Tuesday
12 November 2019
Njajah Desa Milang Kori


Sejarah Masjid Agung Trenggalek

Masjid Agung sebuah kota umumnya berdiri di samping alun-alun. Keberadaan Masjid Agung jamak terletak di sebelah barat alun-alun dan menjadi…

Sebuah Esai dari Misbahus Surur terbit pada 5 Juli 2019 — Tag: , , , — Artikel ini dibaca normal dalam 4 menit.

Masjid Agung sebuah kota umumnya berdiri di samping alun-alun. Keberadaan Masjid Agung jamak terletak di sebelah barat alun-alun dan menjadi penanda pusat kota di setiap kabupaten di Jawa. Ini adalah wujud tata kota dari aplikasi konsep mancapat sejak masa Mataram Islam.

Masjid Agung Trenggalek pertama kali dibangun oleh Bupati Sumotruno—putra Bupati Ponorogo, Mertodiningrat—sekitar tahun 1743. Dengan imam besar Kiai Mbah Nur Kholifah (Mbah Nur Jalifah), seorang ulama yang kini makamnya terletak dekat Desa Rejowinangun. Tanah masjid ini, menurut penelusuran Abdul Hamid Wilis, adalah tanah waqaf Mbah Nur.

Di masa Sumotruno sebetulnya Kabupaten Trenggalek baru saja mendapatkan otonomi dari Mataram, setelah cukup lama bergabung dengan Kabupaten Ponorogo. Di masa ini umur kabupaten kelak hanya berlangsung sekira 12 tahun, jika dihitung dari masa pemerintahan Bupati Sumotruno, Joyonagoro hingga Mangundirono yang berakhir tahun 1755. Sebab, pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755, Kabupaten Trenggalek nanti dilebur, dan beberapa kecamatannya diikutkan menjadi wilayah kabupaten-kabupaten tetangga seperti Ponorogo, Tulungagung dan Pacitan.

Sejak tahun 1830, yakni di masa Bupati Mangunnegoro I hingga masa Bupati Wijoyokusumo, yang wafat tahun 1905, masih menurut catatan Abdul Hamid Wilis, tak pernah ada riwayat rehab Masjid Agung Trenggalek. Hingga tiba masa kepemimpinan Bupati R.A.A. Purbonegoro, masjid direhab, bahkan dibongkar dan dibangun kembali di lokasi yang sama. Proses pembangunan masjid baru di masa Purbonegoro ini berlangsung selama sekitar 2 tahun: dari tahun 1913 hingga 1916. Tiang utama (saka guru), atap dan segala bagian dari masjid yang lama diturunkan dan dibangunlah masjid baru.

Tiang utama masjid baru yang dibangun di masa Purbonegoro ini, menurut catatan buku Abdul Hamid Wilis, terbuat dari kayu jati besar, dengan ukir-ukiran halus, dan lantai dari marmer. Bagian serambi, ubinnya terbuat dari tegel berwarna kuning. Namun saya tidak tahu apakah masjid baru di zaman Purbanegoro ini secara bentuk mempertahankan model masjid yang lama atau diubah (?).

Kebetulan di tahun 1916, dalam catatan sejarah, Trenggalek mengalami banjir bandang besar. Dampak banjir bandang ini yang paling hebat terjadi di wilayah Kecamatan Kampak, sampai-sampai masjid kenaiban Kampak yang berlokasi di dekat Sungai Bogoran, ikut roboh dan terbawa hanyut. Pasca banjir bandang, atas saran Bupati Purbonegoro, tiang utama berikut segala bagian dari masjid Agung Trenggalek yang lama (awal)—yang dulu dibangun di masa Sumotruno—dipindah ke Kampak untuk membangun kembali masjid kenaiban Kampak.

Jadi, saka guru Masjid Agung Trenggalek yang pertama itu, yang digunakan pada masjid kenaiban Kampak, merupakan salah satu bagian masjid tertua di Kota Trenggalek. Sebab, bahan-bahan yang dipakai untuk mendirikan kembali masjid yang dihanyutkan banjir bandang itu, diambil dari bekas bangunan Masjid Agung Trenggalek yang pertama.

Kita tahu karakter khas masjid-masjid kuno di Jawa umumnya tampak dari atap dan bentuk kubah yang menyesuaikan kultur lokal. Bayangkan saja seperti model masjid-masjid zaman dulu: bangunannya beratap tumpang, bisa tumpang dua atau tiga dan seterusnya, yang makin ke atas semakin mengecil. Dengan saka guru mirip bangunan depan (ruang utama) rumah joglo di desa-desa di Jawa.

Atap masjid zaman dulu umumnya bertajuk tumpang. Selain tajuk genteng sebagian juga masih menggunakan lembaran-lembaran kayu yang dipola sedemikan rupa (sirap). Seperti yang bisa kita lihat di antaranya pada Masjid Agung Demak atau Masjid Tegalsari di Ponorogo, yang tersusun dari sirap atau kepingan-kepingan papan kayu (biasanya kayu ulin). Sementara tiang-tiang besar (saka guru) sekaligus tiang-tiang kecil menjadi penyangga bangunan dan atap masjid.

