Situasi Trenggalek-Ponorogo-Pacitan Abad 16

(Situasi Trenggalek-Ponorogo-Pacitan Abad 16)

Trenggalek di masa lampau adalah wilayah pegunungan terisolir. Jalan sejarah daerah ini—karena minimnya catatan historiografi, khususnya di abad 16 hingga abad 19—seperti berada dalam labirin gelap. Di abad-abad tersebut wilayah Trenggalek sepertinya banyak dipengaruhi oleh wibawa wilayah baratnya, yakni Ponorogo. Dari buku Priayi dan Petani di Keresidenan Madiun Abad XIX anggitan Ong Hok Ham, misalnya, Trenggalek sempat disinggung bertalian dengan sosok Minak Sopal (1498-1568 M) yang ditulis sebagai pengikut/santri Bathara Katong, sosok penyebar Islam di Ponorogo.

Menurut penelusuran Ong Hok Ham, Bathara Katong (1482-1532 M) adalah putra raja terakhir Majapahit, dengan nama kecil Joko Piturut (alis Raden Harak Kali). Ia punya hubungan dekat dengan raja pertama Demak, Raden Patah, karena Joko Piturut adalah adik lain ibu Sang Raden, meski terhitung masuk Islam sesudahnya.

Ketika keimanannya menjadi lebih matang—sebagaimana banyak tokoh penting Kesultanan Demak lainnya—dengan menggunakan gelar Bathara Katong, ia menerima tugas berdakwah keluar daerah: yakni mengislamkan penduduk di wilayah timur Gunung Lawu (Madiun dan sekitarnya) yang saat itu mayoritas pemeluk agama Buddha.

Pemimpin masyarakat Buddha di daerah timur Gunung Lawu adalah seorang suci bernama Ki Ageng Kutu. Ia tinggal di daerah Jetis, Ponorogo. Dengan bantuan Ki Ageng Mirah dan Kiai Sela Aji, Bathara Katong lalu berperang dengan pemimpin Buddha ini dan kelak mengalahkannya (Ong Hok Ham, 2018: hlm 16-17).

Sejak itu Bathara Katong tinggal di daerah Plampitan, Jenangan. Dan menjadi adipati pertama Ponorogo, yang memerintah seluruh wilayah di sebelah timur Gunung Lawu yang batas-batasnya adalah Bengawan Solo di utara, Pegunungan Pandam di barat hingga Pegunungan Wilis serta Samudera Hindia di selatan (Ong Hok Ham, 2018: hlm. 18-19).

Daerah Madiun ke selatan, meliputi Ponorogo dan Pacitan, agaknya juga hingga ke Trenggalek, memang menjadi wilayah otoritas Bathara Katong. Bahkan, sosok ini nanti banyak memberi pengaruh pada (situasi) sosial-kebudayaan masyarakat  daerah ini dan arah perkembangan politik di abad-abad selanjutnya. Bupati-bupati daerah Madiun-Ponorogo di era kolonial, merasa kurang bangga kalau tidak mengklaim sebagai keturunan Bathara Katong.

Daerah Ponorogo dan sekitarnya (dulu Wengker) menurut Prasasti Waringin Pitu, pernah menjadi salah satu dari 14 propinsi utama di era keemasan Majapahit. Dalam perjalanan sejarah, daerah ini sekurangnya pernah diperintah oleh Wijayarajasa/R. Kudamerta dengan gelar Bhre Wengker (1328-1350-an), Girisawarddhana/Dyah Suryawikrama (1456-1466 M) hingga Bathara Katong (1482-1532 M). Lalu dilanjutkan oleh bupati-bupati di era Mataram (prakolonial) hingga zaman kolonial.

Demikian juga, sosok Menak Sopal banyak memberi pengaruh pada arah sejarah daerah Trenggalek di tahun 1500 ke belakang. Peristiwa-peristiwa historis yang terjadi di Trenggalek, dari sumber-sumber folklore, kerap dihubungkan dengannya. Termasuk pembahasan wilayah Ponorogo, yang sama-sama menjadi bagian dari Kesultanan Demak.

Melalui penelitiannya ihwal babad-babad lokal daerah selatan ini, seperti Babad Ponorogo dan Babad Patjitan, Ong Hok Ham mencatat bahwa pergulatan antara agama lama dan Islam (sebagai agama yang datang belakangan) menjadi topik paling menarik dan menjadi muatan utama di hampir semua kronik lokal di sekitar wilayah-wilayah ini. Babad-babad tersebut muncul di akhir zaman kerajaan Hindu-Buddha (Majapahit), bersamaan dengan ketika Islam menyebar dari Pesisir Utara memasuki pedalaman Jawa (Ong Hok Ham, 2018: hlm. 16).

Namun menurut Ong, berbeda dengan cerita babad dari pantai utara Jawa, yang menggambarkan proses penyebaran Islam secara damai, penyebaran Islam yang berlangsung di wilayah selatan ini, menurut rekaman babad-babad pedalaman, kerap diselimuti ketidakharmonisan: bentrok dan sengketa. Proses Islamisasi dengan cara baik-baik (damai) di daerah pedalaman itu sering gagal, sehingga lebih banyak menggunakan jalur baku-hantam (konfrontasi).

