RA Kartini dengan kedua saudara perempuannya Kardinah dan Roekmini

Dalam sebuah surat awal 1900-an, Kartini pernah menggores seikat perumpamaan bagi dirinya sendiri yang tengah bergairah melanjutkan belajar tapi dijegal, “…semacam penganan enak disorongkan ke hadapan orang yang sedang menderita lapar, tapi tak boleh memakannya.” Kalimat ini ditoreh Kartini dalam salah satu surat yang cukup panjang untuk Nyonya Abendanon, bercerita perihal rasa kecewanya sewaktu keinginan meneruskan sekolah ke HBS (di) Semarang—setamat sekolah dasar (ELS)-nya—tak dibolehkan oleh sang ayah. Begitu besar keinginan dan cita-citanya untuk meneruskan pendidikan itu, sampai-sampai digambarkan dalam surat tersebut, ia rela di hadapan ayahnya berlutut memohon-mohon.

Namun hati dan perasaannya menjadi kalut lagi sedih tatkala mengetahui bahwa ayahnya, R. M. Ario Sosroningrat, ternyata bergeming. Penggalan kalimat di atas ditulis sebagai protes, betapa begitu terkekangnya posisi perempuan saat itu, yang salahsatunya, kerap dinomor-duakan secara stratifikal di bawah kaum lelaki. Namun Kartini tahu, budaya patriarkilah yang telah memutus aksesnya, bukan cuma dalam kehidupan pribadi, melainkan juga beberapa aktivitas di ranah sosial yang kaum perempuan kehendaki.

Kita tahu, Kartini adalah tipe pembaca yang tak pernah kenyang. Bahkan ia membacai sebagian buku-bukunya secara berulang, menamatkannya tiga atau empat kali. Semua kata-kata baru dan asing yang tak mampu ia pahami, dicatat untuk kemudian dicari pengertiannya. Inilah satu-satunya penghibur dalam penjara tembok feodalisme, ungkapnya dalam sebuah suratnya yang lain. Bahkan dalam satu surat, yang dia tuturkan dengan gaya penceritaan orang ketiga itu, Kartini menulis: “Seandainya tak ada buku-buku, mungkinkah ia dapat lewatkan tahun-tahun gelap itu dengan selamat?”

Dengan kebiasaan ini, daya literer Kartini maju pesat. Bahkan ia menjadi sosok peragu dan penuh selidik. Perasaannya juga berubah menjadi lebih halus dan sensitif dari sebelumnya. Meski jauh di kemudian hari, banyak orang menyayangkan kenapa ia menulis dalam bahasa Belanda bukan Melayu atau bahasa ibunya, Jawa. Adakah yang salah bila ia memilih bahasa verbalnya sendiri. Atau barangkali bacaan dalam bahasa Melayu atau Jawa, secara situasional baginya kurang memberi taste. Entahlah.

Menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja, ia menulis dalam bahasa Belanda karena memilih audiensi dengan lingkungan pembacanya. Namun sepertinya dalam suratnya kepada Nyonya Ovink-Soer tahun 1900, Kartini telah memberi jawaban: “Aku ingin dapat pergunakan bahasa Belanda, dengan sempurna menguasainya, sehingga aku dapat mempergunakannya sebagaimana aku kehendaki. Kemudian aku akan berusaha dengan alat-penaku menarik perhatian mereka, yang dapat membantu usaha kami untuk mendatangkan perbaikan nasib bagi wanita Jawa.”

Karena kemasyhuran penguasaan bahasa Belanda secara bagus dan mengagumkan, terutama untuk ukuran pribumi yang hanya lulusan sekolah rendah (ELS) itu, majalah De Echo juga De Hollandsche Lelie misalnya, pernah menyediakan kolom dan meminta izin pada Kartini untuk mengumumkan surat-suratnya. Tapi ia tahu, permintaan itu bukan niat membantu tulus perjuangannya, melainkan sekadar bahan “reklame” untuk menarik rating pembaca dan oplah yang lebih besar kedua majalah tersebut.

”Bahasa yang baik belum tentu dapat membuat seseorang jadi pengarang yang baik. Perasaan bahasa belum dapat dikatakan pengetahuan bahasa,” tulis Kartini. Dengan penguasaan bahasa Belanda ini, selain dapat mengobservasi dunia Barat melalui korespondensi dengan beberapa orang kawan Belanda-nya, Kartini juga berusaha untuk mendapatkan sendiri limpahan pengetahuan Barat itu secara langsung: dengan membacai buku-buku produk kolonial. Ia aktif membaca karya-karya penulis Eropa dalam berbagai lapangan.

