Media jurnalisme warga terbaik Tahun 2022 versi AJI

Media jurnalisme warga terbaik Indoensia Versi AJI

Tak Usah Khawatir, Bibit-Bibit Baik akan Tumbuh

Entah siapa yang berkata, tapi perkataannya itu sungguh melekat dalam ingatan saya. Meski tidak sama persis dengan redaksi aslinya, namun inti sarinya telah saya dapatkan. Jadi begini narasinya: “Ilmu adalah hasil perburuan, dan tulisan adalah tali pengikatnya, ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat”.

Kalau tidak salah versi Arabnya berbunyi begini:

العِلْمُ صَيْدٌ وَ الْكِتَابَةُ قَيْدُهُ # قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَةِ

Sebuah analogi yang cerdas itu memberikan pemahaman kepada kita, “jikalau engkau berburu rusa hidup lantas tidak engkau ikat dan engkau biarkan saja, lantas untuk apa engkau berburu, karena ia akan lepas?” Begitu juga dengan ilmu, ia akan terlupakan.

Pak Pram (Pramoedya Ananta Toer) jauh-jauh hari juga berkata: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Kita sebagai penulis tentu mengenal Pak Pram, meski belum pernah bertemu. Melalui buku yang telah ia karang, kita menjadi tahu alam pikiran Pak Pram.

Nggalek.co, 6 tahun lalu dibentuk, akan tetapi bukan karena terilhami oleh dua quotes tersebut. Nggalek.co dibuat karena ketidaksengajaan, yang justru bisa bertahan sampai sekarang.

Memang nggalek.co pernah mati dan terlupakan, namun bagaimanapun juga, jika belum saatnya mati, maka tidak ada kematian. Saat itu saya mengira nggalek.co punya ilmu Rawarontek atau Ilmu Pancasona, ilmu yang konon bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati. Dalam serial Naruto, dikenal dengan jurus Edo Tensei, ah Gendeng.

Anak-anak muda itu butuh ruang untuk menyuarakan kata hatinya, bukan hanya melalui lisan, namun juga melalui tulisan. Kadang anak muda belum terlalu lihai berbicara secara lisan, atau memang belum terlalu kendel karena forum-forum di Trenggalek belum terlalu ramah dengan suara-suara anak muda, atau karena orang tua kebanyakan masih terlalu ingin bersuara. Entah suaranya apa, tapi memang orang tua gemar sekali berbicara di forum.

Anak-anak muda jadi grogi ketika menghadapi orang tua semacam itu, merasa haknya telah didominiasi oleh senioritas, mau bicara jadi takut salah, takut dianggap belum berpengalaman, maka terkadang mereka memilih untuk bersuara melalui tulisan atau pamflet-pamflet. Berharap suara mereka bisa didengar, meski terkadang juga mubadzir.

Orang-orang jarang ingin membaca tulisan orang-orang kecil, karena masih dianggap remeh. Berbeda dengan tulisan Dahlan Iskan, misalnya, ia akan selalu dibaca, karena ia orang hebat.

Nggalek.co masih eksis sampai sekarang. Saya sering mendapatkan notifikasi tulisan baru telah terbit, saya suka senyum-senyum sendiri jika mendapatkan notifikasi semacam itu. Enam tahun silam (hingga 4 tahun lamanya), setiap tulisan yang terbit di nggalek.co adalah buah postingan saya, itu setelah tulisannya diedit Misbahus Surur.

Sekarang nggalek.co punya punggawa baru. Mereka, (orang-orang baru ini), seperti oase di tengah padang pasir. Mereka datang untuk meneruskan apa yang telah dicita-citakan nggalek.co dulu.

Malah saya sangat jarang menulis di nggalek.co, bahkan saya membuka dashboard-nya hanya ketika akan meng-update piranti software yang ada di dalamnya. Saya tidak lagi memilih gambar-gambar yang sesuai dengan tulisan para penulis. Betul, semua itu karena nggalek.co punya punggawa baru, bukan main senangnya saya.

Dulu saya dan kawan-kawan punya pikiran pesimis terkait keberlanjutan laman web ini. Siapa yang akan melanjutkan cita-cita mulia itu? Melihat satu persatu teman protol (tak mau ikut cawe-cawe dengan keberlangsungan nggalek.co) oleh sebab waleh atau telah sibuk dengan kehidupan barunya. Saya sendiri hampir kewalahan memikirkan keberlangsungannya.

Maret tanggal 28 tahun 2018, Misbahus Surur, orang kunci di nggalek.co yang membentuk wajah web ini sedemikian rupa, menulis artikel yang membuat saya naik pitam. Ia menulis Menanti Nggalek.co Gulung Tikar, kemudian saya mengomentarinya dengan tulisan lain berjudul Menunda nggalek.co Bubar yang kemudian dibalas oleh teman-teman lainnya.

