Nama seorang anak dipanggil, disertai tepuk tangan hadirin. Anak itu berjalan dari kerumunan menuju panggung. Pembawa acara memperkenalkan lebih lengkap anak tersebut: duduk di kelas berapa, dari sekolah mana, dan prestasi apa saja yang sudah dicapai. Setelah anak berada di panggung, pembawa acara melanjutkan memanggil nama anak yang lain. Begitu seterusnya hingga beberapa nama selesai dipanggil.
Satu persatu secara berurutan, seseorang menyerahkan piagam dan tropi...
(Situasi Trenggalek-Ponorogo-Pacitan Abad 16)
Trenggalek di masa lampau adalah wilayah pegunungan terisolir. Jalan sejarah daerah ini—karena minimnya catatan historiografi, khususnya di abad 16 hingga abad...
Kartini merelakan dirinya menjadi contoh propaganda, bahwa
sebaik-baik wanita (perempuan) cantik dan kaya, akan lebih baik kalau berbudi
dan mampu berpikir (Sulastin, 1979:341)
Memasuki bulan April,
bangsa Indonesia...
Di beranda Faceboook beberapa hari lalu seorang tokoh literasi kenamaan Trenggalek menulis status-nya dengan mengatakan bahwa seni tradisi bukanlah seni agraris. Ia ragu bahwa...
Abstain mungkin lebih ramah dirasakan dan didengar telinga ketimbang disebut dengan golput, meski secara pengertian kedua kata tersebut berarti sama. Namun, di Indonesia jangan...
Pemilu kurang beberapa hari lagi, para politisi bekerja semakin ekstrim. Banyak politisi yang menyebut bahwa tujuh hari terakhir sama dengan kerja politik selama dua...
Ternyata, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa
golput itu haram sudah dikeluarkan tahun 2009. Terasa hangat, karena belakangan
ditegaskan lagi untuk menekan jumlah golput dalam pemilu...
Hampir seminggu yang lalu editor nggalek.co menulis tentang Trenggalek dalam kacamata etnografi. Walaupun tulisan tersebut tidak bagus-bagus amat, yang isinya adalah pengulangan-pengulangan fakta yang...
Minggu terakhir
bulan Maret 2019, banyak kejadian yang menarik untuk disimak di Kabupaten
Trenggalek. Kejadian yang berhubungan dengan kepala daerah dan pelayanan
publik. Kejadian-kejadian tersebut bisa menyita...