Dalam surat-suratnya yang telah dibukukan, antara lain, Kartini pernah membaca, Max Havelaar juga Minnebrieven-nya Multatuli. Ia membaca dua buku ini semata karena kagum pada sikap dan perhatian besar Multatuli pada kehidupan pribumi. Lalu karya Couperus (Louis Marie Anne). Bagi Kartini, bahasa Couperus sangat indah tiada dua. Padanya Kartini pernah menyematkan sanjung: “Bolehlah Nederland bangga dengan seniman seperti dia.” Kemudian buku Augusta de Wit, ia juga sempat melekatkan apresiasi dan puji pada penulis wanita ini: “Ia menulis dengan begitu simpatik dalam bahasa yang indah tentang Hindia.” Lalu buku berjudul De Kleine Johannes, sebuah otobiografi van Eeden, serta Inwijding karya Vosmoer.

Adapun penyair yang digemari Kartini adalah de Genestet. Saking sukanya, Kartini pernah mengutip sajak “Een Meikindje”-nya Genestet ke dalam salah satu suratnya. Dan buku yang paling membekas, tentu saja adalah roman Hilda van Suylenburg karangan C. Goekoop de Jong, yang berkisah ihwal emansipasi wanita. Tema yang memang diminatinya saat itu.

Sebagaimana pernah dikatakannya pada Stella—panggilan Estella Zeehandelaar—bertanggal 12 Januari 1900: “Percayakah kau, kalau Hilda van Suylenburg aku tamatkan tanpa berhenti? Aku kurung diriku di dalam kamar terkunci, lupa segala-galanya, tak dapat aku lepaskan dia dari tangan, dia begitu menyeret hatiku!” Kartini begitu amat menyukai prosa (roman) serta buku-buku sejenis. Khusus terkait ini, ia pernah berkata kepada Stella: “Roman bertendens dalam segala hal harus lebih tinggi. Dia sempurna dan sama sekali tanpa cacat.” Buku Goekoop tersebut adalah satu contoh baik dari roman bertendens kala itu.

Kartini memang prototipe wanita resah yang tak pernah diam. Ia tulis semua kegelisahan juga kesedihan yang pernah ia alami. Namun, sebagai perempuan, ia tak mau hanya mengunci mulut saat suara kaumnya dibatasi, kemudian ditumbangkan. ”Barang siapa tidak berani, tidak akan mendapat apa-apa,” ungkapnya dalam surat bertanggal 6 November 1899.

Dalam keadaan yang terbatas(i) itu, Kartini bercerita dalam surat panjang kepada Nyonya Abendanon, betapa buku akhirnya menjadi obat segala duka-cita; menjadi satu-satunya tempat lari. Sahabat paling bisu tapi maha mengerti. Tergambar di surat tersebut, semakin jiwanya berduka, kecintaan membacanya kian menjadi candu. Segala bacaan dikunyahnya hingga tandas. Apa saja yang jatuh di bawah mata diserapnya dengan antusias. Begitulah, betapa amat rakus sosok kelahiran Rembang yang kita peringati tiap tanggal 21 April tersebut, pada buku. Selamat Hari Kartini.

BERBAGI
Artikel sebelumyaAnyone Can Write
Artikel berikutnyaBukan Surat untuk Kartini
Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).
  • Rihan Nan

    beh..kartini itu pembaca, bukan pembuat event…

    komentare mbah trigus ki tuman :v

    • Trigus D. Susilo

      Apa ada yang salah mas Rihan Nan?

      • Rihan Nan

        endak dipermasalahkan mbah..he,,

        • Trigus D. Susilo

          Syukurlah kalau begitu. Aku ki cen cah mendo lo mas Rihan Nan… harap dijadikan maklum dan periksa adanya

  • Trigus D. Susilo

    Oh Pimred. Tulisanmu menggetarkan nuraniku. Aku baru tau sosok Kartini dengan benar melalui tulisanmu ini. Tanpa mendengung-degungkan EMANSIPASI. Ini lo tulisan seng bener. Kartini adalah wanita pembaca dan Kartini adalah wanita penulis. Bukan wanita pembuat event… Aku semakin jatuh cinta kepada Pimred

  • nurma

    Ku kira kisah Kartini kok seperti cerpen Anton Chekov “taruhan”, yaitu manusia yang mendapat kebijaksanaan ketika ia dikurung dengan buku-buku. :D, entahlah.

    • Trigus D. Susilo

      Mbak Nurma, tidak tergerakkah hatimu untuk me-momen-i Hari Kartini ini dengan tulisan yang lebih humanis dan lebih dewasa. 🙂

      • nurma

        Saya sedang medewasakan diri saya sendiri, sebelum mendewasakan orang lain lewat tulisan saya
        *Alibi termutakhir*

        • Trigus D. Susilo

          Apa niatnya ingin menjadi dewasa banget mbak? kalau iya mungkin jomblowan nggalek.co bisa mengatasi itu. Tapi kalau tidak berniat seperti itu, abaikan saja ocehanku yang tak njluntrung itu

          • NURMA

            mendewasakan bacaan saya 😀

  • mas Surur, kalau Cut Nyak Dien, menurut njenengan gimana?