Foto Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek di sela-sela Festival Rakyat Trenggalek-diambil dari IG avinml

Baru saja berlalu gemuruh derap langkah kaki para pengunjung dan riuhnya musik di Festival Rakyat Trenggalek 2016, yang diselenggarakan pada 20-22 Mei kemarin. Festival yang juga bisa dipahami sebagi pesta rakyat tersebut masih menyisakan beberapa pertanyaan, khususnya dari kalangan orang juweh dan tidak gampang percaya seperti saya. Kira-kira apa niat utama diadakannya even tersebut? Apakah untuk memperingati 100 hari kepemimpinan duo mantan vokalis band yang kini jadi bupati dan wabup itu? Atau apakah untuk merayakan Hari Kebangkitan Nasional? Atau hanya sebagai test case seberapa menarik Trenggalek bagi pelaku ekonomi kreatif, seperti yang dikatakan wakil bupati melalui akun twitter-nya? Yang jelas, di sini penulis akan mencoba menjadi komentator dari ketidakjelasan even tersebut.

Supaya Kota Minak Sopal ini menjadi baik, tentu menjadi tujuan utama, siapa sih yang tidak ingin kota kecil yang penuh dengan penggrundel di media sosial ini tidak moncer di jagat raya? Meski terkadang even-even di Trenggalek masih saja berbenturan dengan akal idelis dengan misalnya mengedepankan label-label tertentu, namun kita percaya bahwa si pembuat even ingin yang terbaik, meskipun ya cara-caranya belum tampak bagus.

Mari kita kupas Festival Rakyat Trenggalek 2016. Makna festival, seperti yang telah di-jlentreh-kan oleh Pimred nggalek.co di tulisan sebelumnya, berjudul “Betapa Pentingnya Festival Desa”, sudah sangat baik. Rujukan yang diambil langsung dari KBBI, saya mengikutinya, bahwa festival rakyat itu adalah pesta rakyat. Bahkan menyebut festival tanpa tambahan kata rakyat pun sudah bisa diartikan sebagai “pesta rakyat”. Jadi, kalau masih ada yang komplain masalah penyebutan festival rakyat atau pesta rakyat, itu sebenarnya sama saja.

Bicara pesta rakyat tentu yang paling banyak dilibatkan adalah rakyat. Rakyat siapa? Ya tentu rakyat Trenggalek, bahkan, kalau saya boleh berpendapat, tidak perlu sebenarnya rakyat di luar Trenggalek ikut-ikutan merayakan pesta rakyat di Trenggalek. Apalagi sampai mengisi stand-stand yang disediakan panitia dan berjualan di sana. Karena konteks yang saya pahami dari judul even adalah pesta untuk rakyat Trenggalek.

Kendati demikian, fakta yang terjadi di seputar alun-alun Trenggalek, masih sama dengan apa yang terjadi pada even-even sebelumnya juga diadakan di tempat yang sama. Ternyata masih banyak orang-orang di luar Trenggalek yang menghuni stand-stand yang telah disediakan. Apa itu salah? Ya tinggal dilihat dari sisi mana. Kalau ini berkaitan dengan mengangkat harkat martabat para pelaku UMKM di Trenggalek, justru ini sangat salah dan bermasalah. Bicara terus terang saja, ini berkait erat dengan perputaran uang. Kalau stand jual beli itu diisi oleh orang dari luar Trenggalek, muter-nya uang bisa tidak terkendali. Hasilnya: wong nggalek mung dadi tukang nonton lan tuku.

Saya tidak mau menjadi orang apatis yang kemudian menolak begitu saja sesuatu yang tidak se-ide dengan saya tanpa berbuat, maka saya pergi ke festival tersebut. Jadi saya memang menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa stand, yang di antaranya dikhususkan kepada perwakilan sekolah. Saya bertanya kepada guru yang menjaga stand, “Bu niki napa nggeh leres damelane piambak?” tanya saya sambil memegang salah satu produk kreatif yang di-display. Dan ibu guru tersebut menjawab, “Dudu mas. Walah gek apa sempat nggawe ngono kui?” jawaban yang lugas dan jujur. Meski saya yakin tidak semua yang dipamerkan di sana, adalah hasil buatan orang lain. Pasti ada satu atau dua stand yang memang memajang produk yang mereka buat sendiri.

Itu masih permasalahan stand, belum lagi permasalahan yang lain. Menjelang Maghrib, saya bersama kawan berjalan menuju Masjid Agung. Dari kejauhan saya menyaksikan ada orang yang berbicara bahasa Inggris dengan menggebu-nggebu. Asumsi saya, itu adalah lanjutan dari sesi debat bahasa Inggris yang tanpa ada jeda, meskipun adzan magrib dari masjid agung sedang berkumandang. Padahal, jaraknya hanya beberapa meter saja. Melihat ini saya berpikir, dinas pendidikan ini mau ndidik orang lewat jalur apa, ya? Dari keahlian berbahasa Inggris di atas panggung atau dari kedisiplinan untuk beribadah. Faktanya, pelajaran bahasa Inggris dan pelajaran (etika) agama, sama-sama ada di sekolah. Tapi kalau diterapkan bersamaan, jadinya malah tidak bagus. Belum lagi, suara keras musik dari stand penjual CD yang membuat suasana semakin gaduh. Oh, pesta ini benar-benar ramai.

