Bonari menikmati pemandangan dari bawah batu besar pada saat telusur desa-desa di bagian barat Trenggalek
Bonari menikmati pemandangan dari bawah batu besar pada saat telusur desa-desa di bagian barat Trenggalek

Mulanya saya ditawari Mas Editor untuk ikut mengunjungi dua kecamatan di bagian barat Trenggalek. Kebetulan hari itu, paginya saya her-registrasi motor. Sesudah persoalan dengan motor selesai, kami siap berangkat. Selain, karena saya sendiri belum pernah berjalan-jalan ke wilayah Trenggalek bagian barat ini. Kami (saya, Mas Surur dan Mas Bonari), 3 September lalu, berangkat ketika hari sudah beranjak siang. Cuaca di luar sangat panas. Kami keluar dan memulai perjalanan sekitar pukul 11.30. Ini adalah perjalanan pertama saya bersama mereka.

Dari tengah kota, kami menuju kecamatan Tugu melewati jalur Trenggalek-Ponorogo. Seperti yang saya sampaikan kepada Mas Surur, bahwa intensitas melewati jalan kota saya sendiri lebih sedikit. Saya lebih banyak riwa-riwi-nya di jalur kabupaten orang. Misal ketika beli buku, saya harus ke toko buku di kabupaten sebelah. Siang itu, saya boncengan dengan Mas Surur. Sementara Mas Bonari menggelar motor sendiri. Jarak antarkami tak terlalu jauh. Sebab, sedari awal Mas Bonari berpesan untuk tak terlalu cepat.

Tak terasa kami sampai di Desa Nglinggis, Tugu. Di jalur ini, kami sempat berhenti depan bengkel. Mas Surur turun dari motor, kemudian bertanya kepada seorang pemuda yang sedang cangkruk di depan bengkel. Ia sepertinya lupa jalur yang pernah ia lewati saat ke Pule dulu. Kebetulan sebelah bengkel ada jalur menuju selatan. Jalur inilah ternyata jalur menuju Pule, yang bakal kami lalui sebentar lagi. Perjalanan kami tak mudah, aspal banyak yang mengelupas. Kami lewat desa di tepi waduk di Nglinggis. Fokus kerap buyar oleh pemandangan waduk di utara jalan. Saya membayangkan bagaimana nasib warga di lingkungan ini yang dulu sebagian digusur untuk pembangunan waduk. Bila waduk selesai dibangun, bisa saja masalah tak lantas juga berhenti.

Mas Surur usul untuk berhenti di atas bukit. Saya berhati-hati dan kerap menambah gas supaya motor tetap berjalan stabil. Sampai atas, kami berhenti sejenak, melihat ke waduk Nglinggis. Tampak bukit krowak, tempat lokasi pembangunan waduk in. Kami sempat mengambil gambar, tetapi view pembangunan tersebut terhalang banyak tanaman ketela pohon.

Kami (saya dan Surur) masih dengan ponsel. Sedangkan Mas Bonari sudah terlebih dulu berjalan sampai atas. Saya menyalakan motor dan membuntutinya. Beberapa menit berjalan kami melewati tempat penampungan air. Depan penampungan ada anak mencuci motor dan mandi. Sepertinya bangunan ini baru direnovasi. Mas Surur berjalan menuju sumber air di bawah pohon. Di sekitar pohon banyak kabel sanyo untuk menyedot air dan dialirkan ke rumah-rumah warga. Sumber air ini sepertinya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga. Di sekitar sumber, banyak tumbuh-tumbuhan subur. Bila pohon-pohon itu ditebangi, mustahil sumber air akan tetap lancar mengalir. Sebab itu, kita mesti melindungi alam dari tangan-tangan serakah yang menjarahi alam. Karena hubungan antara vegetasi dan situasi di sekitarnya sangat erat.

Sebelah barat sumber air ada batu kars. Batu itu mereka jadikan tangga masuk ke gank rumah warga. Saya penasaran dengan anak-anak tadi. Mereka bilang bahwa kami telah masuk Desa Sukokidul, Kecamatan Pule, lalu kami lanjut jalan. Jalan lumayan bergeronjal. Banyak batu yang lepas dari aspal. Wilayah ini harusnya mendapat perhatian oleh para pemangku kebijakan. Sebab, jalan banyak yang perlu diperbaiki.

