena takut dikejar anjing. Atau, tiba-tiba dapat menulis beberapa buku dalam waktu yang singkat.

Alam bawah sadar itu muncul kalau dipicu oleh dua hal. Pertama, karena tertekan (diwajibkan, diancam, menderita). Kedua, karena menyenangkan (dapat pengakuan, penghargaan, kenaikan pangkat, uang). Nah, kemampuan menulis dapat dipicu oleh keduanya, yaitu menderita jika tidak menulis, dan gembira kalau menulis. Karena itu, ayo, kita mulai sekarang. Lo, mulai apa? Ya, itu tadi, mulai menulis buku, buku apa saja.

Menerbitkan Buku

Buku yang ditulis sebaiknya diterbitkan agar dapat menyebar dan dibaca orang banyak. Bagaimana cara menerbitkan buku? Ada beberapa macam cara yang semuanya dapat dilakukan.

Pertama, naskah buku yang selesai ditulis (dalam bentuk hard copy dan/atau soft copy) ditawarkan kepada penerbit. Penerbit akan mempertimbangkan dari segi kualias dan pemasaran. Jika penerbit setuju, lalu dibuatkan surat perjanjian penerbitan antara penulis dan penerbit. Jika tidak setuju, naskah dapat ditawarkan  kepada penerbit lain. Sebab, tiap penerbit punya kecenderungan menerbitkan buku jenis apa dan punya program kerja yang mungkin berbeda satu dengan yang lain.

Kedua, penerbit minta dituliskan buku tertentu kepada penulis yang diperkirakan mampu menulisnya. Cara ini biasanya terjadi jika penerbit sudah mengenal atau sudah pernah bekerja sama dengan penulis itu. Jika setuju, penulis langsung menulis naskah dan naskah yang sudah jadi diberikan kepada penerbit. Selanjutnya, penerbit membuatkan surat perjanjian penerbitan.

Penerbitan buku dengan cara pertama dan kedua, penerbit menentukan wujud buku, jumlah yang dicetak, dan harga jual tiap buku. Penerbit juga memasarkan buku itu, baik lewat distributor maupun tidak. Biasanya, penulis akan menerima royalty 10 %  dari buku yang terjual. Tetapi, ada juga sistem jual naskah, yaitu naskah langsung dibeli oleh penerbit pada saat kedua belah pihak sudah saling setuju bahwa bukunya akan diterbitkan.

Ketiga, penulis menerbitkan sendiri naskah tulisannya. Wujud buku dan berapa yang dicetak, ditentukan sendiri, lalu membayar kepada percetakan. Buku yang sudah dicetak, dijual sendiri baik melalui distributor maupun tidak. Atau, buku itu dicetak terbatas dan tidak dijual, hanya untuk keperluan kolega atau keluarga.

Demikian cara menulis dan menerbitkan buku. Semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi siapa saja yang ingin berkarya menulis dan menerbitkan buku.

TINGGALKAN KOMENTAR