Susunan atap tumpang pada masjid kuno itu merupakan manifestasi akulturasi budaya lokal berupa punden berundak. Ini sebagai wujud kuatnya akulturasi agama dan budaya yang justru memperkaya seni bangunan lokal dan keleluasaan seni arsitektur dalam menyerap. Masjid-masjid zaman dulu dibangun umumnya berbarengan dengan pendirian pesantren di sampingnya. Ini juga bisa dilacak di beberapa tempat di Trenggalek, bahwa rata-rata pendirian masjid lama, lantas disusul dengan pendirian pesantren.

Kalau kita amati, kini kubah dan menara masjid kian menggapai angkasa. Rata-rata masjid di desa, terutama masjid yang baru didirikan, gaya arsitekturalnya tidak lagi kembali ke bentuk dan karakter khas (identitas) Nusantara, melainkan mengiblat, baik secara bulat-bulat maupun secara sebagian saja, pada bentuk-bentuk masjid di Timur-Tengah.

Seperti misalnya Masjid Agung Trenggalek sekarang, juga masjid di dusun saya di Munjungan sana, yang bagian depan/mukanya dibangun bergaya entah masjid Turki atau mungkin Pakistan, kendati bagian belakang (sekitar imam/mihrab) masih menyisakan atap tumpang dua, mempertahankan gaya dan bentuk atap masjid lama.

Berbicara tentang perjalanan Masjid Agung Trenggalek, ngomong-ngomong ada satu peristiwa “menarik” terkait keberadaannya di masa revolusi. Pasca pemberontakan PKI Madiun tahun 1948, setahun kemudian yakni tahun 1949, saat terjadi Agresi Militer Belanda II, ketika tentara Belanda akan memasuki dan menyerang Trenggalek, penduduk diimbau untuk mengungsi meninggalkan kota. Kejadian ini tepatnya berlangsung pada 20 Maret 1949.

Saat Kota Trenggalek dalam keadaan kosong, dengan situasi yang bercampur panik, orang-orang PKI dan pendukungnya, Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), di Trenggalek—dari sisa-sisa peristiwa Madiun 1948—sempat menggunakan kesempatan tersebut untuk membakar Masjid Agung dengan alasan melaksanakan bumi hangus.

Sebagaimana diceritakan Abdul Hamid Wilis, bahwa saksi mata peristiwa tersebut adalah Kiai M. Yunus sendiri, imam besar masjid agung kala itu. Kiai Yunus kediamannya terletak di Kauman (masuk wilayah Jonegaran, Ngantru). Di tengah kepanikan dan kesibukan masyarakat untuk mengungsi, saat sholat Isya digelar di malam hari sebetulnya masih banyak jamaah sebagaimana hari-hari biasa. Namun pada pukul kurang lebih 22.00, jamaah yang masih ada di masjid segera pamit untuk bersiap ikut mengungsi dengan keluarga masing-masing.

Saat malam pengungsian akibat agresi militer Belanda, di masjid tinggal Kiai Yunus beserta satu dua jamaah. Pada saat itulah, sebagaimana dituturkan Abdul Hamid Wilis, datang beberapa orang PKI dan Pesindo memasang dinamit (bom) di tiap saka guru masjid agung. Tidak berhenti di situ, beberapa orang juga membawa jeriken minyak tanah. Masjid sengaja akan dibakar. Kiai Yunus menolak dan menentangnya. Tetapi orang-orang PKI dan Pesindo tetap ngotot ingin membakarnya.

Kiai Yunus mencoba mencari bantuan dengan menghubungi komandan Mayor Zainal Fanani juga komandan-komandan yang lain, namun tidak berhasil. Apalah daya Sang Kiai yang saat itu tinggal sendirian. Bahkan Kiai Yunus sempat digotong keluar masjid ketika ia bersikeras tetap tinggal di dalam.

Sambil diangkat keluar oleh orang-orang yang hendak membakar masjid, Kiai Yunus hanya bisa berdoa sebagaimana doa Abdul Mutholib, kakek Nabi, saat melihat Kakbah didatangi pasukan gajah. Rencananya masjid akan dibakar tepat pukul 24.00. Akhirnya Masjid Agung Trenggalek sungguh-sungguh dibakar tepat tengah malam, hari Ahad malam Senin tanggal 21 Maret 1949. Masjid yang dulu dibangun kedua kalinya di masa Bupati Purbonegoro itu pun tinggal puing-puing dan abu pada pagi harinya.

Jadi, Masjid Agung Trenggalek pernah dipugar bahkan dibangun kembali, tercatat dalam sejarah setidaknya tiga kali, yakni pada masa Sumotruno saat didirikan untuk pertama kali. Dilanjutkan di masa Purbanegoro saat dipugar alias dibangun kembali secara berbeda, dan terakhir dibangun ulang karena dibakar oleh orang-orang PKI dan Pesindo.

Di masa kini, Masjid Agung Baiturrohman, masjid kebanggaan warga Kota Trenggalek ini, dipugar secara total di masa Bupati Mulyadi, dengan kubah berbentuk bulat khas masjid Timur-Tengah, dengan 4 buah menara dan 3 kubah, diarsiteki oleh Ir. Abd. Mujib. Masjid hasil pugar total sejak 2006 dan diresmikan tahun 2011 ini sanggup menampung kurang lebih sekitar dua ribu jamaah. Ini-lah kisah singkat perjalanan Masjid Agung Trenggalek dari masa ke masa, yang hingga kini telah berusia 276 tahun sejak pertama dibangun.

TINGGALKAN KOMENTAR