Dahulu ada sebuah fabel yang pernah mengiang di telinga anak-anak kecil seusia saya, mengenai seekor kucing yang tersangkut di perkampungan manusia. Saya dihampiri dongeng kucing itu lagi, setelah sekitar sebulanan lalu menonton The Jungle Book (2016). Sebuah film yang disutradarai Jon Favreau, bergenre setengah fantasy, setengah adventure. Film ini bercerita tentang, pertemanan anak manusia bernama Mowgli dengan kawanan keluarga serigala, serta riwayat api yang ditakuti seluruh penghuni hutan. Mula-mula, seorang anak (bayi) terdampar di hutan karena ditinggal mati orangtuanya akibat serangan binatang buas. Anak kecil ini selamat, dan singkat cerita, jatuh dalam rawatan rombongan serigala.

Sesudah anak itu besar, melalui perawatan keluarga serigala tadi, kelak dititipi mitos oleh para hewan, mengenai bahaya ”bunga merah” (api) dan mewanti-wanti untuk menjauhinya. Bunga merah itu dikelola oleh manusia di kampung-kampung pinggir hutan sana, yang bisa mencelakakan seisi hutan di sini: pepohonan yang menjadi teritori segala jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan. The Jungle Book sendiri adalah film yang diadaptasi dari buku karangan sastrawan Inggris, Rudyard Kipling.

Dari sebab menyaksikan film inilah, saya jadi teringat dongeng (fabel) kucing yang tinggal di perkampungan,. Dahulu, kata orang, kucing sebetulnya adalah hewan liar di hutan. Pada suatu ketika si kucing disuruh mencari api ke perkampungan, tapi tak pernah kembali dan tertambat sesuatu yang entah apa, di perkampungan manusia. Cerita dalam film ini, sedikit-banyak mengingatkan pada dongeng masa kecil itu. Entah kaitannya terletak di sebelah mana. Barangkali karena ada cerita api (bunga merah), saya jadi asal tertaut begitu saja dengan kucing yang mencari api di kampung manusia. Atau bisa jadi, fabel yang diangkat ke layar film dari tulisan Kipling, dalam kadar tertentu diilhami fabel-fabel yang berkembang di tengah masyarakat; salah satunya latar cerita yang juga pernah saya dengar. Anggap saja begitu. Meski kisah dan alurnya, tentu saja tak benar-benar persis.

Kisah kucing yang hidup bersama manusia, sebagaimana ayam, kambing, sapi dan hewan-hewan lain yang kini ada di sekitar rumah kita, umum adanya dahulu karena terdomestikasi (dijinakkan). Alurnya bisa dijelaskan secara logis dalam sejarah dan ilmu etnologi. Tapi memang bagaimanapun, dengan dongeng, sebuah cerita, kisah, juga sejarah akan menjalani hidupnya lebih lama. Lebih tahan mengarungi arus waktu. Keawetannya bisa melampaui umur manusia sendiri. Dan tentu tak perlu khawatir hilang. Lain perkara, bila kisah merasa cukup hanya dijelaskan dengan bungkus, yang bukan cerita rakyat (folklore) dan legenda.

Manusia (bocah Mowgli) dalam film di atas, dilarang kembali ke perkampungan karena bakal membawa api yang bisa membakar seluruh hutan dan mencelakakan warga binatang. Sementara cerita kucing yang hilang ke perkampungan adalah kepergian dari hutan yang barangkali malah menguntungkan manusia. Karena si kucing hidup dengan mereka dan menjadi binatang jinak yang disukai. Fokus cerita terakhir, sepertinya cuma membahas domestikasi hewan dengan bungkus legenda.

Dan, sepertinya terselip pesan yang secara tersirat kurang bagus di film The Jungle Book, bahwa manusia kerap membawa kejahatan yang tersemat dalam perangai dan nafsunya; bawaan karakter-karakternya. Dalam diri manusia ada ambisi-ambisi gelap yang tersembunyi dalam, di antaranya, sifat ego dan tamak, yang kapan saja bisa terbit. Nafsu buruk manusia ini—kini mengenakan baju-baju ideologi yang kerap agresif terhadap alam, tempat tinggal segala jenis hewan, aneka tumbuhan, juga tanah dan segala yang berada di atasnya, termasuk agresivitas manusia terhadap sesamanya yang berbeda dengannya. Ini bisa membawa wabah mematikan dan destruktif, kalau tidak dijauhi atau dikendalikan. Sifat tamak itu, kini dibajui kapitalisme (ancaman keburukan korporasi), hedonisme (hasrat mereguk keuntungan kapital) dan segala istilah yang punya indikasi menjahati alam dan manusia yang meningalinya.

Andai diibaratkan daerah Trenggalek ini adalah hutan di film The Jungle Book, teritori segala jenis tumbuhan dan pepohonan serta barang-barang tambang, maka manusia penghuninya, terutama pejabat-pejabat pemerintahannya, adalah Mowgli. Yang juga punya potensi dari sifat destruktif yang dimilikinya, terhadap alam Trenggalek. Terlebih karena daerah ini sudah lama ingin sekali berubah dari anggapan ”daerah minus”. Kebetulan dua anak muda yang cukup menjanjikan, tengah memimpinnya. Mereka berdua sudah pasti ingin membuat kota ini ”berubah” dan tercatat dalam sejarah. Mereka sepertinya ingin melahirkan kota ini ke dalam wujud dan bentuk lain, yang kadang masyarakatnya tidak terlalu jauh tahu, seperti apa itu.

Sekurangnya, keduanya telah sepakat ingin membuat cerita—tentu juga citra—yang berbeda dari sepanjang sejarah kepemimpinan di daerah ini, dengan karier-karier yang akan mereka berdua jalani. Seorang pejabat pernah mengatakan bahwa daerah ini adalah ceruk, dengan potensi tersembunyi. Potensi yang sangat bisa membuat kekuatan-kekuatan dari luar (investor, armada kapital swasta) tergiur, dan melahirkan sifat jahatnya yang lain: ketamakan. Sebagian masyarakatnya juga gencar untuk mempromosikan daerahnya. Begitu pula, tak disadari banyak penghuninya yang doyan mengundang orang-orang luar daerah dan memperlakukan mereka layaknya—bukan wisatawan, tapi— ”investor”, yang bukan cuma butuh hiburan dari rasa penat dan beban sehari-hari.

Masyarakat bersama-sama tengah menunggu kebangkitan Trenggalek, dari daerah yang dianggap minus menjadi daerah ”yang dilirik”. Bisa saja dengan kebangkitan kedua destinasi wisatanya. Saya katakan kedua, karena wisata di Trenggalek, pada dasarnya telah bangkit jauh-jauh hari, meski belum terkelola lebih bagus. Tapi yang perlu dikhawatirkan adalah bila ujung-ujungnya ada hitam di atas putih soal entah deal-deal segala jenis penambangan, atau kebijakan-kebijakan yang tak pro-rakyat. Pengerukan sumber daya di bawah permukaan tanah, atau secara umum bentuk-bentuk kebijakan yang membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia, tanah dan air daerah ini. Kalau itu terjadi, bisa saja cerita Mowgli yang membakar hutan di film The Jungle Book, akan terulang. Ya, semoga saja tidak.

BERBAGI
Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).