Selang beberapa menit kami masuk pemukiman Sukokidul. Mas Bonari berada di depan. Saya memanggil dengan klakson atas permintaan Mas Surur. Mas Bonari berhenti, kemudian memutar kanan menuju arah kami. Mas Surur ke rumah salah satu warga, dan bertanya tentang lokasi Bukit Jompong. Setiba di sana, kami melihat batu yang unik. Batu merekat tetapi seolah tak menyatu. Tak ayal, bukit ini bisa menjadi destinasi lain di bagian barat kota. Menurut Mas Bonari dan Mas Surur, batu Jompong ini mirip situs batu di Gunung Padang—salah satu situs tua yang baru-baru banyak dikunjungi. Batu bergaris seperti pilar. Batu seakan terpisah, tetapi melekat dalam bongkahan. Jika dilihat berbentuk diagonal; bentuk  segi lima.

Batu Jompong, berbentuk diagonal (segi lima). Meskipun tampak terpisah, batu ini sebenarnya adalah bongkahan
Batu Jompong, berbentuk diagonal (segi lima). Meskipun tampak terpisah, batu ini sebenarnya adalah bongkahan

Hari semakin siang. Kami lanjut menelusuri Kecamatan Pule, melalui depan balai Desa Suko Kidul. Dari Desa Suko Kidul sampai Desa Karanganyar, ada beberapa jalan yang harus diperbaiki: beberapa titik aspal hancur. Kami sampai juga di simpang lima Kasperan Desa Jombok. Sebelah Tugu Pancasila, istirahat dan sempat pesan kopi, teh dan air putih. Selesai ngaso kami lanjut menuju barat, yakni ke Desa Tanggaran. Kami melewati gigir bukit, nampak pohon pinus di kanan kiri. Secara tidak langsung, topografi jalan ini mirip jalur Bendungan. Mas Surur bilang memang ada kemiripan di beberapa tempat bila kita lewat gigir bukitnya, yang kanan kiri ditanami pinus.

Kami sempat mengagumi pinus yang tumbus di kanan-kiri jalan. Jujur, saya melewati bukit-bukit ini, hati jadi senang. Sejenak lupa dengan masalah. Tak terasa, kami sampai di Desa Tanggaran lantas menuju Desa Puyung. Jalur lumayan enak. Aspal kelihatan diperbaiki. Kami harus waspada. Beberapa titik tikungan curam dan tidak dilengkapi rambu lalu lintas. Saya sempat bikin guyonan untuk Mas Surur, setelah seorang cewek berseragam putih-abu-abu melintas. Saya bilang, kok ada gadis cantik lewat desa, ia mestinya tinggal di kota. Tetapi Mas Surur sepertinya tak tertarik lagi kurang peka. Hahahaha…

Kami beruntung, hujan tak sempat mengguyur perjalanan kami. Tinggal gerimis yang tersisa. Di Desa Puyung kami tak menemui batas desa. Tiba-tiba saja kami sampai Desa Sido Mulyo. Di pertigaan ini, kami sempat mampir di warung, sekaligus makan siang yang sempat tertunda. Sebelum mengisi perut, kami shalat dahulu. Ini juga kesempatan mereka, Mas Bonari dan Mas Surur untuk ngudud. Tampaknya aktivitas penduduk di sini hampir mirip dengan penduduk di bawah gunung Padas, Desa Gemaharjo, Kecamatan Watulimo. Dikotomi ini merepresentasikan bahwa desa-desa di sini masih banyak yang melakukan aktivitas orang-orang desa pada umumnya.

Waktu pun menunjukkan setengah tiga sore. Mas Bonari usul nanti setiba di Panggul, kami diajak mampir ke Pantai Konang. Tak ada batas kecamatan di wilayah ini. Melewati balai Desa Tangkil sampai Desa Manggis yang merupakan nama-nama desa di Panggul bagian utara. Barangkali, desa ini merupakan desa penghasil Manggis terbesar di Kecamatan Panggul. Tetapi saya tak menjumpai pohon Manggis satu pun, malah yang kami jumpai pohon cengkih yang hidup di pelataran rumah warga. Mas Surur yang berada di belakang, bercerita secara lamat-lamat. Sedangkan saya tak terlalu mendengar. Saya cuma mendengar kata sawahan. Kebetulan sisi kiri jalan ada sawah membentang. Ternyata saya telah melintasi Desa Sawahan.

Sekali lagi, saya baru kali ini menelusuri jalan desa, sekaligus berusaha menghafal nama-nama desa di barat kota ini. Tak terasa kami melewati Desa Bodag, sebelumnya melewati Desa Barang. Mas Bonari berada di depan menjadi petunjuk jalan. Mas Surur terus bercerita, tetapi suaranya tertahan oleh berisik angin dan terhalang kaca helm. Suara tak terlalu jelas, dan sempat menyebut kata Jenderal Soedirman. Mas Bonari yang berada di depan belok kiri. Batin saya, ini adalah jalur menuju Pantai Konang.