Dian Meiningtias, menulis Meruntuhkan Nggalekdotco dengan Semangat Sumpah Pemuda, tulisan itu ditertibkan pas momen sumpah pemuda. Lalu Roin J Vahrudin, menimpali dengan tulisan Apa Untungnya Menulis di nggalek.co? Choirur Rokhim, juga menulis Hidup Segan, Mati Tak Mau. Semua tulisan yang secara membabi buta ditulis untuk memberikan otokritik terhadap portal web bersemboyan “Njajah Desa Milang Kori” ini.

Nyatanya tulisan-tulisan itu menjadi sebuah do’a untuk membunuh nggalek.co secara sengaja. Malam itu saya, Misbahus Surur, dan Edy Pang (tidak pernah menulis di nggalek.co namun berkontribusi membuat logo), bersepakat untuk menyudahinya.

Teman-teman lain yang pernah membentuk dan turut andi dalam melahirkan nggalek.co, telah pergi jauh-jauh hari (pergi tanpa pamit melalui sikap acuhnya). Keputusan untuk mati itu benar-benar terwujud sampai akhirnya beberapa bulan kemudian waktu saya bekunjung ke kediaman Misbahus Surur (rumah istrinya), kami sepakat untuk membuka kembali.

Lantas saya berkesempatan bertemu dengan Wahyu AO. Saya mengeja namanya ketika ia mengirimkan artikelnya di nggalek.co, lalu bertemu secara tatap muka beberapa tahun setelah itu.

Wahyu datang dari perantaun (kuliah) yang namanya bersinar di Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) sebagai Badan Pekerja Advokasi Nasional. Nggalek.co seperti mendapatkan rejeki nomplok, Wahyu kemudian menjelma menjadi punggawa baru bagi nggalek.co.

Saya punya keyakinan, baru-baru saja ditemukan melalui pengalaman sendiri, begini bunyinya “tak usahlah khawatir siapa yang akan menjadi penerus perjuangan, jaman akan membentuknya sendiri”. Presiden Soekarno ketika dintanya oleh wartawan Amerika, Cindy Adams, “Bagaimana pendapat Anda tentang suksesor, apa yang terlintas di pikiran Anda?” Lantas dengan tegas Soekarno menjawab “Tidak, suksesor tidak pernah ditunjuk, dia tumbuh bersama bangsa itu”. Jadi jelas-lah, sebenarnya kita tak perlu risau dengan kelanjutan dari cita-cita yang telah dibuat, selama cita-cita itu mengarah pada ideologi yang benar.

Wahyu tidak datang sendirian, jejaringnya di luar sana banyak, ada anak-anak mahasiswa dan aktivis, dia juga kenal beberapa mahasiswa asal Trenggalek yang kuliah di luar kota. Ke depan, anak-anak ini turut andil dalam pengembangan nggalek.co, merawatnya supaya tetap ada.

Sebut saja Vina, perempuan penunggang CB bermesin Mega Pro. Saat ini, nggalek.co banyak aktivitas, di antaranya diklat jurnalistik yang diikuti mahasiswa-mahasiswa di luar kabupaten Trenggalek.

Saya wajib menaruh respek terhadap anak-anak yang sebenarnya punya masa depan cemerlang jika mereka mau mendaftar jadi PNS. Harus saya akui, mereka pintar-pintar dan juga kreatif. Kalau soal membuat narasi, mereka pintar dan tak perlu diajari, sudah hebat sejak di kampusnya.

Mereka memilih nggalek.co untuk pelabuhan awal setelah mereka berhenti kuliah, itu merupakan keputusan yang wajib diapresiasi. Semua orang tahu, mengelola nggalek.co sama sekali tidak ada pendapatan ekonomi, tentu mereka semua tidak mendapatkan upah. Nggalek.co dikelola secara swadaya serta tidak memasang iklan, memang sejak awal diniati seperti itu.

Nggalek.co adalah kandang, bagi buruan-buruan yang telah diikat, jika keberadaannya tetap dijaga, maka kelak, orang seperti saya ketika diberi umur panjang, akan bisa membaca tulisan-tulisan saya ini. Ada beberapa tulisan yang sudah dibukukan, dan semoga bisa dibukukan semua. Asalkan ada jiwa-jiwa tersesat yang mau untuk meneruskan cita-cita bersama, mewujudkan Trenggalek memiliki portal literasi yang bisa dibanggakan, saya dan kawan-kawan akan pergi dengan tenang.

Artikel Baru

Artikel Terkait