Trenggalek-Sourthern-Frontage

Peradaban dimulai dari tepi perairan, maka berpalinglah ke perairan, jika ingin meneguhkan ketertinggalanmu.

Kawasan selatan Kabupaten Trenggalek  terdiri dari 3 kecamatan yang bersandingan dengan samudra Hindia, yakni Kecamatan Watulimo, Kecamatan Munjungan dan Kecamatan Panggul. Sekitar 96 kilometer panjang garis pantai membentang dari Kecamatan Watulimo hingga Kecamatan Panggul. Berpuluh teluk dan tanjung membentuk kontur pantai yang bervariasi. Ombak yang berdeburan bergantian menghempas pesisir dan karang, khas pantai selatan.

Lebih dari 270 ribu penduduk mendiami tiga kecamatan tersebut, atau sekitar 32% dari total populasi penduduk Kabupaten Trenggalek yang berjumlah 830 ribuan. Serupa dengan topografi pada kecamatan-kecamatan lain di Trenggalek yang bergunung-gunung, ketiga kecamatan paling selatan tersebut juga dikelilingi oleh pegunungan yang—tepung gelang. Karena dikelilingi oleh gunung dan laut itulah maka mayoritas penduduknya berpenghidupan sebagai petani dan nelayan. Cengkih, durian, manggis, kelapa, berbagai varietas pisang, salak, jengkol, petai dan bermacam produk perikanan (tangkap) di Trenggalek, utamanya dihasilkan oleh ketiga kecamatan ini.

Eman-e. Pemerintah Kabupaten Trenggalek sepertinya belum memiliki konsep yang matang dan menyeluruh untuk mengungkit gairah perekonomian kawasan selatan ini. Padahal, jika dibanding kawasan yang lain, kawasan selatan inilah yang terhitung paling siap menyambut umpan pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor pariwisata.

Berbeda dengan Kabupaten Banyuwangi—yang memiliki kemiripan karakter kewilayahan dengan Trenggalek—dan telah mengedepankan infrastruktur kepariwisataan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonominya. Kabupaten Trenggalek masih belum memiliki greget yang sama. Janji untuk mendongkrak kawasan selatan sebagai “serambi depan Trenggalek” baru sebatas retorika kampanye; masih sebatas window dressing alias pencitraan belaka. Tidak ada sama sekali yang secara fundamental menyentuh fisik dan pemberdayaan masyarakat dalam hal kepariwisataan.

Bagaimana bukan pencitraan belaka, ketika bermiliar rupiah dihamburkan untuk mendatangkan artis-artis ibu kota dan sorotan media televisi, bukan untuk memberdayakan masyarakat/UMKM dengan pelatihan-pelatihan keterampilan/studi lapangan dan membangun infrastruktur yang mendukung kepariwisataan. Sayang sekali!

Segitiga Pertumbuhan

Menarik sekali, jika membayangkan adanya interaksi ekonomi yang intensif antara Munjungan dan Watulimo—sebagai penghasil komoditas pertanian dan perikanan—dengan Kampak sebagai pusat perdagangan yang mengakomodasi semua transaksi jual belinya. Kampak, sebagai sentra dagang terdapat pasar agro yang menjadi jujugan para pembeli dan penjual hasil-hasil pertanian. Akan ada juga gudang cold storage kapasitas besar yang menampung hasil-hasil perikanan Munjungan dan Watulimo, dan melayani pembeli dari dalam dan luar Trenggalek.

Sangat indah membayangkan aktivitas pertukaran barang dan jasa dari ketiga kecamatan kawasan selatan ini untuk menggerakkan sumbu perekonomian yang tetes-tetes-nya juga dinikmati oleh kawasan/kecamatan lainnya. Sebuah segitiga imajiner dengan Kampak sebagai pusat perdagangan dan bursa komoditas, sedangkan Munjungan dan Watulimo berperan sebagai kaki-kaki yang menopang suplainya.

Namun itu semua kini masih sebatas khayalan. Yang terjadi saat ini adalah semacam ketidak-paduan konsep pembangunan yang menyebabkan kurang optimalnya interaksi ekonomi antarkecamatan di Trenggalek ini. Infrastruktur jalan penghubung antarkecamatan yang tidak layak, menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi. Meski pada periode kepemimpinan bupati sebelumnya, telah dibangun pasar agro di Kampak, penjual hasil laut dan hasil bumi dari Watulimo lebih memilih pergi ke Campurdarat (Tulungagung), karena akses ke sana lebih layak daripada ke Kampak walau jarak tempuhnya sama.

Para penjual kelapa dari Munjungan dan Watulimo lebih suka mengirim langsung barang dagangannya ke Pasar Ngemplak, Tulungagung, ke Nganjuk, ke Ponorogo, bahkan ke Madiun.  Para penjual pisang mengirim pisangnya ke Kediri, Kertosono atau ke Nganjuk. Begitu pula yang terjadi pada cengkih, gabah dan hasil pertanian/perkebunan lainnya. Hasil laut segar yang mendarat di Watulimo dan Munjungan masih melayang ke Tulungagung (Campurdarat), karena di sana terdapat fasilitas gudang (cold storage) yang memadai. Para bakul iwak dari Kecamatan Dongko masih harus membeli barang dagangan langsung ke Munjungan ataupun ke Watulimo bahkan ke gudang pendingin Campurdarat.