Saya sempat berprasangka datar, tak ada yang istimewa jika tikungan itu jalur menuju pantai. Maklum, saya juga berasal dari pesisir. Sampai di ujung jalan saya sempat kaget, dugaan saya salah. Ternyata ini adalah monumen bersejarah. Rumah peristirahatan Jenderal Soedirman saat gerilya. Benar, saya baru kali ini mengerti dan melihat langsung rumah persinggahan Jenderal Soedirman. Ini rumah persinggahan saat Jenderal Besar Soedirman melakukan perang gerilya melawan tentara Belanda. Jika monumen ini mendapat perhatian dari pemerintah, diwujudkan sebagai cagar budaya dan di-dandani, tidak bisa dipungkiri tempat ini akan didatangi banyak orang, dan tentunya tidak kalah dengan monumen Jogja Kembali di Yogyakarta.

Rumah peristirahatan Jenderal Soedirman saat gerilya melalui Trenggalek
Rumah peristirahatan Jenderal Soedirman saat gerilya melalui Trenggalek

Saya mengambil gambar prasasti dan rumah joglo. Mas Bonari menyarankan untuk mengabadikan prasasti yang tertulis “Tempat Peristirahatan Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam Memimpin Perang Gerilya dari Tanggal 13 s/d 15 April 1949”, meski pada prasasti itu membentuk simbol angka 45. Di pondasi prasasti itu ada coretan yang kurang enak dipandang, menandai aktivitas mahasiswa melakukan masa pemberdayaan di desa itu. Ya, seharusnya, mereka sadar dan merawat keindahan momunten, sekalipun tulisan kecil.

Tanpa menunggu perintah, saya melepas sandal menuju teras rumah. Ponsel masih berada di tangan, saya mengabadikan foto-foto Mbah Dirman serta peta rute gerilyanya. Sayang, gambar-gambar di sini tampak luntur, dan beberapa tak terlihat. Sebenarnya saya ingin masuk rumah, melihat peninggalan. Tak ada rotan akar pun jadi. Saya pun tak melewatkan satu foto yang terpasang di bale itu. Rumah ini masih berdiri tegak dan mempertahankan wujud asli. Rumah ini direnovasi dan diresmikan baru pada 5 November 2003, oleh R. Srenggong Putro, Letnan Kolonel pada masanya.

Di depan rumah petilasan itu ada Masjid Jami’ Nurul Amal. Entah masjid ini milik warga atau bangunan pada masa perang agresi militer dahulu. Kami sempat sembahyang di masjid depan rumah peristirahatan Mbah Dirman itu. Barangkali, masjid ini dahulu juga digunakan Mbah Dirman sembahyang, saat ia bergerilya dan menginap di Panggul.

Masjid Jami’ Nurul Amal
Rumah singgah Pak Dirman tampak dari jauh

Hari semakin senja. Supaya tidak kemalaman, Mas Bonari usul ngopi di Pantai Konang. Kami panasi motor dan jalan menuju Pantai Konang. Setengah jam, kami sampai di Pantai Konang. Pantai Konang di sore hari masih ramai. Kami pesan minuman sembari melihat aktivitas nelayan Konang dan ombak yang relatif tinggi, sambil melihat mata hari terbenam di ufuk barat. Sunset di barat mulai tak nampak dan tenggelam dalam temaram. Kami pun undur diri dari Pantai Konang. Melalui jalur Panggul-Dongko-Trenggalek. Sampai di Dongko, kami berpisah dengan Mas Bonari.

Kami (saya dan Mas Surur) tak mampir Cakul, rumah Mas bonari, karena perjalanan kami masih panjang dan takut kemalaman menelusuri jalur Dongko-Suruh-Karangan-Trenggalek-Watulimo. Hari semakin malam. Saya dan Mas Surur sampai di Trenggalek lagi, kami istirahat sebentar kemudian lanjut ke Watulimo. Bagi saya, perjalanan sisi barat kota Trenggalek kali ini melelahkan tapi sangat mengasyikkan. Menggelar perjalanan tak harus di tempat-tempat mahal. Jalan-jalan dari desa ke desa dan lokasi bersejarah seperti ini juga dapat men-charge wawasan baru. Mari kita rawat lokasi-lokasi pedesaan kita dan kita pertahankan keasriannya. Saya tiba di rumah jam 10 malam.

Teka omah dikudang embok, amarga wis ra pamit lan muleh kewengen. Huahahaha….