Barangkali karena situasi masyarakat dan iklim politik pedalaman yang berbeda dengan situasi dan iklim politik di Pesisir Utara. Kita tahu, Islam di Pesisir Utara disebarkan lewat perdagangan dan pendekatan mistisisme (tasawuf) yang lebih bersifat damai, egaliter dan kekeluargaan. Sementara ketika Islam datang ke pedalaman, situasi di sana sudah kadung terjangkit intrik-intrik lokal, dan politik saling berebut pengaruh (yang ditularkan situasi intern Majapahit).

Kelak, menurut Ben Anderson, Islam di pesisir hancur bersamaan dengan makin surutnya wibawa dan eksistensi kerajaan-kerajaan Islam Pesisir (seperti Demak, Tuban, Gresik, Surabaya) oleh dua kebiadaban yang berlaian: pertama, hegemoni sekaligus aneksasi Mataram (kerajaan pedalaman) masa Sultan Agung atas berbagai wilayah di pesisir; kedua, cengkeraman kekuasan VOC di Pesisir Utara (juga atas restu Mataram).

Bahkan, periode 1500 hingga 1750, sebagaimana ditulis Ben Anderson, bisa dipandang sebagai semacam Abad Kegelapan Jawa yang pekat. Jawa tersobek-sobek oleh rangkaian peperangan, pembuangan, perampokan, pembantaian dan kelaparan yang tiada jeda. Termasuk dalam rangkaian ini adalah kekejaman tak terperi Belanda saat menaklukkan Blambangan sekitar tahun 1767-1781. Bahkan, dalam catatan C.J. Bosch, daerah ini barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang suatu ketika pernah berpenduduk padat, tapi banyak mengalami pembinasaan (Ben Anderson, 2000: hlm. 429).

Kita tahu, sepeninggal Hayam Wuruk, Majapahit memang pernah mengalami perang saudara yang panjang, dari Peristiwa Paregreg (antara Wikramawadhana melawan Bhre Wirabhumi) hingga perseteruan antara Bhre Kertabhumi melawan Girindrawardhana yang berakhir dengan rapuhnya eksistensi Majapahit sebagai sebuah kerajaan besar di Nusantara di pertengahan abad ke-15.

Bekas-bekas pertemuan dua kebudayaan dan kekuatan dominan ini kerap direkam dalam tradisi kesenian yang hidup di daerah-daerah setempat, seperti dalam seni Reyog. Dalam kesenian tersebut terkandung kisah baku tempur dan (pe)rebutan hegemoni (clash) antara sisa-sisa pengaruh Majapahit dengan para penyebar Islam. Legenda yang hidup dan populer di masyarakat sekaligus kesenian yang tersebar di daerah sering dapat menjadi alat konfirmasi sekaligus identifikasi, saat kita menyelisik sejarah perselisihan di antara dua pemeluk agama ini.

Menurut salah satu sumber, Reyog adalah kesenian yang digunakan untuk menyindir (semacam seni bentuk satire/pasemon) Raja Majapahit, Bhre Kertabhumi, yang tunduk dalam pelukan Putri Campa (ibu Raden Patah). Seni Reyog ini dikreasi oleh Ki Ageng Kutu (Demang Suryangalam) guna mereaksi kebijakan/keputusan Bhre Kertabhumi yang terlampau dipengaruhi selirnya, Putri Campa. Sehingga politik Majapahit berubah sedemikan rupa. Harimau adalah simbol Bhre Kertabhumi, sementara Putri Campa yang dapat meluluhkan hati sang raja, disimbolkan dengan burung merak.

Kisah masuknya agama Islam ke Pacitan dalam kronik lokal, yakni Babad Patjitan, juga melalui serangkaian kisah penaklukkan, karena para pemukim dari daerah tetangganya Ponorogo, sedang membutuhkan lahan baru untuk perkampungan muslim. Perluasan wilayah ini selanjutnya memicu konflik dengan penduduk setempat yang masih beragama Buddha atau Hindu di Pegunungan Pacitan.

Dalam Babad Patjitan diceritakan bahwa ketika Islam masuk ke sana, daerah-daerah selatan ini hampir tak berpenghuni dan ditutupi hutan. Kecuali beberapa wilayah permukiman Buddha di dekat Gua Kalak. Beberapa pengikut Bathara Katong dan orang lain dari Demak menerima izin darinya untuk membuka hutan (babad alas) dan mendirikan permukiman Islam.

Apa yang terjadi dengan Bathara Katong ini juga dialami oleh Minak Sopal. Menurut sumber folklore yang hidup di tengah masyarakat, Minak Sopal merupakan utusan dari Demak untuk menyebarkan Islam (islamisasi) di wilayah selatan Gunung Wilis. Di Trenggalek ia harus berhadapan dengan masyarakat lokal yang juga masih setia menjalankan agama leluhurnya, yakni Buddha juga Hindu.

To be continued…

Bagian kedua:Kronik Pedalaman, Islam dan Akhir Majapahit (2)

TINGGALKAN KOMENTAR

Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).