Sekali lagi ini adalah pesta rakyat, kita berpikir positif dulu saja. Mungkin panitia memang menginginkan sesuatu yang ramai, menyukai hiruk pikuk dan (ke)gaduh(an) lalu lalang orang berjalan, biar even ini terlihat ramai. Memang sih, parameter paling mudah sebuah acara adalah dengan cara melihat saja (yang tampak). Kalau even banyak pengunjung dan ramai, itu indikator berhasil; dan jika even sepi pengunjung, itu indikator tidak sukses. Mudah, bukan? Tapi, tunggu dulu, sejauh mana tingkat ramai pengunjung dan keberhasilan even itu bisa diukur, sehingga bisa dikatakan sukses?

Festival Desa
Mas Bonari, masih dari tulisan yang tadi saya kutip di atas, menulis, jika suatu saat akan lebih baik jika festival itu diadakan di desa-desa, supaya tidak terfokus di kabupaten saja (baca: pusat pemerintahan). Itu adalah pemikiran yang jenius. Mengadopsi dari pemikiran Mas Bonari, saya juga berpikir, seharusnya festival rakyat itu diadakan benar-benar—dengan menggunakan istilah sederhana dari makna demokrasi—“dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat”.  Kenapa harus memunculkan food truck, jika kita sudah punya sego gegok dari Bendungan; punya kambing etawa dari Dongko; punya manggis dan durian dari Watulimo; cengkih dari Munjungan, dan banyak yang lain?

Festival rakyat diadakan untuk rakyat, jadi mestinya yang ikut serta adalah rakyat. Tidak perlu muluk-muluk, misalnya karena even ini yang mengadakan adalah kabupaten, maka seluruh kecamatan dipersilakan mengisi stand expo tanpa biaya alias gratis. Dengan syarat, harus menampilkan potensi lokal yang ada di kecamatan masing-masing. Dan setiap kecamatan juga membawa setiap kepala desa mereka untuk berbaur dalam satu tempat untuk mengenalkan potensi desa masing-masing. Meskipun yang dipamerkan adalah konthol kebo (nama salah satu jajanan) tentu itu lebih baik dari pada masakan dari Eropa.

Ada pertanyaan dari warga Trenggalek kepada wakil bupati, “Sebenarnya acara kemarin itu dalam rangka apa, Pak?”Avinml (akun twitter Wakil Bupati Trenggalek) menjawab pertanyaan dari salah satu warga tersebut: “Tidak dalam rangka apapun, mengingat minggu depan sudah puasa terus lebaran terus agustusan, maka waktu yang tepat jika mau testcase seberapa menarik Trenggalek bagi pelaku ekonomi kreatif ya saat ini. Ke depan, kita ingin masyarakat dan pemerintah belajar dari acara ini, dan membuat ekonomi Trenggalek menggeliat”.

Jawaban di atas memberikan sinyal bahwa Festival Rakyat Trenggalek hanyalah sebuah testcase saja, tidak memiliki tujuan pasti (meskipun di beberapa banner yang terpasang, menyebutkan ada 100 hari masa jabatan). Jika hanya sebuah testcast, kenapa yang di-angkat bukan ekonomi rakyat Trenggalek yang sebenarnya?

Festival Rakyat Trenggalek selain di setir oleh EO, ternyata juga di-cawe-caweni oleh Dinas Pendidikan. Dan, salah satu yang paling fenomenal dalam rangkaian acara adalah Parade Lampion. Entahlah, apa korelasi dinas pendidikan dengan pesta rakyat? Lampion banyak melibatkan pengajar di Trenggalek. Aksi mlaku bareng sambil bawa lampu lampion ini nyatanya sangat diminati orang. Ya, saya percaya itu karena sudah di-organisir dengan baik. Jadi kalau saya bertanya kepada salah satu pendidik yang mengikuti acara Parade Lampion tersebut, dia menjawab, Ya ini adalah wujud dari menampakkan muka kepada penggerak. Antusiasme tidak terlalu dianggap penting dibanding dengan titah yang ada untuk mengikuti acara tersebut.

Akhirnyak Pesta Rakyat Trenggalek 2016 ini masih banyak menyisakan pertanyaan bagi saya. Judul even yang dipakai rasanya belum bisa mewakili semangat yang ada, kalau berharap UMKM bisa menggeliat dengan acara seperti ini. Barangkali masih jauh panggang dari api. Barangkali lagi, ini terjadi karena rakyat Trenggalek yang sebenarnya malah tidak bisa ikut festival, sedang orang-orang dari luar Trenggalek sekarang sedang menikmati hasil dari penjualan mereka, lantaran mengeruk keuntungan dari rakyat Trenggalek di even kemarin. Ya, acara ini benar-benar sukses (untuk kategori terakhir itu).