JLS/Pansela

Trenggalek-Sourthern-Frontage

Rencana pemerintah pusat membangun Jalan Lintas Selatan (JLS/Pansela) yang sebagian ruasnya melintas di kawasan selatan kabupaten Trenggalek, tentu harus disambut dengan baik. Kehadiran jalan nasional nantinya diharapkan mampu mendongkrak geliat ekonomi kawasan selatan Jawa, termasuk Kabupaten Trenggalek. Kawasan selatan Trenggalek yang menyimpan banyak sekali potensi ekonomi diprediksi akan tumbuh pesat seiring dengan terbukanya isolasi dan hambatan geografis. Distribusi hasil-hasil pertanian dan perikanan akan menjadi lancar dan murah. Sektor jasa pariwisata berikut sub sektor yang menyertainya akan juga melesat. Akan banyak sekali angkatan kerja yang terserap dan terberdayakan dari sektor ini.

Akan tetapi, selain mendatangkan keuntungan, koneksitas dan kemajuan Kawasan Selatan setelah Jalan Nasional nanti terbangun juga menyimpan tantangan yang nyat: Kampak yang tertinggalkan. Bagaimana tidak tertinggalkan jika nanti mobilitas dan aktivitas ekonomi warga Kecamatan Munjungan lebih banyak ke arah Watulimo lalu ke Campurdarat. Padahal selama ini, Kampak-lah yang mendapat berkah transaksi ekonomi dari mobilitas warga Munjungan. Hingga saat ini, Kampak-lah yang menjawab kebutuhan warga Munjungan akan bahan-bahan bangunan, sembako dan komoditas lainnya.

Saat ini jalur Munjungan-Kampak memang masih satu-satunya opsi bagi mobilitas warga Munjungan, tapi nanti setelah terbangun jalan nasional, jalur tradisional ini akan menemui ber-puluh alasan untuk ditinggalkan.

Peran Pemerintah

Untuk menangkap potensi ekonomi dan menjamin keberlangsungan interaksi perekonomian kawasan selatan dengan Kampak, solusinya adalah dengan membangun infrastruktur jalan yang layak. Ruas Kampak-Watulimo (Sebo) harus diperlebar dan diperbaiki geometri jalannya sehingga nyaman dan aman dilintasi angkutan hasil pertanian/perikanan dari Watulimo, begitupun dengan ruas Munjungan-Kampak.

Ada beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan oleh pemerintah Kabupaten Trenggalek untuk meningkatkan akses Munjungan-Kampak ini, yaitu: (1) memperbaiki geometri jalan eksisting, (2) meningkatkan kelas jalan ruas tersebut menjadi Jalan Propinsi, dan (3) membangun jalan baru Munjungan-Kampak menembus Desa Bangun, Munjungan-Desa Karangrejo, Kampak. Namun dengan APBD yang seuprit yang didominasi oleh porsi belanja pegawai, maka “mimpi” yang paling masuk akal adalah opsi nomor 2, dengan meningkatkan kelas jalan menjadi jalan propinsi.

Peran pemerintah untuk menjawab semua peluang maupun tantangan tersebut adalah dengan merumuskan kebijakan pembangunan yang menyeluruh. Meningkatkan kualitas akses jalan ke Kampak dari/ke Watulimo dan Munjungan, serta menjadikan Kampak sebagai pusat jasa dan perdagangan. Pemerintah Kabupaten Trenggalek perlu mengoptimalkan segala daya dan upaya untuk mengungkit gairah masyarakat kawasan selatan memproduksi barang dan jasa, mendukungnya dengan fasilitas infrastruktur yang layak serta menjamin interkoneksi antarkecamatan.

Pertumbuhan ekonomi riil yang hebat bukanlah hal yang mustahil di Bumi Menaksopal tercinta ini: dengan kawasan selatan sebagai bahan bakarnya, jika ada goodwill dari Pemerintah Kabupaten Trenggalek tentunya.  Spirit untuk maju bersama hendaknya menjadi roh dalam grand design pembangunan di Trenggalek. Diperlukan visi dan kejelian untuk menangkap setiap detail potensi dalam perspektif penataan kawasan selatan Trenggalek. Sekarang, apakah Pemerintah Kabupaten Trenggalek mau dan mampu menjawab tantangan yang sudah di depan mata ini? Apakah Pemerintah Kabupaten Trenggalek bisa menangkap letupan gairah pembangunan kawasan selatan?

Bukan jargon retorik ataupun segala pencitraan, melainkan kejujuran dan kerja nyata-lah yang mendasar dibutuhkan jika kita tidak ingin dikenang anak cucu kita sebagai leluhur yang  melempar handuk putih, melambaikan tangan, dan bangga menahbiskan diri sebagai kabupaten paling tertinggal di selatan Jawa. Wolo-wolo kuwato.

TINGGALKAN KOMENTAR